Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Mengabaikan


__ADS_3

Nurbaya dan Satria seperti sedang perang dingin, tak tegur sapa dan saling diam satu sama lain.


Pemuda itu jadi uring-uringan di abaikan oleh Nurbaya.


Jimi dan Akbar yang berkunjung dan menginap di rumahnya menjadi objek pelampiasan kekesalannya. Apalagi saat Jimi dan Akbar berkenalan dengan Nurbaya, mereka bersenda gurau. Membuat Satria semakin jengkel.


Gadis itu tersenyum dan ramah pada Jimi dan Akbar, tetapi mengabaikan Satria, jika pemuda itu datang bergabung.


Contohnya sekarang!


“Kak Aya, menurut Kakak, bagusan yang ini apa yang ini?” tanya Jimi.


“Bagusan ini kan, Kak?” ungkap Akbar.


Satria menunjuk sesuatu, tapi dari tadi ia di abaikan. “Bagusan ini.” Nurbaya menunjuk yang lain, yang jelas, bukan yang di tunjuk oleh Satria.


“Kak!” panggil Satria kesal.


Nurbaya mengabaikannya.


“Kalian mau sup buah gak?” tanya Nurbaya menatap Akbar dan Jimi.


“Iya, mau, Kak.” jawab mereka mengangguk semangat.


“Aku gak pakai pepaya.” sahut Satria, walaupun Nurbaya mengabaikannya.


Kenyataan, Nurbaya hanya membuat 3 mangkok sup buah. Tak ada sup buah tanpa pepaya untuk dirinya, semuanya ada pepaya.


Satria menatap Nurbaya kesal, yang di tatap cuek saja. Nurbaya sibuk memasukkan potongan buah ke dalam mulutnya.


Saat ia memasukkan potongan mangga ke dalam mulutnya, Satria mengecup bibirnya, mengambil mangga yang ada di dalam mulut Nurbaya dengan lidahnya. Adegan barusan membuat Jimi dan Akbar melongo. Kasihan sekali mereka, harus menonton secara live adegan tadi.


Mata Nurbaya Membeliak, membulat sempurna, bahkan mulutnya sekarang masih menganga saking terkejut. “Apa yang kau lakukan bocah nakal?” pekik Nurbaya saat ia tersadar.


“Memakan sup buah.” jawabnya datar.


“Sup buah kepalamu!” Nurbaya memukul kepalanya.


Satria mengelus kepalanya, mengerucutkan bibirnya, monyong-monyong lucu ke depan. “Kakak tidak membuatkan aku sup buah, jadi aku minta buahnya dari bibir Kakak. Memangnya aku salah melakukan hal itu?” ucapnya sok polos.


“Ya salahlah!” Mendengus. Nurbaya menyedekapkan tangannya di dada.


“Kau melakukan pelecehan padaku, bisa dikenakan pasal!” ucapnya, lalu berkacak pinggang.


“Aku tak apa, kalau pasal itu kakak yang membuatnya khusus untukku.” sahutnya.


“Huh!” Nurbaya mendengus, lalu berjalan pergi.


“Kalian di sini saja! Aku mau menyusul Kakak! Awas kalau kalian beranjak dari sini!” Satria mengancam.


Satria berlari menyusul Nurbaya. Gadis itu pergi ke dapur. Satria langsung memeluk Nurbaya dari belakang. “Kak, aku sangat merindukanmu, jangan mengabaikan ku seperti ini. Tolong maafkan aku.” Ia menyandarkan keningnya di pundak Nurbaya.


“Ah! Lepasin! Kamu ngapain sih peluk-peluk aku begini?”


“Aku rindu Kakak.” ucap Satria manja, semakin mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


“Lepasin gak?”


“Aku gak mau, Kakak harus memaafkan aku dulu.” rengeknya.


“Baiklah, aku maafkan kamu.” jawab Nurbaya.


“Sungguh?” Satria melepaskan pelukannya, memutar tubuh Nurbaya sampai menghadap padanya.


Tersenyum, mengelus wajah Nurbaya. “Makasih Kakak ku Sayang, Cup!” ucapnya dengan kecupan manis di akhir.


Ehem! Terdengar suara deheman.


“Ngapain Kakek di sini? Sejak kapan si sini?” Meradang.


“Dari tadi.” jawab Arnel santai.


“Kenapa tidak berbunyi!” Menatap Kakeknya dengan tajam.


“Kau asik sendiri.” Arnel kembali membaca koran.


“Kenapa Kakek baca koran di sini?” Marah karena malu.


Arnel mengernyitkan keningnya, diam tanpa menjawab, menahan senyum yang hendak lepas.


“Kakak ayo kita pergi dari sini.” Menarik tangan Nurbaya yang berwajah merah padam.


’Aaaaaaa...!!! Malunya aku, Tuan Besar melihat Satria mencium bibirku barusan!' Nurbaya membatin.


'Si*l, kenapa kakek ada di sana sih! Menganggu saja!' Satria membatin.


Cup! Mencium pipi Nurbaya. Tersenyum manis.


Untuk kali ini, Nurbaya benar-benar merasa sangat grogi, malu dan salah tingkah bersama Satria. Beberapa saat mereka berdua terdiam, saling meremas jari jemari. Larut dalam pikiran mereka masing-masing.


“Menurut Kakak bunga paling cantik itu apa?” Satria memulai pembicaraan terlebih dahulu.


“Hampir semua bunga aku suka. Tapi aku lebih cendrung suka bunga anggrek dan Lily.” jawab Nurbaya.


“Kenapa?” tanya Nurbaya.


“Apa Kakak ingin pergi suatu hari nanti, bersama denganku ke tempat pribadi?” bertanya balik. Nurbaya mengernyit.


“Kakak pasti tau, Danau hijau buatan buyutku. Di tengah danau hijau itu ada taman bunga, mawar merah dan putih. Tapi ada satu tempat lagi yang juga privasi. Hanya Kakek dan Bibi Humaira yang pernah ke sana...”


“Berarti kamu belum pernah?”


“Aku belum selesai bicara, Kak. Kenapa sih Kakak suka sekali memotong pembicaraan ku!”


“Eh? Hehehehe. Ok, ok, lanjut deh.”


“Aku baru ke sana satu tahun yang lalu. Di sana sangat indah. Aku ingin ke sana bersama kakak.”


Nurbaya tampak berpikir. “Apa boleh aku kesana? Bukankah itu tempat privasi?”


“Tentu saja boleh, kan bersamaku.” Satria tersenyum jenaka.

__ADS_1


“Hm, baiklah kalau begitu.”


Hening kembali.


“Sebentar lagi aku ulang tahun.” Satria memulai bicara kembali.” Pemuda itu benar-benar cerewet tak bisa diam kalau bersama Nurbaya.


“Aku tau kok.”


“Aku mau hadiah spesial.”


“Apa?” tanya Nurbaya dengan sorot mata menyelidik.


“Terserah kakak, yang penting spesial, gak ada orang lain yang punya selain aku.”


“Gak janji.”


**


Hari-hari terus berlalu.


Masa liburan sekolah pun telah berakhir. Satria telah memasuki kelas baru untuk kelas 2 SMA. Ia sekelas kembali dengan Jimi dan Akbar.


Beberapa hari lagi pemuda itu akan ulang tahun, biasanya akan di rayakan oleh sang Kakek secara besar-besaran. Mengundang kolega, tamu-tamu penting dan teman sekolah Satria. Kali ini pemuda itu tidak ingin merayakan secara besar-besaran.


Ia hanya ingin merayakan dengan Jimi, Akbar, sebagai tamu luar dan seluruh pelayan yang bekerja di rumah Damrah. Termasuk Nurbaya dan keluarganya.


Semua teman-teman mulai bertanya-tanya, kenapa undangan belum juga tersebar. Apalagi Anggun yang telah menanti-nanti, bahkan gadis itu telah jauh-jauh hari membeli hadiah.


“Hai, Satria.” sapa Anggun saat mereka bertemu di kantin.


Ya, Anggun tidak bisa menyapa Satria lagi karena mereka beda kelas, sedangkan kelas satu mereka satu kelas. Jadi, hanya ada kesempatan saat jam istirahat di kantin, untuk menegur sapa Satria.


“Hai, anggun.” sahut Akbar, karena Satria tidak menyahuti sapaan itu.


“Beberapa hari lagi ulangtahun mu, apakah kamu merayakan seperti biasa?” tanya Anggun.


Satria diam saja, mengabaikan.


“Satria tidak merayakannya.” jawab Akbar lagi.


Tempat itu hening seketika.


'Ya ampun, cewek ini sudah di abaikan, masih saja duduk di sini.' gumam Jimi.


'Coba saja aku yang di perhatikan seperti ini, bahagianya aku. Kenapa harus mengagumi bocah sombong seperti dia sih?' gumam Akbar, melirik temannya.


Satria mengibaskan tangannya. “Sudah? Pergilah dari sini!” ucapnya ketus.


Anggun pun pergi dengan wajah masam.


“Kasihan sekali bidadari cantikku. Kenapa harus jatuh hati pada laki-laki sombong sepertimu, mending jatuh hati padaku.” Ia mencebik.


“Itu deritanya, bukan deritaku!”


“Dasar!” ucap Jimi dan Akbar kompak, lalu mereka berdua terkekeh. Satria masih saja dengan wajah datar dan dinginnya.

__ADS_1


***


__ADS_2