Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Calon Istriku


__ADS_3

Bab ini, di anjurkan di baca untuk umur 18+🌹


Baca bab ini saat berbuka puasa ya🙏


____________________


“Hai, calon istriku.” sapa Satria mengedipkan matanya.


Ia langsung menyelonong masuk ke dalam kamar Nurbaya, seperti biasa. Namun, kali ini ia terlihat lebih mesum.


“Apa kamu sudah siap, Sayang?”


Nurbaya menatapnya tajam. Ia tak acuh, masih saja menggoda Nurbaya. Duduk bersantai di ranjang Nurbaya. Sesekali melihat jam tangan di tangannya.


“Masih lama, ya, Sayang?” Ia menatap Nurbaya dengan wajah nakal.


“Sayang, sayang, pala lu peyang! Ngapain kau ke sini?”


Satria berdiri, langsung merangkul pinggang Nurbaya. “Galak bener Sayangku ini, tapi aku malah suka. Cup!” ucapnya diakhiri dengan kecupan di telinga Nurbaya.


“Bocah Nakal!” Ia mendorong tubuh Satria dengan marah.


“Aku tanya sekali lagi, ngapain kau ke sini?!” Sorot mata tajam Nurbaya tak membuat Satria gentar.


“Tambah cantik saja, Sayangku ini.” ucapnya terkekeh kecil, membuat Nurbaya yang sudah emosi kembali melunak akan rayuannya, Hm... Sedikit melunak!


“Aku ke sini tentu saja menjemput calon istriku, untuk mencoba baju pernikahan kita,” kata Satria dengan kedipan mata menggoda.


“Bocah Nakal, hentikan kedipan matamu itu, aku geli melihatnya!”


“Baiklah, kalau begini, bolehkah Sayang? Mmhm...” Satria mengerucutkan bibirnya ke depan, seolah hendak mencium Nurbaya.

__ADS_1


“Dasar Mesum, isi otakmu cium saja!”


“Iya, semua ini karena Kakak.”


“Ini bukan salahku saja, tapi juga salahmu!” Nurbaya berkacak pinggang.


Satria mengalah, lalu memeluk tubuh Nurbaya. “Baiklah, aku salah. Sekarang, ayo bersiap, kita akan mencoba baju pernikahan kita, Nenek sudah menunggu sejak tadi di bawah.”


“Ya sudah, kalau begitu kau keluarlah, aku akan mengganti baju.”


“Apa aku tak boleh di sini saja? Biasanya aku sering melihatmu tanpa busana.” Satria kembali mengerucutkan bibirnya ke depan, lalu terkekeh.


“Kau!!!” Wajah Nurbaya langsung merah merona, blush, malu sekali.


“Cepat keluar!” Ia mendorong tubuh Satria keluar, lalu mengunci pintu itu.


“Jangan lama-lama ya, Sayang. Aku menunggumu di luar.” teriak Satria di luar pintu.


“Bawel!” balas Nurbaya meneriaki Satria.


“Sayangku, calon istriku terkasih, apa masih lama? Aku bantuin pakai bajunya ya?" teriak Satria kembali dari luar.


“Bocah Nakal, diam kau!” seru Nurbaya dari dalam kamar yang di balas kekehan dari Satria di luar kamar.


Nurbaya akhirnya selesai, Ia membuka pintu kamar.


Saat pintu kamar terbuka, Satria langsung mengungkungnya, ia tersandar di dinding. Satu tangan pemuda itu bersandar ke dinding, satu lagi menekan tengkuk Nurbaya.


Cup! Kecupan kilat mendarat di bibir Nurbaya.


“Apa yang kau lakukan Bocah Nakal?!” Ia mendorong Satria.

__ADS_1


“Kau lama sekali, ini hukuman untukmu.” sahutnya, Ia membelai lembut wajah Nurbaya.


Nurbaya mengernyitkan keningnya dengan bibir yang cemberut, kemudian menepis tangan Satria.


Pemuda itu tersenyum kecil, lalu...


Cup! Satu kali lagi kecupan mendarat di bibir Nurbaya yang sedang cemberut itu.



Foto halusinasi, di larang keras melihat gambar ini untuk usia yang belum 18+, Dilarang keras menghayalkan ini sebelum 21+. Apalagi bagi kaum para jomblo. Author tidak bertanggungjawab. Foto ini diambil dari aplikasi print*r*s.


____


“Makasih calon istriku.” bisiknya di telinga Nurbaya, setelah mencium gadis itu.


Satria menggenggam tangan Nurbaya dengan erat, “Ayo, kita pergi sekarang.” ajaknya sembari mengedipkan mata.


Bugh! “Auuwwch.” Satu sikutan keras menghantam perut Satria.


“Kau benar-benar bocah nakal, jelas-jelas kau yang selalu menciumiku, tapi aku yang harus bertanggungjawab dan menikahimu. Andai saja semua orang tau seperti apa sifat aslimu.”


“Memangnya seperti apa sifat asliku?” tanyanya, masih memegangi perut yang di sikut Nurbaya barusan.


“Mesum!”


Satria tergelak. “Bukan mesum Sayang, bukankah kau menginginkan seseorang yang ahli. Aku bukan mesum, tapi ahli.”


'Shit!' Nurbaya memukul lengan Satria, lalu berjalan terlebih dahulu meninggalkan pemuda itu.


Ya, Nurbaya menjadi pusing, setiap perkataan yang pernah ia katakan pada Satria, selalu menjadi senjata makan tuan untuknya. Padahal saat itu, ia menjawab 'Ahli' agar Satria tak selalu menyatakan cinta monyet padanya.

__ADS_1


'Aaarrrgghhhhhh!'


***


__ADS_2