
Mentari sedang mengintip malu-malu di balik gorden jendela kamar, sepasang suami istri yang baru saja melakukan malam indah itu masih bergelung di dalam selimut. Tak ada yang membangunkannya, bahkan Sekretaris Dewa hanya diam menunggu di meja makan.
Tangannya sibuk mengetik layar handphonenya, mungkin pesan dari bawahannya.
Tak lama, terpaan sinar mentari menyinari wajah Nurbaya, ia pun mengernyit, sedikit menggeliat, melihat makhluk Tuhan yang begitu sexsy dan tampan di hadapannya sedang tertidur pulas. Pipinya tiba-tiba menjadi merah dikala mengingat seberapa nakalnya pemuda yang dihadapannya ini.
Ia berniat bangun, namun tubuhnya terasa remuk, belum lagi sisi sensitifnya terasa perih dan mengganjal. Perlahan ia bangun, ia menarik bajunya yang berserakan dilantai, menutupi dada dan ***********, lalu bergegas ke kamar mandi.
Ia pun mandi, menggosok seluruh tubuhnya yang terlihat aneh, ‘Parah, sampai seluruh tubuhku merah begini? Dasar bocah nakal.' gumamnya, tapi berucap sambil tersenyum malu.
Saat ia keluar dengan lilitan handuk di tubuh, Satria sudah berdiri di ambang pintu, lalu memeluknya, “Sudah mandi, ya? Padahal aku ingin mengajak mandi berdua.” ucapnya dengan senyum menggoda.
Satria mengangkat dagu Nurbaya yang merunduk malu. Mengecupnya cepat. “Ayo, mandi lagi.” Ia langsung menarik pinggang Nurbaya ke pelukannya, menyodorkan sesuatu yang sudah terasa di bawah sana. Nurbaya terkesiap.
__ADS_1
Ia menelan salivanya. Begitupula dengan Satria sudah mulai bergerilya di tubuhnya, menyapu setiap inci tubuh itu dengan kecupan hangatnya. Nafas mereka berdua pun sama-sama memburu, hingga kedua tangan berotot Satria memangku tubuh Nurbaya kembali keranjang.
Pagi ini, mereka kembali bermandikan kasih dan cinta yang penuh gairah.
**
Nurbaya dan Satria terbangun siang hari, Pemuda itu sibuk menekan ponselnya, sedangkan Nurbaya masih menatap pemuda itu dengan tersenyum.
'Apa mungkin, aku telah jatuh cinta padanya, sepeti yang Roro bilang waktu itu?' pikir Nurbaya.
Roro adalah seorang pelayan yang sama besar dengan Nurbaya, ia telah mengabdikan dirinya di sini kurang lebih sudah 10 tahun, semenjak ia tamat SMA, kini ia sudah menikah dan baru saja memiliki seorang putra.
Nurbaya kembali mandi, membersihkan dirinya yang terasa lengket. Setelah ia mandi, Satria juga masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Nurbaya memakai pakaiannya, lalu merapikan kasur, memasukkan seprai dan selimut ke dalam keranjang kain kotor. Mengganti dengan alas baru.
Ia lama menatap seprai berwarna putih itu, tak ada bercak darah seperti di dalam film yang ia tonton. Tidak ada sedikit pun bercak noda darah.
Ia duduk termenung di tepi ranjang. Satria langsung memakai pakaiannya, terburu-buru keluar tanpa meninggalkan kiss seperti biasa untuknya.
Ia menyusul turun ke bawah, namun Satria bergegas, ia hanya minum susu hangat, lalu pergi dengan Sekretaris Dewa. Ada perasaan aneh yang menghantam ulu hatinya. Kenapa pemuda itu dingin padanya? Apakah ia marah, karena tak ada noda merah di seprainya?
Bukankah semalam dan tadi pagi mereka melakukannya dengan perasaan senang, lalu kenapa sekarang begini? Nurbaya langsung berpikir yang tidak-tidak.
'Ini adalah pengalaman pertamaku, kenapa sih tak berdarah! Apa bocah nakal itu akan seperti itu terus? Ah, baiklah, aku harus berpikir positif, mungkin dia terburu-buru, ada masalah dikantor, mungkin besok ia tak akan seperti itu. Iya, kan?' Nurbaya bergumam dalam hati.
***
__ADS_1