
Dua manusia yang saling berpelukan tapi beda perasaan. Dimana jantung Satria menari-nari bahagia, sedangkan Nurbaya biasa saja.
“Kenapa Kakak belum memakan coklat itu?” tunjuk Satria. Ia melihat coklat pemberiannya sudah menumpuk di sudut meja, belum di makan oleh Nurbaya.
“Kakak lagi diet.” jawab Nurbaya.
“Kenapa diet?” tanya Satria.
“Biar langsing, Kakak tak ingin gemuk. Kalau langsing itu cantik, menggemaskan dan imut.” ucap Nurbaya sembari merebahkan tubuhnya di ranjang.
“Bukankah Kakak bilang orang gemuk itu menggemaskan dan imut?” Kakak bilang padaku, kalau aku ini imut dan menggemaskan. Kakak menyuruhku makan banyak. Sekarang Kakak malah bilang kalau langsing itu cantik. Berarti aku tidak tampan? Apakah pria kurus itu tampan?”
“Heheheh.. Iya, kamu imut, bisa cubit pipi dan tepuk pantatmu, empuk!” Nurbaya menjawab dengan terkekeh.
“Jadi, Kakak hanya suka mencubit pipi dan menepuk pantatku?” tanya Satria, Nurbaya mengangguk.
“Jadi aku tidak tampan?!!!”
“Hmmmm...” Nurbaya berpikir, meletakkan jarinya di dagu. Lalu terkekeh.
“Kenapa Kakak tertawa?! Jadi benar, kalau Kakak suka pria kurus itu?” Satria keluar dan menghempaskan pintu kamar Nurbaya kuat.
“Eh, kenapa tuh bocah? Sebentar-sebentar merajuk, sebentar-sebentar ngambekan, sebentar-sebentar baik. Dasar anak kecil!” ucap Nurbaya geleng-geleng.
“Uuuh!!! Jadi, pria kurus itu tampan? Jadi, pria kurus itu selera Kakak?! Satria menggerutu sepanjang jalan.
“Kenapa cucu Nenek?” sapa Aira.
“Kakak menyukai pria lain Nek!” Satria merengek.
“Kakak suka yang langsing. Sedangkan aku gemuk!” Memeluk Aira.
“Tapi Nenek suka kok, gemuk kan menggemaskan.” puji Aira.
“Nenek bohong!” Melepaskan pelukannya dari Aira. Berlari keluar rumah.
“Tuan Muda, hati-hati! Jangan lari-lari, nanti jatuh.” ucap Mona menegur Satria.
Satria tak menggubrisnya. “Apakah Nurbaya menjahili Tuan Muda lagi ya?” pikir Mona.
“Anak itu tidak pernah jera, aku harus menghukumnya.” gerutu Mona.
**
Satria menelfon Pak Hamdan beserta dua pengawalnya. Ia memutuskan pergi ke taman kota. “Pak, apa laki-laki gemuk itu tidak tampan?”
“Tampan itu relevan Tuan. Tergantung orang yang memandang. Mungkin saja banyak yang bilang kalau Nazriel Ilham itu pria tampan, tetapi ada juga orang bilang Ahmad Dhany lebih tampan dari Ariel.”
“Kalau menurut Pak Hamdan, aku tampan tidak?” tanya Satria.
“Tentu saja.”
__ADS_1
“Tapi aku gemuk! Bukankah yang gemuk itu tidak tampan.”
“Siapa bilang, Tuan Muda sangat menggemaskan.” sahut Pak Hamdan.
Tak lama, Laki-laki kurus yang mendekati Nurbaya minggu lalu datang, pria itu memilih jogging di sana. Pria tinggi jangkung, berambut cepak.
“Paman, kalian lihat pria itu? Pria yang mendekati Kak Nurbaya minggu lalu kan?” ucap Satria pada pengawalnya.
“Iya, Tuan Muda.”
“Dia ngapain lari-lari begitu?”
“Olahraga, Tuan Muda.”
“Supaya kurus? Bukankah dia sudah kurus?”
“Bukan, Tuan Muda. Olahraga itu bukan untuk membuat badan kurus, tapi membentuk postur tubuh lebih bagus dan tubuh lebih sehat.”
“Maksudnya membentuk tubuh bagus itu, dia berlari-lari dan olahraga agar berotot?” tanya Satria, pengawal itu mengangguk. “Iya, Tuan Muda.”
“Dia mau terlihat tampan di depan Kakak! Ini tidak bisa di biarkan. Aku juga harus kurus dan berotot. Katakan pada Kakek, carikan aku binaragawan yang hebat!” perintahnya pada pengawal.
“Baiklah, Tuan Muda.
“Aku akan menjadi pria tampan Kakak. Tenang saja!” gumam Satria percaya diri dalam hati.
**
Ia fokus menguruskan badannya sambil memulai mendalami pelajaran bisnis keluarga. Satria yang memang pintar tak pernah kesulitan dalam belajar sesuatu apapun.
“Bi, Kak Aya mana? Kenapa Kak Aya belum pulang juga? Sudah jam 10 malam.” protes Satria yang menunggu Nurbaya sejak tadi di teras.
“Nurbaya tidur di rumah temannya Tuan Muda.” jelas Mona.
“Kenapa Bibi membiarkan Kak Aya keluar rumah sih? Malam ini kan malam minggu!”
“Sekarang Bibi telfon Kak Aya, aku dan Pak Hamdan akan menjemput Kak Aya.”
Mona pun menelfon Nurbaya, namun panggilannya tak di angkat. Satria menendang-nendang tembok karena kesal. “Di mana alamat rumah temannya Bi? Aku akan menjemput Kakak pulang!”
“Hm... Ta...” ucapan Mona terpotong.
“Gak ada tapi-tapi Bi! Anak gadis itu tidak boleh keluyuran malam-malam.
“Bibi tidak tau Tuan Muda, maaf.”
“Gimana sih Bibi. Masa gak tau rumah teman Kakak, tapi di izinkan tidur di rumah temannya itu! Bagaimana kalau Kakak kenapa-kenapa!” sungut Satria kesal.
“Maaf Tuan Muda.”
“Nama teman Kakak itu siapa?”
__ADS_1
“Melani, Tuan Muda.”
“Kepanjangannya? Atau nama keluarganya?”
“Maaf, Bibi tidak tahu Tuan Muda.” jawab Bibi Mona, membuat Satria berdecih sebal.
“Ya sudah, aku akan menyuruh Paman pengawal mencari. Bibi silahkan kembali.”
Setelah Mona pergi, Satria meminta pengawalnya memeriksa data teman kuliahan yang satu kelas dengan Nurbaya, mencari nama Melani. Ada beberapa orang yang bernama Melani.
Satria akhirnya memutuskan pergi bersama dua orang pengawalnya dan Pak Hamdan dalam satu mobil, mereka pergi ke alamat Melani yang paling dekat.
Toktoktok! Pengawal Satria mengetuk pintu setelah sampai.
“Permisi Bu, apakah di sini rumah Melani?”
“Iya, silahkan tunggu. Saya akan segera memanggilkan Melani.”
“Tidak usah repot-repot Bu. Saya kesini hanya mencari Adik saya yang bernama Nurbaya. Apakah Melani bersama teman perempuan di dalam?”
“Maaf, sepertinya Melani tidak membawa teman. Dia sendirian di kamar sejak sore.”
“Makasih kalau begitu Bu, maaf menganggu.”
“Iya, tidak apa-apa. Memangnya kemana Adiknya? Apakah ada masalah?”
“Sedikit Bu. Adik saya sedikit merajuk karena saya tidak mengajaknya liburan ke luar kota.” jawab pengawal berbohong.
“Oh begitu. Iya, anak gadis memang suka mengambek begitu. Putriku Melani juga begitu.” ucap Ibu itu ramah.
“Kalau begitu, saya permisi dulu Bu.”
“Iya, mari.”
Tiga rumah yang bernama Melani sudah di kunjungi Satria. Namun tidak ada Nurbaya di sana. Sekarang mereka sampailah di kos-kosan yang bernama Melani.
Terlihat rumah kos-kosan itu sedikit ramai, seperti acara ulangtahun. Di teras rumah kos-kosan itu, Satria melihat Nurbaya menundukkan pandangannya dengan senyum malu-malu kepada seorang pria yang cukup tampan di hadapannya.
Pria itu bukan hanya memiliki wajah yang menawan, tetapi juga memiliki tubuh yang bagus.
Malam ini, Nurbaya yang biasanya menyanggul dan mengikat tinggi rambutnya, kini menggurai rambutnya yang panjang dengan indah.
Pria itu membelai rambut panjang Nurbaya, mereka mengobrol dan saling melempar senyum.
Bugh!! Satria si bocah kelas 6 SD itu memukul kaca mobil dengan kuat.
“Apa yang di lakukan pria kurang ajar itu? Beraninya dia memegangi rambut Kakak! Akan aku patahkan tangannya! Dasar pria tidak punya malu!” sungut Satria kesal.
“Paman, ayo kita bawa Kakak pulang!” ucap Satria.
“Tapi Tuan...”
__ADS_1
“Kenapa?” Satria memelotot tajam pada pengawalnya.