
Hari-hari terus berlalu, kini Satria dan Nurbaya telah bersiap pergi ke luar negri, tepatnya di Inggris. Sekretaris Dewa dan Kepala Pelayan telah mengurus semuanya.
Salam perpisahan yang di hiasi dengan tangisan, pelukan dan ciuman sayang di pipi mereka. Hanya Arnel yang terlihat tak menangis. Ia masih berwajah angkuh namun masih berwibawa.
Setelah bayangan Nurbaya dan Satria menghilang diantar Pak Hamdan ke bandara, Arnel langsung masuk ke dalam kamar. Aira juga menyusulnya, mengelus punggung kakek tua itu.
Aira sangat mengerti, kakek itu hanya pura-pura, sebenarnya dia lah yang paling cengeng dan manja dari dulu. Dia lah yang tak mampu berpisah dengan orang-orang yang disayang. Pura-pura kuat dan sombong adalah sifatnya sejak dulu.
**
Satu bulan mereka sampai di Inggris,
Mereka telah mengunjungi beberapa tempat yang menyenangkan, membagikan foto mereka pada keluarga di Indonesia. Satria hanya fokus kuliah dan bersenang-senang dengan Nurbaya, hanya itu.
Kepergian Nurbaya dan Satria di dengar oleh Melani, wanita itu pun memutuskan untuk pergi ke Inggris. Ia mendatangi Ayahnya ke perusahaan, meminta bagiannya. Tentu saja sang Ayah tak bersedia jerih payahnya di minta, sedangkan Melani entah bagaimana kabarnya selama ini.
Melani masih bersikeras, baginya perusahaan yang di kelola ayahnya ini adalah milik Kakeknya yang di wariskan pada Ibunya. Perdebatan panjang terjadi, beberapa berkas pun berserakan. Akhir dari keputusan, Ayahnya mentransfer uang 15 Milyar dengan syarat Melani keluar dari nama keluarganya.
Melani tersenyum sinis. Ia menerima tawaran itu, sejak lama ia juga tidak pernah diakui.
Di apartemen, Erian sibuk menelfon beberapa orang untuk mencaritahu keberadaan Melani. Tak ada satupun yang tau. Jemari tangan Erian gemetar hebat, apalagi setelah ia menemukan tes kehamilan bergaris dua, yang artinya Melani hamil.
Dia sangat yakin, anak itu adalah anaknya. Beberapa bulan ini, Melani selalu mengurung diri di apartemennya, hanya dia yang mendatangi wanita itu.
“Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Jangan sampai dia mengugurkan anak itu, atau bunuh diri. Aku akan bertanggung jawab.” Ia frustasi, menjambak rambutnya sendiri.
Ia bergegas keluar, mencari dan terus mencari, hingga gelap malam datang.
Kring! Kring! Suara handphone berbunyi. Bergegas ia rogoh kantong celananya. Tertulis nama bawahannya.
‘Pak, Nona Melani sudah kembali ke apartemennya.'
__ADS_1
Erian langsung mematikan handphone nya setelah mendengarkan itu. Ia bergegas menancap gas mobilnya dengan laju. Tak lama, ia sampai, ia naik lift dan berlari-lari sampai di depan kamar Melani.
Ia membuka pintu dengan cepat, masih dengan nafas ngos-ngosan. “Me.. Melani.” Ia langsung memeluk Melani.
Meraba perut Melani, “Kamu darimana? Kamu tidak menggugurkan anak kita, 'kan?” Ia menatap lekat wajah Melani. Memegangi wajah itu.
Melani menepis tangan Erian, memilih duduk di sofa. “Tau darimana aku hamil?” Berkata santai sambil mengupas kulit kacang.
“Aku tadi menemukan tes kehamilan di kamar mandimu. Kamu tadi kemana?” Langsung duduk di samping Melani.
Melani memasukkan kacang ke dalam mulutnya, mengunyahnya dengan santai. “Kenapa kau yakin sekali itu anakmu, mungkin saja itu anakku dengan pria lain.” ucapnya sambil tersenyum sinis.
Erian meraba perut Melani. “Aku percaya dengan hatiku, anak di dalam perutmu pasti anakku.”
“Cih! Waktu mantan istrimu hamil, kau juga percaya itu anakmu. Kau, 'kan bodoh.”
Tersenyum miris. “Ya, aku memang bodoh kala itu Mel, aku benar-benar tidak tau, aku mabuk berat. Saat itu, aku hanya ingin bertanggungjawab, tidak lebih.”
“Aku tidak butuh seorang pria di dunia ini. Pria adalah bajing*n! Pria adalah kotor*n! Aku tak butuh, aku bisa hidup sendiri dan mampu kok membesarkan anakku. Jadi, tak usah khawatir aku akan menggugurkan anakku. Belum tentu, anak ini anakmu.”
Erian memeluk Melani erat. “Lepaskan, apa yang kau lakukan!” Mendorong tubuh Erian.
“Jika kau benci laki-laki, maka anggaplah aku seorang perempuan, jika kau tidak suka laki-laki, sukai aku sebagai perempuan. Aku berjanji, tidak akan banyak meminta dan menuntut. Tolong izinkan aku bertanggungjawab atas dirimu dan anak kita. Aku percaya itu anakku.”
“Mel, aku memang tak sempurna. Tapi, tolong terima aku. Aku tak bisa jauh darimu, aku sangat mencintaimu.” ucap Erian pelan, lembut.
Melani terdiam. Berpikir.
“Ok. Aku akan terima kamu di sisiku, tapi tolong lepaskan aku dulu!”
Erian pun melepaskan pelukan itu, tersenyum.
__ADS_1
“Aku tadi hanya pergi ke perusahaan pria bajing*n itu, aku meminta uang padanya. Dia memberikan aku 15 Milyar dengan syarat aku bukan lagi anaknya. Ahahahaha. Miris.” Berkata sambil tertawa, namun Erian bisa melihat dengan jelas.
Ini adalah sebuah tawa kepedihan, kekecewaan, Melani sangat terluka saat ini. Ia hanya berpura-pura tegar dan membandel berharap diperhatikan. Namun, tak ada rasa peduli yang ia terima dari Ayahnya.
Erian memeluk Melani kembali. “Sayang, jika kamu lelah, bersandarlah padaku, jika kamu sedih, menangis dihadapanku, ceritakan lah keluh resahmu padaku. Aku akan selalu ada untukmu, jangan takut, percayalah padaku.” Ia usap lembut rambut Melani dengan lembut.
Saat ini, rasanya pelukan Erian sangat menenangkan bagi Melani, namun hati dan pikirannya masih belum percaya dengan sosok makhluk yang bernama laki-laki.
“Iya. Kalau begitu, mari kita tidur, aku ngantuk.” Melani berdiri, masuk ke dalam kamar, membersihkan diri.
Erian juga menyusulnya masuk ke dalam, bak seorang suami mengikuti istri. Lagi dan lagi, Melani dan Erian lupa diri, mereka melakukan tindakan yang menyenangkan namun jelas-jelas ini adalah hubungan haram yang terlarang.
Mereka lupa dengan semua, mabuk dengan gairah yang membara.
***
Pagi yang menyenangkan bagi Erian, kali ini ia di sambut dengan sikap manja dan ramah Melani, bahkan Melani membuatkan ia nasi goreng. Satu kecupan manis mendarat di pipi dan bibirnya saat ia akan berangkat ke kantor.
Senyuman indah tercetak jelas di wajahnya karena rona bahagia.
Waktu terus berputar, hingga sore pun datang, sudah waktunya Erian pulang dari kantor. Saat pulang, ia mampir di toko bunga dan cake.
“Aku harap kamu suka, Sayang. Semoga saja hubungan kita membaik setelah ini, aku akan menikahimu, kita akan hidup bahagia.” Tersenyum membayangkan wajah Melani menyambutnya.
Erian masuk ke dalam apartemen Melani, “Sayang...” Panggilnya manja.
“Sayang...”
“Sayang.” Panggilannya sedikit berubah datar setelah melihat tak ada Melani.
Ia membuka kamar Melani, kamar mandi. Tak ada. Ia lihat sepucuk surat. ‘Surat?!’ gumamnya. Bergegas ia membuka lemari pakaian.
__ADS_1
“Jangan bilang, kamu pergi, Mel...” Erian gemetar hebat, bunga yang masih ia pegang itu pun terjatuh ke lantai.