Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Brownies


__ADS_3

Pagi yang cerah, jauh di atas sana sang mentari mengintip malu-malu, sedangkan aroma sarapan semerbak memenuhi rongga hidung, tercium sedap tumisan dari sana.


Pemuda tampan dengan pakaian putih abu-abu, duduk bersama Nenek dan Kakeknya di ruang makan. Wajahnya berseri-seri, seperti menang tender sebuah proyek di cabang perusahaan yang ia pegang.


Bi Mona meletakkan sarapan nasi goreng udang dengan di bubuhi telur ceplok dan timun di atasnya.


“Kakak mana, Bi? Gak ikut sarapan?”


“Ada, Tuan Muda. Sarapan di belakang,” sahut Mona. Satria pun mengangguk.


Selesai makan, Ia berjalan ke arah dapur mencari Nurbaya, tapi tak ada. Meja makan di dapur sudah kosong. Ia kembali berjalan ke halaman belakang. Di sana, gadis itu sedang melakukan peregangan dengan telinganya memakai handset.


Nurbaya berdiri dengan satu kaki dengan tenang, kaki satunya lagi ia tarik ke belakang dengan satu tangannya, sehingga lututnya membentuk sudut lancip ke bawah.


Satria memeluknya dari belakang, Nurbaya terkejut dan tak bisa menahan tubuhnya, sampai Satria memeluk penuh tubuhnya untuk menopang tubuh itu.


Nurbaya membuka Handset, “Dasar bocah nakal! Datang-datang ngagetin aja!” Ia mendorong tubuh Satria, lalu berjalan ke kursi panjang di dekat halaman itu. Pemuda itu juga mengikuti.


Nurbaya meminum air mineral di dalam botol, Satria masih saja duduk di sampingnya, melihatnya.


“Jam berapa sekarang? Bukankah hari ini kau ujian kenaikan kelas? Kenapa masih santai di sini?”


“Mau minta izin sama Kakak.” jawab Satria tersenyum manis.


“Ya sudah, cepat pergi. Nanti kau telat!” usir Nurbaya.


“Aku mau minta sesuatu!”


“Apa?” Mata Nurbaya mendelik.


Satria semakin mendekatkan tubuh dan wajahnya, sampai hembusan nafasnya yang mint itu bisa tercium oleh Nurbaya. Ia menyentuh bibir Nurbaya, lalu berkata,


“Aku ingin ini.” Matanya masih menatap kulit berwarna coklat kemerahan yang bergaris-garis panjang ke bawah itu.


Glug! Nurbaya menelan salivanya. Tubuhnya terasa panas dingin saat jemari hangat Satria menyentuh kulit bibir bawahnya.


“Jika aku mendapatkan nilai bagus, aku ingin ini,” katanya sekali lagi, lalu berdiri dan memberikan kiss bye melalui tangannya.


Lalu berlari kecil, pergi meninggalkan Nurbaya yang terperangah.

__ADS_1


Nurbaya menyentuh bibir bawahnya yang di sentuh oleh Satria tadi, padahal ia sudah tegang dan deg-degan. Ia tersenyum, mulai menghayal, adegan ciuman saat terima rapor nanti.


Aaaaahhh!!! serunya, Ia memukul-mukul kepalanya.


“Anak nakal! Gara-gara dia, aku jadi error seperti ini setiap hari.” rutuknya.


**


Di sekolah.


Harap tenang ada ujian.


Itulah bacaan yang terpampang jelas hampir setiap kelas dan bahkan di tempelkan di gerbang sekolah.


Mereka duduk dengan rapi berbaris satu-satu, semua kepala tertunduk, pensil 2B bergoyang-goyang, pertanda mereka sedang membuat lingkaran di lembar jawaban.


Satria, murid pertama kali yang mengumpulkan hasil jawabannya, Ia langsung keluar, pergi ke kantin sendirian sembari menunggu teman-teman nya.


Ia telah memesan makanan terlebih dahulu, bahkan mejanya sudah penuh makanan saat 2 orang temannya datang. “Bagi-bagi dikit dong otak Lu, pusing, gue asal isi aja.” ucap pemuda berambut ikal yang baru datang, lalu menghenyakkan pantatnya duduk di samping Satria.


Pemuda satu lagi duduk di sebelahnya lagi. Dia ketua kelas, tampan dan rajin. “Itu karena Lo gak belajar, sulit sih, tapi gak terlalu sulit.” sahutnya.


“Hah! Capek ngomong sama kalian berdua, kalian kan otaknya encer!” sungut pemuda berambut ikal itu.


“Aku lapar.” ucapnya dingin, langsung menyuap makanan ke dalam mulutnya.


Ketua kelas memberi kode mulut terkunci pada pemuda berambut ikal, mereka tau pasti kalau Satria tidak suka kegaduhan. Pemuda tampan yang satu ini berbeda dengan yang lain, kaya, pintar, lebih suka diam, dan jarang sekali masuk sekolah, tapi selalu mendapatkan nilai paling bagus.


Terkadang ada yang protes, kalau Satria di anak bawangkan, namun kenyataannya saat di uji, pemuda itu memang sangat pintar. Beberapa guru juga menjelaskan, kalau Satria belajar seperti teman-teman yang lainnya melalui Guru privat.


“Hai, boleh gabung di sini gak?” tanya Anggun. Gadis yang waktu itu cemburu melihat adegan Satria berciuman dengan Nurbaya kemarin.


Dua teman Satria menatap ke arah Satria, Pemuda itu cuek, tak peduli, ia seperti pria tuli, asik makan sendiri.


Anggun dengan percaya dirinya, langsung duduk di depan Satria. “Oh ya, Satria. Aku bawa brownies mangga, nih buat kamu.” Anggun menjulurkan sekotak kue berukuran mini ke hadapan Satria.


Satria mendongak dan menatap ke arah Anggun, lalu melihat kotak itu.


Anggun tersipu malu melihat wajah tampan di hadapannya, masih dengan tersenyum hangat. Apalagi saat ia melihat tangan Satria terjulur mengambil kotak kue itu.

__ADS_1


Deg! Deg! Jantungnya seperti sedang berdansa.


Satria mengambil kotak itu. “Nih!” Ia memberikan kotak itu pada pemuda berambut ikal.


Mata Anggun mengerjap-ngerjap, tak percaya. “Itu untuk mu, Satria.” jelas Anggun kembali.


Satria yang masih memegangi sendok makanannya, meletakkan sendok itu di piring.


Trang! Bunyi sendok yang bersentuhan sedikit kuat di piringnya. “Kau kira aku miskin? Sehingga tidak bisa membeli brownies seperti itu?” tanyanya dengan sorot mata tajam.


Seolah bisa membelah tubuh Anggun hidup-hidup dengan tatapan itu.


“Bu... bukan itu maksudku, Satria. Aku hanya menawarimu.” jawab Anggun terbata-bata.


“Aku tak butuh!” Kemudian Satria berdiri, pergi meninggalkan 3 manusia yang tercengang di meja itu.


“Dasar sombong!” ucap Anggun setelah Satria pergi jauh.


“Semua orang sudah tau kalau dia sombong begitu, lalu kenapa kau dekati?” sahut ketua kelas. Kembali melanjutkan memakan makanannya.


“Ngomong-ngomong, makasih ya kue nya.” ucap pemuda berambut ikal.


“Huh!” Anggun mendengus, langsung berdiri pergi meninggalkan 2 pemuda yang menjadi teman Satria itu.


Kedua pemuda itu terkekeh kecil. “Kita bagi dua ya.” ucap ketua kelas itu pada temannya.


“Sip! Ayo kita cepat makan, kita susul Satria, dari pada kita di sembur sama dia nanti.”


Dua pemuda itu memakan makanannya cepat sampai pipi mereka penuh, lalu cepat pergi membawa 3 botol minuman untuk mereka dan Satria, serta tak lupa sekotak kue pemberian Anggun.


Mereka menyusul Satria yang telah duduk di dalam kelas, bersandar di kursi, melipat kedua tangannya ke dada, memejamkan mata sembari mendengar sesuatu di handset.


Salah satu diantara mereka menepuk pelan bahu Satria, sehingga pemuda itu membuka matanya, lalu di sodorkannya botol minuman.


Satria menaikkan kedua alis matanya sembari bola matanya di arahkan ke meja, yang artinya silahkan kau letakkan di meja itu. Pemuda itu meletakkan botol mineral di mejanya.


“Buang kotak itu!” perintahnya tiba-tiba. Kedua mata pemuda itu membulat sempurna, mereka baru saja akan bersuka cita menikmati brownies yang indah di depan mata.


Satria menatap mereka tajam.

__ADS_1


Mereka menurut dan mendekati tong sampah. Sebelum membuangnya, mereka sempat mengambil satu potong masing-masing, langsung memasukkan ke dalam mulut.


“Oh, onok sokoli.” ucap mereka dengan mulut penuh.


__ADS_2