Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Sebatas Adik


__ADS_3

Satria mengelak saat Nurbaya melemparnya. “Tak kena! Blek!” Ia menjulurkan lidahnya pada Nurbaya.


Nurbaya tak terima, Satria yang dianggapnya anak kecil itu berani padanya, ia pun hendak memukul pantat Satria. Tentu saja pemuda itu memakai jurus lari zig-zag, di pastikan Nurbaya tak bisa menangkapnya.


“Eh, gak dapat! Blek!” Ia masih meledek Nurbaya.


“Selamat datang, Tuan Besar.” ucap Nurbaya. Refleks Satria berhenti dan menengok ke belakang.


Hap! Lalu di tangkap!


Itu barusan adalah jebakan Nurbaya agar pemuda itu terlengah, sekarang Nurbaya telah memukuli pantat Satria. “Rasakan anak nakal.” Ia memukulinya dengan bersemangat.


“Kenapa pantatnya keras begini sih?” pikir Nurbaya. Tentu saja, karena Satria remaja bukan lagi Satria kecil yang pantatnya bahenol. Satria remaja melakukan olahraga biar bertubuh tegap dan gagah loh!


Walau merasa keras, ia masih saja memukuli pantat Satria. Dasar!


Satria diam saja di pukuli pantatnya, tidak berontak seperti biasa. Rasanya ia sudah cukup lama tidak memukuli pantat Satria. Entah kapan terakhir kalinya, Hm...


Nurbaya terdiam dan sedikit merasa canggung, setelah melihat Satria diam saja dan menatapnya lekat. “Kenapa?” desisnya.


“Gak kenapa-kenapa, sudah lama Kakak tak menepuk pantatku lagi, aku jadi tertegun karena rindu.”


???


Otak Nurbaya sedang di penuhi tanda tanya. Dari segimana yang membuat rindu? Bukankah selama ini Satria malu kalau pantatnya di tepuk, ia selalu protes kalau ia sudah besar.


“Rindu kok tepuk pantat sih.” gumam Nurbaya pelan.


“Rindu yang lain mana boleh, kan Kakak ada pacar.” ucap Satria memancing.


“Apa hubungannya aku punya pacar?”


“Karena kalau aku bilang rindu pada Kakak, takutnya pacar kakak cemburu, gimana sih Kakak? Otak Kakak isinya bakso bakar semua ya, coba lihat.” Satria merangkul kepala Nurbaya.


Satria sudah jauh lebih tinggi sekarang dari Nurbaya. Bahkan sekarang Nurbaya hanya sedadanya. Nurbaya yang tinggi 150 cm sedangkan Satria tinggi 175 cm.


“Kau keteki aku! Kau belum mandi, bau.” Nurbaya menutup hidungnya. Satria malah semakin menjadi, mengapit kepala Nurbaya dengan keteknya.

__ADS_1


“Anak nakal!” Nurbaya mencubit kedua pipi Satria, bahkan mencongkel hidung Satria sampai lubang hidung itu mengarah ke atas. Lucu, seperti hidung Piggy.


Satria pun tak mau mengalah, ia terus mengeteki Nurbaya, bahkan mengipas-ngipaskan keteknya. “Satria lepaskan!” Nurbaya berteriak. Satria malah terkekeh.


“Guk mu, kukuk lepusun dulu pipiku.” ucap Satria tak jelas karena pipi dan bibirnya di tarik Nurbaya.


“Enak aja, kau yang lepasin dulu.” bentak Nurbaya. Satria pun melepaskan kepala Nurbaya.


Siapa bilang gadis usil itu menepati janji? Ia malahan semakin jadi, mencubiti pipi, mencongkel hidung, bahkan menarik telinga Satria sambil menggigit bibir bawahnya sendiri karena gemes.


“Hahahaha... Lucu.” Ia terkekeh.


Satria remaja bukanlah Satria kecil yang dulu akan diam atau menangis saat di usili Nurbaya, siapa sangka Satria juga membalasnya.


Hap! Satria menggigit pipi Nurbaya. Sampai pipi itu ada tanda gigi darinya.


“Satriaaaaaaaaa!!!!!!!!!” pekikan melengking memekakan telinga.


Satria berlari cepat melarikan diri. Nurbaya mengejarnya, namun tak bisa, karena Satria berlari ke kamarnya dan mengunci pintu kamar.


Rasakan Nurbaya, itu adalah benih yang kau tuai. Bukankah selama ini kau suka mencubit dan menggigit Satria kecil dulu?


Bibir Nurbaya komat-kamit, sedangkan Aira hanya tersenyum simpul melihat. “Kenapa?” sapa Aira.


Nurbaya pun terkaget. “Eh, Nyonya. Maaf cuma bercanda sama Tuan Muda.” sahutnya, ia masih mengelus bekas gigitan Satria.


“Kenapa pipimu?” tanya Aira lagi.


“Gak apa-apa kok Nyonya.” jawabnya menutupi. “Aku permisi dulu, Nyonya.” ucapnya sedikit merunduk dan di balas anggukan oleh Aira.


Di dalam kamar.


Satria menyunggingkan senyumnya. Setidaknya Ia tak melihat Nurbaya menangis lagi.


“Erian, harus aku apakan kau? Kau telah mengabaikan perkataanku. Aku benci melihat Kakak menangis.” Ia memijit pelipisnya.


Satria adalah seorang pria tampan, pintar dan keturunan kaya raya, untuk menghancurkan 10 orang Erian pun ia mampu dengan harta dan perintahnya. Apalagi ia telah berjuang mencari uang sendiri sejak dulu, bertambahlah hartanya.

__ADS_1


Saat melihat video yang dikirim oleh pengawal rahasia yang di kerjakan Satria untuk membuntuti Nurbaya, ia benar-benar sangat marah. Ingin membakar Erian hidup-hidup. Laki-laki itu memaki dan memaksa Nurbaya agar bersedia berciuman dengannya atas alasan sebagai bukti cinta.


“Akan kubunuh dia!” Satria melempar handphone yang baru saja ia tonton.


Sekretaris Dewa cukup lama diam, baru mengambil handphone yang dibanting itu. “Kasihan handphone nya Tuan Muda.” ucap Dewa dengan bodoh.


Setelah itu ia merutuki kebodohannya. Ia menyesal telah berkata seperti itu. “Nikahi saja handphone itu kalau kau kasihan!” sembur Satria. Lalu menarik handphone itu dari tangan Dewa, kemudian menginjaknya.


Handphone mahal miliknya, ia membeli saat gaji pertamanya, bukan ia tak sanggup membeli lagi, bahkan uangnya masih cukup membeli yang baru lagi. Bedanya itu adalah kenangan yang membanggakan di hatinya. Sekarang dibanting keras oleh atasannya.


“Keluar kau! Ambil yang baru!” usir Satria. Dengan patuh Sekretaris Dewa keluar.


“Nasib jadi bawahan anak remaja puber.” Sekretaris Dewa mengeluh dalam hati. Ya, ia tahu betul siapa yang membuat atasan kecilnya itu uring-uringan.


Satria melanjutkan pekerjaan, lalu membaca email dan video kiriman dari guru privatnya. Lagi, lagi, moodnya harus di uji. Nurbaya belum pulang, bahkan sudah jam 9 malam lebih.


Satria memutuskan mencari Nurbaya memakai GPRS, karena gadis itu tak membalas dan mengangkat telfonnya. Ia menemukan Nurbaya berjalan gontai di trotoar.


“Itu dia Pak Hamdan, cepat ke sana!” perintahnya.


Setelah berhenti, Pak Hamdan membukakan pintu untuk Nurbaya, gadis itu pun naik dengan wajah lesu. Ia tak menyapa Satria, menatap kendaraan yang lalu lalang dari kaca.


Entah berapa menit berlalu. Tiba-tiba Nurbaya berteriak satu kali. “Aaaaahhhh!” Ia menjambak rambutnya. Membuat Satria dan Pak Hamdan terkejut.


Mereka berdua saling tatap. Nurbaya tak bicara sepatah katapun. Merunduk lalu meraba baca mobil yang gelap itu.


“Kalau saja Kakak tak mencintaimu. Aku akan menghabisimu Erian.” ucapnya geram. Ia masih mengingat setiap laporan dan bukti foto yang diberikan oleh pengawalnya.


Awalnya ia senang mengetahui Erian memutuskan Nurbaya, apalagi hanya karena alasan sepele, tentang sebuah ciuman. Terlalu kekanak-kanakan bukan? Jika cinta tak perlu menuntut. Namun, rasa egoisnya terkalahkan oleh air mata Nurbaya.


Malam itu ia melihat Nurbaya menangis di kamarnya, di dapur, di halaman belakang bahkan di teras kala itu. Nurbaya sampai tak menyadari saat ia memanggil, ia pun meletakkan tisu, tetapi Nurbaya masih menangis, tenggelam dalam kesedihannya.


Hatinya hancur, rupanya benar kata mutiara yang pernah ia baca di sebuah kutipan. Lebih sakit melihat orang yang kita cintai bersedih dari pada masalah yang kita tangisi.


Beberapa hari lalu, Nurbaya dan Erian jadian kembali. Nurbaya meminta balikan. Marah, tentu saja Satria marah. Tapi apakah dia punya hak? Tidak, dia hanya pemuda yang masih dianggap anak kecil.


Bahkan ungkapan cinta, sayang, pujiannya yang tulus selalu tak dianggap oleh Nurbaya. Adik, adik, adik, hanya sebatas adik. Itu yang sering dikatakan Nurbaya.

__ADS_1


__ADS_2