Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Ulangtahun Satria


__ADS_3

Di Perusahaan utama Damrah Groub.


Gedung yang menjulang tinggi, Bak mencakar langit di atas awan. Gedung yang di lapisi oleh kaca tebal itu terlihat begitu megah dan gagah. Di ruangan tertinggi khusus Presiden Direktur Utama Damrah Groub, Arnel Harviz Damrah.


Ia duduk di atas kursi kebesarannya yang empuk dan bisa berputar 360° itu. Dengan setelan jas hitam yang membuat Kakek itu terlihat sangat berkharisma.


Seorang bersetelan biru dongker mendekat, ia adalah Sekretaris pribadi Arnel.


“Tuan, apakah benar, saya tidak menyiapkan agenda untuk perayaan ulangtahun Tuan Muda Satria kali ini?” tanyanya kembali, ia diliputi keraguan sejak tadi.


Biasanya, setiap tahun Arnel akan merayakan ulangtahun Satria secara besar-besaran, ia akan menyewa tempat-tempat mewah, terkadang di hotel, pantai, danau, puncak atau tempat-tempat yang di minta Satria. Mengundang kolega, beberapa karyawan penting, klien, dan lainnya.


“Iya.” jawab Arnel, masih sibuk mengotak-atik laptop di atas meja kerjanya.


Sekretaris Pribadinya, menggaruk kepala yang tidak gatal. Masih belum percaya.


“Kerjakanlah pekerjaan kau yang lain, Satria tidak ingin merayakan ulangtahunnya kali ini.” sambung Arnel.


“Baik, Tuan.” Sekretaris itu kembali ke mejanya dan mengerjakan pekerjaannya seperti biasa.


Kring! Kring! Handphone Arnel berbunyi.


[Wa'alaikumsalam, Iya, Papa baik-baik saja. Bagaimana dengan kabarmu di sana?]


[Syukurlah kalau begitu. Papa berharap kamu pulang, walau bagaimanapun kau putri kami satu-satunya, kami merindukanmu.] ucap Arnel pelan, dadanya seperti bergemuruh, sebak menahan genangan air mata.


[Papa juga mencintaimu, Sayang. Cepatlah pulang]


[Iya, Satria tidak merayakan ulangtahunnya kali ini. Dia pasti merindukanmu, kau kan tahu bagaimana anak itu.]


[Baiklah Sayang, Love you too.] Sambungan telepon pun di akhiri.


Arnel mengelus wajahnya. Putri satu-satunya, Humaira Anjani Damrah. Semenjak meninggalnya Ari Damrah, Humaira jarang di rumah, bahkan setelah itu, disusul meninggalnya Agung Eldo Damrah, ayahnya Satria.


“Semoga kau baik-baik saja di negri orang putriku....” ucapnya lirih.


**


Di ELV SCHOOL.


Teman-teman Satria mulai bertanya, kenapa undangan ulangtahun Satria belum mereka dapatkan, mereka bertanya pada Akbar dan Jimi.


“Ah, aku tak bisa memakan makanan enak kelas elit deh, padahal aku berharap bisa makan puas kali ini.” ucap pemuda berbadan subur.


“Kau ini, makan saja pikiranmu.”


Sedangkan Satria cuek dan tak peduli. Ia duduk bersandar di kursi, memasang handset di telinganya.


“Sat, anak-anak ribut tuh! Kenapa tak adakan party kecil-kecilan saja?” tanya Akbar.


“Mereka tak penting!”


“Kau ini, sombong sekali! Di dunia ini, kita hidup saling membutuhkan satu sama lain. Ki...” ucapan Akbar terpotong.

__ADS_1


“Aku tak butuh mereka, cukup kalian berdua yang ku butuhkan.”


“Satriiiaa, tiba-tiba saja aku langsung jatuh hati padamu.” Merengkuh Satria manja karena terharu, begitu pula Jimi juga ikut-ikutan gemoy.


“Lepasin!” Menatap tajam mereka berdua.


Mereka masih memeluk erat Satria, tak peduli dengan tatapan tajam itu.


“Sudah?” tanya Satria risih, setelah beberapa detik Jimi dan Akbar memeluk.


**


Hari H, ulang tahun Satria.


Rumah telah didekorasi dengan sangat indah oleh para pelayan secara gotong royong. Untuk pertama kalinya, rumah ini di gunakan untuk acara ulangtahun. Biasanya hanya pelayan pilihan yang ikut acara ulangtahun Satria, seperti di hotel, puncak, pantai dan danau. Sedangkan yang lain hanya bisa melihat videonya dan mendengar cerita ke cerita pelayan yang hadir.


Nurbaya juga sibuk menjahit sesuatu yang baru ia beli dengan tangannya sejak dini hari.


Bunga-bunga putih dan balon tersusun secantik mungkin. Pelayan sedang bersiap dengan pakai terbaik mereka, begitupula Jimi dan Akbar sedang dalam perjalanan ke rumah dengan pakaian formal.


Satria dengan setelan jas berwarna silver, rambut di sisir rapi ke belakang, membuatnya terlihat seperti model Korea yang profesional. Maklum, Satria adalah keturunan Indonesia-Korea. Ayahnya Indonesia, Ibunya Korea.


“Tuan Muda sangat tampan sekali.” puji Bi Mona.


“Sangat tampan.” anggukan setuju lainnya.


Kue besar nan tinggi terhidang paling depan, serta cemilan lainnya. Satria duduk di depan kue itu dengan kursi megahnya. Bak Pangeran sedang menduduki kursi kebesarannya.


Acara pun di mulai.


Tak lupa, hadiah terspesial dari Humaira, serta Arnel dan Aira. Mereka bertiga memberikan sebuah akte tanah yang cukup luas. Sedangkan Nurbaya memberikan hadiah paling terakhir.


Satria tersenyum, namun ia masih melihat jam yang melingkar di tangannya, entah siapa yang masih ia tunggu. Sampai acara selesai dan malam pun telah larut. Seseorang yang ia tunggu tidak kunjung datang.


Satria masuk ke dalam kamarnya, dibantu oleh Bi Mona yang membawa banyak bingkisan.


“Bantu aku buka, Bi. Kecuali ini.” Ia menyisihkan kotak hadiah dari Nurbaya, langsung menyembunyikannya.


Bi Mona membantu membuka semua hadiah.


“Wah, ini bagus.”


“Lucunya.”


“Ini pasti cocok.”


Bla...Bla..Bla... Ciloteh Bi Mona memuji semua hadiah yang di berikan pada Satria. Mereka begitu menyukai Tuan Muda itu, di lihat dari hadiah yang mereka berikan.


“Simpan semua di sana, Bi.” pinta Satria lagi, setelah membuka semua hadiah.


“Makasih banyak, Bi. Kalau begitu aku tidur dulu.”


“Baiklah, Tuan Muda. Permisi.” Bi Mona pun pergi.

__ADS_1


Satria membersihkan diri, lalu membaringkan tubuhnya hingga terlelap.


**


Di dalam kamar, Nurbaya telah membersihkan dirinya, mencoba tidur, namun tak bisa. Ia masih mengingat jelas, Satria seperti menunggu seseorang.


“Siapa yang di tunggu Bocah Nakal itu? Apakah pacarnya?” pikir Nurbaya.


“Wah, parah pacarnya, di acara ulangtahun kekasihnya, ia tak datang, jangan sampai di amuk sama Satria deh tu cewek!”


“Kira-kira, seperti apa ya, pacarnya Bocah Nakal itu?”


“Lain kali, aku akan mengerjai mereka.” Nurbaya tersenyum kecil.


**


Pagi hari.


Wajah kusam Satria telah menyambut Arnel dan Aira. Entah apa yang membuat pemuda itu kesal. 'Bukankah ulangtahunnya semalam berlangsung meriah?'


“Kamu kenapa, Sayang?” tanya Aira.


“Tidak kenapa-kenapa.” sahutnya cemberut.


“Kalau tidak kenapa-kenapa, kenapa mukamu di tekuk, apalagi bibirmu maju seperti itu.”


Satria diam saja, Ia masih memakan roti bakarnya.


'Apa ini berhubungan dengan Nurbaya?' Arnel dan Aira kompak berpikir.


“Bi, Nurbaya ada di mana?” teriak Aira pada Bi Mona yang berada di kejauhan dari meja makan.


“Ada di halaman belakang Nyonya, apa perlu saya panggilkan?” tanya Bi Mona.


“Tak usah, Bi.” Satria menyahuti.


“Kamu yakin baik-baik saja, Sayang?” tanya Aira lagi.


“Ya.”


Kemudian hening.


“Aku tak suka hadiah akte tanah.” ucap Satria tiba-tiba.


Arnel dan Aira tercengang. “Kenapa?”


“Karena aku ingin hadiah yang lain. Seperti yang aku minta waktu itu, aku menginginkan sesuatu.”


“Hadiah apa?”


“Janji akan menurutinya?” tanya Satria penuh selidik.


“Tentu, jika kami bisa mewujudkannya.” sahut Arnel.

__ADS_1


Satria tersenyum.


***


__ADS_2