
“Sombong amat!”
“Bukan sombong Kakak ku, tapi ngomongin kenyataan.”
“Terserah.” Cemberut.
Satria terkekeh kecil melihat bibir monyong Nurbaya.
“Hm, Kakak mau langsung pulang atau siap-siap pergi ke Mall? Aku sudah mengabari Pak Hamdan buat antar dan jemput Kakak.”
“Aku hari ini berangkat sama Kak Dewa.” jelas Satria.
“Aku mau pulang, aku lagi kurang enak badan.” sahutnya sembari mengunyah sarapannya.
“Dasar pemalas, baru kerja dua hari langsung libur.” ejek Satria.
“Eh, bocah. Apa yang kau tahu tentang pekerjaan?”
“Aku?” tanya Satria dengan tersenyum mengejek.
Senyuman itu sangat menyebalkan dipandang oleh Nurbaya. Perkataan yang sangatlah bodoh yang ia ucapkan barusan. Jelas-jelas pemuda di hadapannya ini sudah belajar bisnis sejak kecil, bahkan SMP sudah latihan memegang proyek perusahaan.
Kakeknya, Arnel Harviz Damrah tak takut bermain-main, jika proyek yang diberikan pada cucunya itu gagal dan menghabiskan banyak uang. Namun, darah keluarga Damrah begitu kental melekat, kejeniusan keluarga mereka patut di acungi jempol.
Pemuda itu berhasil merintis usaha dari bawah, hingga sekarang ia masih SMA sudah di percayakan memegang anak cabang perusahaan Damrah Groub dan Hardwork Groub.
“Aku kan cewek, jadi wajar pemalas. Yang bekerja dan tanggung jawab itu laki-laki, karena dia akan menjadi suami.” Mencari pembelaan diri.
“Hm.” Satria menatap Nurbaya lama.
“Apa sih lihat-lihat! Cepat habiskan sarapannya!”
“Perkataan Kakak tadi benar.” ucapnya, memberikan jempol tanda setuju.
“Siapa dulu?!!” sahut Nurbaya sombong.
“Kalau begitu, aku harus bekerja lebih giat lagi, agar istriku yang pemalas itu bisa bersenang-senang.” Satria mengedipkan matanya pada Nurbaya.
Plak! Tepukan mendarat mulus di lengan Satria.
“Dasar bocah, ganjen kali! Nanti bintitan tuh mata, main kedip-kedip aja.”
“Yang dikedip kan calon istriku.”
“Dasar Anak kecil! Siapa yang akan jadi istrimu?”
“Kakak.” jawabnya santai.
“Ahahahah. Dasar anak kecil, sembarangan aja kalau ngomong. Cepetan habisin sarapannya, lalu pergi deh bekerja. Aku juga mau pulang.”
Satria pun patuh, menghabiskan sarapannya cepat dan pergi ke perusahaan bersama Sekretaris Dewa. Sedangkan Nurbaya juga bersiap sembari menunggu Pak Hamdan datang.
__ADS_1
Nurbaya pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, ia di berondong dengan banyak pertanyaan dari Mona.
“Kamu ngapain aja?”
“Kamu jahilin Tuan Muda lagi ya?”
“Ayo katakan sama Ibu, apa kamu bikin Tuan Muda ngambek?”
“Kemarin sore Tuan Muda cari-in kamu. Kalau bikin janji itu harus di tepati! Jangan ingkar janji!”
“Bu, kapan aku janji?”
“Kau ini banyak alasan, dasar usil.”
“Kasihan Tuan Muda, dia sangat baik, tapi kamu selalu aja jahilin dia.”
Bla... Bla... Bla...
Lagi, lagi dan lagi, hanya pembelaan dan pujian untuk Satria. Ujung-ujungnya Nurbaya akan di salahkan. Sudah biasa seperti ini!
“Ok, Bu. Aku udah baikan sama Satria. Jadi, Ibu gak usah bawel lagi. Dia sekarang sudah pergi ke kantor dan Pak Hamdan lagi nungguin aku, dia yang akan mengantarkan aku ke Mall.” ucap Nurbaya menghentikan omelan Bi Mona.
Mau tidak mau, jangankan tidur nyenyak di kamarnya, ia sekarang harus bersiap ke Mall karena tak ingin mendengar ceramah dari Ibunya, padahal ia berniat libur hari ini.
“Tau gitu, mending aku tidur di villa aja. Pulangnya sore-an. Aaaaahhh! Sebel!”
Sejak ia sampai di Mall, ia merasa di ikuti. Mulai dari ia ke toilet, bahkan saat makan. Dan kini, saat ia hendak pulang.
Ia berjalan dengan waspada menuju parkiran mobil di lantai bawah. Belum lagi jalanan sepi di parkiran. Ia sengaja menghidupkan musik, namun otaknya masih saja mengisyaratkan ketakutan dalam pikirannya.
Brak! Bunyi sesuatu di sudut sana, belum lagi ia terpijak mainan anak-anak yang bisa berbunyi.
“Aaaaaaaa!!!” Ia terpekik hebat, berlari sekencang-kencangnya menuju mobil yang di parkir Pak Hamdan.
Pak Hamdan menjadi khawatir, mendengar suara jeritan, lalu tak lama ia melihat Nurbaya berlari kencang. “Nona kenapa?” tanyanya menyusul.
“Tak ada apa-apa Pak, aku hanya terkejut.” jelasnya dengan nafas ngos-ngosan.
Pak Hamdan membukakan pintu mobil. Lalu, Nurbaya pun masuk ke dalam mobil itu.
Di salah satu tiang parkiran, seseorang bersembunyi dengan kameranya. Ia menatap mobil yang melaju itu sampai habis.
**
“Si*l! Apa masih lama? Aku mau pulang, aku ingin bertemu Kakak!” Satria melempar Dewa dengan kertas yang sudah ia kepal.
“Bukankah kau bilang cuma ada 2 rapat. Kau katakan selesai jam 2 paling lama? Sekarang sudah jam 8 malam, Kakak pasti sudah pulang.”
Ia pun menelfon Pak Hamdan.
__ADS_1
Bapak paruh baya itu mengangkatnya dan menjelaskan padanya, kalau Nurbaya sudah berada di atas mobil, sedang dalam perjalanan menuju ke rumah.
“Semua ini gara-gara kau, Bodoh!” Melempar Sekretaris Dewa dengan pena yang berada di atas mejanya.
Selesai rapat, Satria harus memeriksa kembali setiap laporan bersama Dewa sebelum menandatangani nya. Ia tak ingin ada kesalahan sekecil apapun, apalagi kini peluang ruginya sangat besar kalau ia tidak berhati-hati.
“Bagaimana kalau Tuan Muda menelfon Nona Nurbaya saja.”
“Kakak mana mau angkat!” jawabnya, namun Ia bergegas melakukan panggilan video call.
'Huh, enggak, enggak, tapi di telfon juga.' Sekretaris Dewa mendengus dalam hati.
“Apa?” Tiba-tiba Nurbaya mengangkat. Menjawab dengan suara melengking, tak mesra sedikit pun.
Matanya terbelalak, Ia melihat Nurbaya memakan stok cemilan yang ada di dalam kotak, tersimpan di bawah kursi mobil.
“Kakak apa yang kau lakukan?”
“Menghabiskan cemilan mu, dasar anak kecil, begitu banyak permen di sini.” Memamerkan makanan itu.
“Kakak tutup kotak itu!” seru Satria.
“Pak Hamdan, aku sudah bilangkan, aku tidak suka kotak itu di buka siapapun!” Berteriak marah.
“Pak Hamdan gak denger tuh! Blek!” Nurbaya menjulurkan lidahnya.
BIP!! Telepon mati sepihak.
Kring! Kring! Suara dering telepon pak Hamdan berbunyi dan itu adalah Satria.
“Pak, ambil kotak itu dari Kakak. Awas saja kalau Bapak tidak mengambilnya,” Berkata penuh ancaman.
“Dasar bocah pelit! Makanan saja pelit. Orang kaya pelit!” umpat Nurbaya.
Ia segera menutup kotak itu dan Pak Hamdan mengambil kotak itu, meletakkannya di depan.
'Cih! Awas saja bocah nakal itu, berani-beraninya pelit sama aku!'
Di seberang sana.
Satria berdebar-debar. Khawatir sesuatu di dalam kotak itu akan terlihat oleh Nurbaya.
“Kak, aku mau pulang sekarang!” Ia langsung berdiri.
“Eh, tunggu. Ini belum selesai, Tuan Muda.” jawab Sekretaris Dewa.
“Kau bawa pulang, atau kerjakan di rumahku. Cepat, antar aku pulang!” perintahnya.
Sekretaris Dewa terburu-buru berkemas, menyandang tas yang isinya laptop dan hal penting lainnya, serta beberapa berkas yang di pangku di tangannya, berjalan mengekori Satria dengan kepayahan.
Mereka memakai lift khusus, mobil Sekretaris Dewa yang terparkir di sana, telah menyambut mereka saat keluar dari lift itu.
__ADS_1