
Hai Satria Lovers 🤗 Team Erian, Melani, Nurbaya atau Satria Nih?
Oh ya, kalau bisa, bacanya habis berbuka puasa aja ya Reader, takutnya ada yang baper dan halu. Author tidak bertanggung jawab jika puasanya batal karena hal itu, hihihi 😂😂🙏
Eh, tunggu, Minal Aidzin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin. Selamat berpuasa ya, bagi yang menjalankannya🙏
_______________________
Pucuk rasa telah terlukiskan di lengkungan langit sore. Kemilau warnanya merias wajah Satria, rasa cinta yang begitu dalam telah tertitipkan pada langit yang sejuk sore ini.
Semua temannya bersorak, bersiul. “Cuwit! Cuwit!” Bahkan tepukan tangan juga.
Percuma, Satria bergeming pun tidak, rasanya kini telah melampaui batas logikanya. Di sini, tepat di hatinya, rindu yang menggerogoti kalbu telah tersirami.
Ciuman yang cukup lama. Sweet, hangat dan mendebarkan.
Nurbaya mengambil nafasnya. Begitu lama dan bersemangat, antara marah, kesal, dan mengadukan rasa sedihnya. Namun dengan mencium Satria, perasaannya sedikit lega dan terobati.
“Aku bukan wanita kelainan sex.” gumamnya sangat pelan, namun Satria mendengarnya dengan jelas.
Satria mengangkat dagu Nurbaya, lalu kembali menciumi gadis itu kembali.
“Uuuuuuuu....!!!” sorakan demi sorakan terdengar. Entah sorakan iri atau yang lainnya.
Setelah melepaskan ciumannya, Satria langsung menggandeng tangan Nurbaya, lalu melempar bet nama kehadapan ketua kelas. “Gue cabut dulu, guys!” ucap Satria.
“Sono, sono Lu! Kasihan yang jomblo lihat adegan yang gak ada akhlak itu.” seloroh ketua kelas. Satria hanya melemparkan senyuman jahilnya.
Satria bergandengan tangan menuju ke mobil, di mana Pak Hamdan telah menunggu.
Mereka masuk ke dalam mobil.
Satria bersikap biasa saja, berbeda dengan Nurbaya yang baru tersadar akan kegilaannya. Ia sangat ceroboh mencium Satria di lingkungan sekolah yang banyak memasang CCTV, kelakuan buruk yang baru kali ini ia lakukan.
“Nih, minum dulu.” ucap Satria menyodorkan botol minuman bekas nya.
Wajah Nurbaya sudah memerah seperti kepiting rebus. “Aku gak mau sisamu.” tolaknya.
Satria tersenyum menggoda. “Minuman sisa gak mau ya, tapi bibirku mau kan, Kak?”
!!!
Woooowwww!!! Nancep, pas banget Satria!
“Apa sih!” Nurbaya membuang muka, menghadap kaca, malu banget.
“Pak, aku mau ke Villa, antar kami ke sana ya.” perintah Satria pada Pak Hamdan.
“Baik, Tuan Muda.”
“Ngapain ke Villa? Bukannya pulang?” tanya Nurbaya bingung.
“Mau berduaan sama Kakak lah.” jawab Satria santai, sembari membuka bajunya yang basah karena keringat.
“Kamu ini sembarangan membuka baju aja sih!” protes.
“Huh?! Biasanya aku sering buka baju di hadapan Kakak kok, bahkan Kakak juga sering bantuin. Kenapa sekarang kakak malu dengan wajah merah seperti itu?” Satria menatap Nurbaya.
“Jangan-jangan, Kakak...” ucapan Satria terpotong.
__ADS_1
“Enak aja, enggak ya!!!” Melotot marah.
“Enggak apa?”
“Pokoknya gak seperti yang ada dalam pikiranmu!”
“Oh, berarti Kakak jatuh hati padaku?”
“Eh? Pikiran macam apa itu?”
“Tadi Kakak bilang, tidak seperti yang aku pikirkan.”
“Emangnya apa yang kau pikirkan, hah?”
“Aku berfikir, kalau Kakak telah memanfaatkanku. Apa Kakak di hina lagi sama pacarmu itu?”
“Tau ah, aku ngantuk.” Nurbaya mengalihkan pembicaraan. Mencari posisi nyaman untuk bersandar di mobil, lalu memejamkan mata.
Satria mengelus wajahnya, membuat mata Nurbaya kembali menyalang. “Mau apa kau?” tanyanya membelalak.
Cup! Mencium kening Nurbaya.
“Selamat tidur Kakak.” Tersenyum manis. Nurbaya melongo, ia mengira akan berciuman lagi.
'Si*l, jangan bilang aku kecanduan berciuman dengan bocah nakal ini!'
Nurbaya akhirnya benar-benar tertidur, bangun-bangun Ia sudah berada di dalam kamar, interior kamar yang elegan dan mewah.
Ia bangun dan keluar, mencari sosok pemuda yang baru saja masuk ke dalam ruangan dengan menenteng 2 kantong makanan.
“Kakak sudah bangun?” tanyanya, lalu meletakkan makanan di atas meja.
“Apa aku sudah lama tertidur, jam berapa sekarang?” tanya Nurbaya.
“Apa?!” Nurbaya terkejut.
“Jangan kaget begitu Kak, aku sudah memberitahu orang yang ada di rumah, kalau kita tidur di Villa.”
“Bocah nakal, beraninya kau mengatakan pada orang rumah kalau kita tidur di Villa. Kau kira aku ini apa?” Emosi.
“Kakak ku.”
Eh?
'Apa-apa-an ini? Perasaan konyol apa ini? Yang dikatakan Satria benar, aku dan dia hanya Adik dan Kakak. Bukan sepasang kekasih atau lainnya, kenapa aku jadi canggung begini sih?'
“Emangnya menurut Kakak, Kakak itu adikku ya?” tanya Satria berwajah polos.
“Sembarangan!”
“Ini rasakan, Aku Kakakmu tau!” Mencubit pipi Satria.
“Iya Kakak, sakit. Aku lapar, ayo kita makan.”
“Aku menunggu Kakak sejak tadi, tidurmu nyenyak sekali, jadi aku pesan saja makanan.” jelas Satria.
“Kenapa tak kau bangunkan saja aku?”
“Kasihan, Kakak tidurnya pulas sekali sih.”
__ADS_1
“Ya udah, ayo kita makan Kak, aku lapar sekali.” Langsung membuka bungkus makanan.
“Yaaah, kok cuma satu sih ayamnya?” protes Nurbaya setelah melihat bungkus makanan itu.
“Ini ayam buat Kakak.” Satria memberikannya pada Nurbaya.
“Lalu kamu?”
“Aku makan ini, dua buah telur bulat goreng, penambah stamina.” ucapnya tersenyum.
“Hei, kenapa kau makan dua telur?!!!” Nurbaya berteriak.
“Iiih, Kakak, kenapa sih berteriak-teriak? Sakit kuping ku!” Apa salahnya aku makan dua telur?”
“Kau....” Nurbaya menggantungkan ucapannya.
Pikirannya benar-benar sudah tidak benar lagi. Bukankah biasanya Satria juga sering memakan telur bebek saat Ia akan olahraga, biar lengannya berotot?
“Kakak kenapa? Habis berteriak, sekarang malah melamun? Apa kakak tidak suka bau telur? Kalau Kakak tidak suka, aku akan makan pakai kerupuk ini aja deh.” tunjuk Satria pada sebungkus kerupuk ubi pedas.
“Eng.. enggak apa-apa kok, makan aja. Tadi aku cuma, aku cuma kaget aja. Ya, ya, begitu. Biasanya kamu suka ayam, tapi malah makan telur. Aku kira kamu lagi nakalin aku. Hehehe.” ucap Nurbaya tersenyum canggung.
“Oh, begitu.” Kembali tersenyum.
“Bagaimana kalau Kakak suapi aku?” pintanya.
“Kau kan punya tangan, suap saja sendiri!”
“Baiklah aku akan menyapui Kakak.” langsung menyodorkan nasi ke mulut Nurbaya.
“Hei!!! Aku bisa makan sendiri!” Protes keras, namun akhirnya terpaksa memakannya juga.
“Sekarang Kakak suapi aku, gantian.”
“Kau ini sudah besar, tapi masih saja begini!” Menyuapi Satria sembari mengomel.
Melihat bibir Satria, saat pemuda itu mengunyah dan menelannya, membuat Nurbaya menelan salivanya. Pikirannya mulai kacau kembali, rasa ciuman yang tertinggal tadi sore, kemarin di dalam mobil, masih terasa.
Bibir yang seksi di hadapannya itu, bibir pemuda remaja yang ia anggap adik kecil.
“Kakak, nanti kita tidur sekamar ya.”
Uhuk! Uhuk! Nurbaya tersedak.
’Apa? Tidur sekamar?' Pikiran Nurbaya melayang-layang.
“Tidak boleh!”
“Kenapa? Biasanya kita sering tidur bersama. Apa Kakak tidak takut tidur sendirian di dalam kamar, Villa ini sering kosong loooohhh.” bisik Satria menakut-nakuti.
“Aku tak takut! Kau kira aku bocah penakut sepertimu!” Menepuk lengan Satria, pemuda itu nyengir.
Mereka pun selesai makan dan memilih tidur di kamar yang terpisah.
Di dalam kamar, Nurbaya merebahkan tubuhnya, masih termenung dengan semua yang ia hadapi tadi siang.
Wush! Wush! Angin berhembus menyentuh jendela kamar, bahkan gordennya juga bergerak sedikit.
Tit! Tik! Srek! Cklek! Bunyi sesuatu yang entah apa, Nurbaya tak tau. Bulu remangnya berdiri.
__ADS_1
“Satriaaaaaaaa!!! terpekik, berlari kencang mencari keberadaan Satria.
“Hehehehehehe.” Satria terkekeh setelah mengerjai Nurbaya dengan kain putih.