Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Waktu tak bisa di putar kembali


__ADS_3

“Pak, antarkan aku ke Centralpark Ocarin.” pintanya pada Pak Ahmad.


“Tunggu. Aku ikut.” Melina langsung masuk ke dalam mobil.


“Ayo, Pak, cepat!”


Tak lama, mereka sampai di lapangan Centralpark Ocarin. “Biasanya Robbi main basket di sini, kan?” tanya Melani penuh selidik.


“Pak, tunggu di sini ya, aku mau menemui temanku dulu. Kau di sini saja, kau itu cengeng, tak usah ikut denganku!” perintah Melani.


“Pak, jika kami lama keluar, Bapak susul kami ke dalam, ya.” ucap Melina, lalu dia berlari mengejar Melani.


“Kak, sebaiknya kita pulang. Jangan ke sini. Biarkan saja.” pintanya merengek.


“Kenapa? Aku harus mengatakannya pada Robbi, dia harus bertanggungjawab.”


“Tapi aku tak ingin menikah, lagian aku juga sudah putus dengan Robbi.”


“Apa?! Kau putus dengannya? Kapan?”


“Beberapa hari yang lalu.“


“Bajing*n! Setelah dia puas bermain denganmu, dia memutuskanmu yang telah hamil begini. Aku akan membuat perhitungan dengannya.”


Melani terus berjalan, hingga menemui seorang pria sedang memunguti sampah. “Hai, kau melihat Robbi?”


“Kenapa kau masih kemari lagi, Melina.” Bukannya memberikan jawaban, tapi laki-laki itu malah menegur Melina. Gadis itu menunduk, meremas bajunya.


“Memangnya kenapa? Aku ingin bertemu dengan Robbi. Dimana dia?” tanya Melani.


“Sebaiknya kalian pergi, percayalah. Di sini sedang tidak ada orang dewasa ataupun pembimbing. Ini tempat bebas. Lagian Robbi dan teman-temannya suka nongkrong di aula lama yang sudah tak terpakai lagi. Cepatlah pergi dari sini!”


“Kak, benar kata dia. Ayo kita pergi, tempat ini juga tidak ada CCTV, tempat ini sudah lama tak terpakai. Ayo kita pergi.” ajak Melina.


“Aku tak bisa pergi, aku harus menemui Robbi!” sahut Melani keras kepala. Ia terus berjalan pergi.


“Semoga kau dan saudari kembarmu baik-baik saja di dalam.” ucap pria itu menatap sendu punggung Melina yang mengejar Melani.


Melani terus berjalan, langkahnya sempat terhenti melihat bangunan aula yang usang itu terlihat sedikit seram. “Ayo Kak, kita pulang saja.”


“Ah, kau ini, dasar penakut!”


Melani terus melangkah, masuk ke dalam aula itu. Di dalam, mereka sudah di sambut beberapa pemuda, ada yang bertato seperti anak jalanan dan ada sebagian yang mereka kenal sebagai fuckboy di sekolah.


Di pojok sana ada Robbi, duduk diantara mereka.

__ADS_1


Seseorang berdiri. Berjalan mendekat, “Hai, Sayang. Kau datang kembali. Bahkan kini kau membawa saudari kembarmu.”


“Kami datang ke sini ingin bertemu dengan Robbi.” Melani menatap tajam pemuda bertato itu. “Robbi, kemarilah, ada yang ingin aku bicarakan padamu, penting.” teriak Melani, mereka berjarak cukup jauh.


“Eh, Rob. Denger gak, caem-caemanmu datang.” ucap yang lain terkekeh.


Melina menggenggam tangan Melani. “Ayo kita pergi saja dari sini.” pinta Melina memelas.


“Dia harus bertanggungjawab.” hardik Melani dengan suara keras.


“Apa yang ingin kau katakan, katakan saja.” ucap Robbi membalasnya dengan berteriak.


“Ini penting! Aku harus bicara berdua denganmu.”


Robbi berdiri, berjalan mendekati mereka, lalu menggondan pemuda bertato yang masih berdiri di hadapan Melina dan Melani.


“Apa?” tanyanya santai.


“Adikku hamil, kau harus bertanggungjawab.”


“Kenapa aku harus bertanggungjawab. Gugurkan saja!”


“Kau ini benar-benar bajing*n, ya!”


Melani menatap Melina yang merunduk dan menangis. “Katakan Melina, dia 'kan orangnya? Atau siapa?”


“Hahahaha. Teman-teman, gadis manis kita ini hamil, siapa yang mau bertanggungjawab?” tanya pemuda bertato itu tertawa terbahak-bahak.


“Apa maksudnya Melina?” tanya Melani menyelidik.


“Biar aku kasih tahu. Adikmu ini demi cinta dan sayangnya pada Robbi, ikutan pesta beberapa saat yang lalu di sini.” sahut pemuda bertato.


“Bukan hanya aku sendiri yang melakukan itu, kau ingatkan, mereka juga melakukannya.” sambung Robbi.


“Apa maksudnya Melina? Apa yang terjadi? Kau di perk*sa?”


Melina menitikkan air matanya. “Kalian memperkosa adikku? Aku akan melaporkan perbuatan kalian pada polisi.” seru Melani.


“Ayo kita pergi!” Melani menarik tangan Melina.


“Eh, jangan pergi dulu, Sayang. Kau mau melaporkan kami pada polisi?” Pemuda bertato mencengkram lengan Melani.


“Perlihatkan vidionya pada gadis ini.” Seseorang menyerahkan handphonenya pada Melani.


Ia melihat beberapa Vidio di dalam handphone itu. Yang pertama terlihat Melina yang melakukan dan memanjat Robbi, lalu video selanjutnya tampak mereka menggilir Melina.

__ADS_1


Tangan Melani bergetar hebat, airmatanya menetes. “Apa ini Melina?” tanyanya berurai airmata.


“Kak, aku akan jelaskan. Ayo kita pergi.”


“Kalian tak bisa pergi, sebelum bersenang-senang dengan kami. Kalau tidak video ini akan kami sebarluaskan.” ucap pemuda itu tersenyum licik.


Mengancam Melani seperti ia mengancam Melina.


“Kau pikir aku bodoh! Ayo kita pergi, aku akan melaporkan mereka ke kantor polisi.”


Pemuda bertato langsung menangkap Melina, lalu yang lain menangkap Melani. “Gadis nakal, kau pemberani juga, ya.” Seseorang yang paling besar dan terlihat sudah dewasa berdiri dari duduknya, sepertinya laki-laki itu adalah ketua mereka semua.


“Jangan, saya mohon, lepaskan saudari saya. Jangan sakiti dia!” teriak histeris Melina.


Pria itu mulai mengelus wajah Melani yang menatapnya dengan tajam, meraba paha Melani dan menepuk pantat gadis itu. “Padat, aku suka ini.” ucapnya.


“Aku mohon, jangan lakukan itu, aku mohon. Lakukan saja padaku, aku mohon. Aku akan melayani kalian bersenang-senang. Tolong jangan lakukan pada saudariku.” ujar Melina meratap.


Melani sekarang benar-benar sadar, bagaimana posisi mereka sekarang, setelah melihat beberapa laki-laki yang datang bertambah banyak entah darimana. Pantas saja, sejak tadi Melina dan pemuda yang di depan tadi melarang. Inilah yang disebut dengan nasi telah menjadi bubur. Ia sungguh menyesal datang ke tempat ini.


Waktu tak bisa di putar kembali. “Ambil handphone mereka. Ayo kita bersenang-senang.” perintah pemuda itu.


“Tolong lakukan saja denganku, aku mohon.” pinta Melina memohon.


“Baiklah, Sayangku.”


Mereka melakukan itu dengan kejam di hadapan Melani yang masih di pegang. “Hentikan, lepaskan adikku.” lirih Melani menangis pilu.


“Ah, sepertinya aku tak tahan menontonnya saja. Mari kita lakukan juga gadis galak.” Ketua pimpinan itu langsung mengelus wajah Melani.


Melina yang melihat itu langsung mendorong beberapa pria luknut yang mengerubungi tubuhnya. “Lepaskan Kakakku, bukankah tadi kita sudah sepakat, kau akan melepaskan Kakakku jika aku melayani kalian.” teriak Melina.


“Bodoh! Kau masih saja bodoh.” ucap Robbi yang sedang menonton.


“Lepaskan Kakakku!”


“Apa yang mau kau lakukan?” Melani melawan, tapi tentu saja perjuangannya di lumpuhkan. Karena di sini begitu banyak laki-laki luknut.


“Jangan buang-buang tenaga begitu, ayo sediakan kamera untuk mengambil video gadis ini.”


“Hahaha. Ayo gadis galak, aku akan membuatmu jinak. Mari bermain dengan Abang, kau pasti akan suka dan mengingatnya seumur hidupmu. Ia mulai menciumi wajah Melani yang di pegang beberapa pria, lalu mencium bibir Melani.


Melani mengigit bibir itu dengan sangat kuat sampai berdarah.


“Kau!!” Ia langsung menampar Melani sampai pingsan.

__ADS_1


__ADS_2