Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Maaf


__ADS_3

Ke esokan harinya.


“Minggu ini, Kakek dan Nenek tidak sibuk, kamu mau weekend ke mana?” tanya Arnel saat mereka sedang menikmati sarapan.


“Di rumah aja.” sahut Satria datar.


“Kamu yakin gak ingin ke mana-mana?” timpal Aira.


“Gak. Jimi sama Akbar mau nginap di sini, selama libur sekolah.” sahutnya, tanpa meminta pendapat Nenek dan Kakeknya, apakah kedua orang tua itu mengizinkan tamu menginap.


“Memangnya mereka sudah minta izin?” tanya Aira.


“Gak tau. Bukan urusanku.” jawabnya.


Aira dan Arnel hanya bisa tersenyum sumbang mendengar.


Satria menyelesaikan sarapannya, meminum segelas susu hangat. “Satu bulan lagi ulangtahun ku yang ke 17 Tahun. Aku mau hadiah.” ucap Satria tiba-tiba.


“Tentu saja Nenek dan Kakekmu ingat, kami tak akan melupakan hadiah untukmu, kali ini kamu mau hadiah apa?” tanya Aira lembut.


“Nanti ku beritahu.” Melap mulutnya dengan tisu, lalu berjalan pergi meninggalkan Nenek dan Kakeknya.


Benar-benar tidak sopan, siapa suruh memanjakan dia sejak kecil!


“Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Arnel.


“Dia sama sepertimu dulu, ini semua gara-gara kau memanjakannya!”

__ADS_1


Arnel memasukkan sarapannya ke dalam mulutnya, sampai mulutnya penuh, tak ingin menjawab apapun, karena ujung-ujungnya dia akan di salahkan. 'Pasal satu, perempuan selalu benar, pasal dua, jika perempuan salah, kembali ke pasal satu.'


Jika tak suka dengan pasal itu, silahkan tidur di luar, bergelung angin malam yang dingin tanpa pelukan hangat Aira. Oh, No! Arnel tak bisa.


**


Satria duduk di teras, melihat Nurbaya yang menyirami bunga di halaman depan. Gadis itu juga curi-curi pandang. Namun sok jual mahal, di karenakan ia merasa marah karena terhina semalam oleh pemuda nakal itu.


“Apa lihat-lihat?!” Memelototkan mata.


“Iih, siapa yang lihat, Kakak. Aku tuh, cuma lihat Mang Asep memotong bunga, dia hebat bisa mengukir seperti Istana Disneyland, gitu.” elak Satria.


Nurbaya mendengus sebal. Wajahnya merah padam, malu, salah tingkah. 'Aaaaahhh! Menyebalkan, dasal Bocah Nakal!'


Drrt! Drrt! Handphone Nurbaya berdering.


[Warna hijau, ya?]


Seketika asap seperti menyembur dari ubun-ubunnya,


Ia langsung meletakkan ceret penyiram bunga, menjewer telinga Satria sekuat-kuatnya. “Dasar Bocah Mesum, kau bilang tak melihatku, tapi apa itu yang kau lihat, hah?!” ucap Nurbaya berapi-api.


“Aduh, sakit, Kak! Memangnya aku salah apa? Bukankah halaman ini memang berwarna hijau?” sahut Satria.


Deg! Semakin merah padam wajah Nurbaya. Malu.


“Bocah Nakal!” pekiknya, Nurbaya memukuli lengan Nurbaya.

__ADS_1


“Nurbaya, apa yang kau lakukan? Kenapa kau memukuli Tuan Muda seperti itu?” seru Bi Mona yang baru saja membawa cemilan potongan buah untuk Satria.


“Hiks...Hiks... Hiks....” Nurbaya menangis, lalu berlari sekencang-kencangnya.


“Kakak!” Satria mengejarnya.


Nurbaya berlari ke kamar, mengunci kamar itu.


“Kakak!” panggil Satria.


“Kakak, maafkan aku,” kata Satria lirih.


“Kakak...”


Satria terdiam di pintu kamar Nurbaya.


Kenapa Nurbaya bisa menangis? Gadis itu sangat malu, malu pada dirinya sendiri yang berpikiran macam-macam, malu karena mulai terbiasa dan candu akan sentuhan Satria, sedangkan pemuda itu biasa saja, bahkan barusan pemuda itu mengatakan halaman yang berwarna hijau, sedangkan ia berpikir hijau adalah warna pakaian dalamnya.


Seandainya Nurbaya tau, Satria merasakan hal yang sama seperti dirinya, berdebar-debar, malu, namun pemuda itu harus lebih berani, karena selama ini, jika ia mengalah dan tak menundukkan rasa egonya, ia tak akan sampai pada tahap ini. Tahap mendekati Nurbaya.


Hijau yang ia katakan, memang benar, ia tanpa sengaja melihat pakaian dalaman Nurbaya saat ia merunduk. Jadi, ia hanya iseng seperti biasa, namun tak di sangka Nurbaya malah menangis.


Sekarang pemuda itu merasa sedih dan menyalahkan dirinya sendiri.


“Kak, maafkan aku. Maaf, aku tidak akan bercanda seperti itu lagi. Maaf.” Ia tertunduk lesu.


***

__ADS_1


__ADS_2