
Satria kembali pulang larut malam, Nurbaya bahkan sudah tertidur di sofa karena kelamaan menunggu. Besok paginya Nurbaya juga tak menemukan Satria, karena pemuda itu sudah berangkat pagi-pagi, padahal Nurbaya telah menyetel alarm, namun matanya malah tetap bangun jam 8 pagi.
Hari-hari terus berlalu, hingga kini telah menjadi seminggu.
Hari ini Satria pulang cepat, tepat jam 4 sore. Nurbaya langsung mengembangkan senyum bahagianya. Baru saja terukir di bibirnya, senyuman itu langsung menghilang.
Kepala Pelayan sudah mengemasi barang-barang Satria di koper mininya. “Aku harus ke Belanda, mungkin menghabiskan waktu beberapa hari. Kabari aku jika ada apa-apa. Cup!” Ia mengecup kening Nurbaya cepat. Lalu, langsung pergi.
Nurbaya hanya diam berdiri membatu, melihat Satria yang berjalan masuk ke dalam mobil yang di kendarai Pak Hamdan, sedangkan Kepala Pelayan menarik koper mini.
Airmata Nurbaya pun jatuh ke dalam. Ia tak pernah merasa diabaikan seperti ini sedari dulu. Satria yang ia lihat sekarang terasa sangat berbeda, bukan lagi adik kecil yang menggemaskan, bukan lagi adik kecil yang selalu ada waktu untuknya, bukan lagi adik kecil yang selalu mengerti perasaannya.
'Apakah ini semua karena malam pertama?' Ia mulai berpikir aneh. Mulai menyalahkan malam pertamanya.
'Kenapa? Kenapa harus seperti ini? Tidak ada sepasang suami istri yang baru menikah, lalu melakukan malam pertama, paginya di diamkan sampai di tinggal jauh ke Negri orang tanpa minta persetujuan istrinya terlebih dahulu.' bergumam dengan senyuman masam. Nurbaya masuk ke dalam kamarnya dengan hati yang bersedih.
**
__ADS_1
Malam pun datang.
Aira dan Arnel memanggil Bi Mona, “Mana, Nurbaya?” tanya Aira.
“Hm, lagi... lagi di kamarnya, Nyonya.” jawab Bi Mona sedikit berpikir.
“Hiburlah dia. Pasti dia merasa sedih.” sahut Arnel.
Aira menatap suaminya. “Jangan tatap aku seperti itu, Nurbaya tak sama denganmu yang tak peka. Tentu saja dia bersedih karena kepergian Satria beberapa hari.” sahut Arnel sembari mengunyah makanannya.
Terdengar suara dengusan dari nenek itu.
“Gini nih, Nurbaya gak sama sepertimu, Sayang. Kamu sih, mikirnya simple, gampang, cuek dengan semua hal.” Arnel meminum air di dalam gelas. Aira sudah menatapnya dengan tatapan tajam.
“Oh, ya sudah. Kamu tidur di luar saja nanti!”
“Loh, kok gitu, Sayang.” Kakek Arnel pun memasang wajah memelas.
__ADS_1
“Walaupun sifatmu begitu, aku menyukainya, aku sangat mencintaimu, Istriku.” Merengek, membujuk Nenek Aira.
“Maksudku begini loh Sayang, Satria sengaja pergi sendirian, agar dia bisa fokus sama pekerjaannya di sana, kalau nanti dia bawa Nurbaya, ia malah gak fokus, terus Nurbaya bisa saja bosan, kan? Mungkin menurutnya, lebih baik nanti saja mereka honeymoon. Kamu tau sendiri, kan? Kalau cucumu itu pintar, selalu saja punya ide cemerlang.” Membelai anak rambut Aira yang terlepas dari sanggulnya, menyelipkan di telinga nenek itu.
Mengambil tangan Aira, lalu mencium punggung tangannya.
**
Di dalam kamar Nurbaya.
Nurbaya terus berpikir, kini ia meringkuk di ranjangnya, memeluk guling sembari menangis dalam diam. Ia menatap foto-foto yang pernah ia ambil bersama Satria, ada foto Satria kecil, hingga sebelum mereka menikah.
Beberapa hari lalu, pemuda itu baru saja mengganti wallpaper handphonenya menjadi foto pengantin mereka.
'Ya Tuhan, apakah ini karma karena aku menganggap pernikahan ini main-main awalnya? Ampunilah hamba, karena hati hamba masih belum percaya dengan pernikahan yang terlalu aneh ini, umur kami selisih sangat jauh, hamba bahkan masih merasa kalau dia adik kecil yang menggemaskan.' Air matanya menetes.
'Ya Tuhan, jika ini adalah sebuah kesalahan karena Hamba tak percaya akan jodoh yang jelas-jelas telah ditakdirkan, ampunilah Hamba. Engkau yang membolak-balik hati manusia, hamba telah jatuh cinta padanya, hamba sangat merindukannya. Jagalah hatinya untuk hamba, Ya Tuhan.'
__ADS_1
Nurbaya masih menangis dalam diam. Hingga ia tertidur sendiri karena kelelahan menangis.
***