Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Mantan Kekasih


__ADS_3

Hari pesta pernikahan Erian Hamid Caksono.


Nurbaya memakai dress berwarna navy panjang, di lekukan pinggangnya ada pita berbentuk bunga, serta hiasan manik-manik di seluruh permukaan dress itu.


Sedangkan Satria juga memakai jas berwarna Navy, setelah mengetahui gadis pujaannya memakai dress berwarna navy. Bi Mona serta suaminya memakai pakaian batik coklat bercorak batik Palembang.


Arnel dan Aira tak kalah serasi juga, Tuan Besar Arnel memakai setelan jas berwarna hitam, sedangkan Nyonya Besar Aira memakai baju kurung berwarna putih ke hitam-hitaman.


Mereka pergi ke pesta menggunakan 3 mobil. Aira dengan Arnel, lalu Bi Mona dan Suaminya, sedangkan Nurbaya dengan Satria di antar oleh Pak Hamdan.


Sebenernya, mereka akan memakai 2 mobil, namun pemuda itu tak ingin berpisah duduk dengan Nurbaya dan tak ingin berbagi mobil dengan yang lain.


Sesampainya di hotel bintang lima yang di sewa oleh keluarga Caksono, kedatangan mereka di sambut oleh orangtuanya Erian, karena Arnel adalah orang yang paling penting untuk mereka. Bahkan ini adalah suatu keberuntungan, biasanya Arnel hanya mewakili undangan pada Sekretarias nya atau pun manager lainnya.


Semua itu hanya karena permintaan cucu semata wayangnya. Mau tak mau Kakek itu menuruti semua keinginan cucu kesayangannya itu.


Mereka bersalaman, duduk di tempat para tamu yang menghadap ke arah sepasang sejoli yang memakai pakaian pengantin.


Nurbaya lama terdiam, terpaku, melihat pasangan yang bersanding itu. Bukankah Erian berselingkuh darinya selama satu tahun bersama Melani, sahabatnya? Lalu, kenapa wanita lain yang memakai baju pengantin bersama Erian? Ke mana Melani?


•••


Hai reader, kemana Melani? Nah, coba baca kembali, bab 4, yang judulnya jebakan, di sana sudah saya tulis, kalau Erian berselingkuh, lalu pemuda itu menikah dengan kekasih barunya. Jadi, Jangan ikutan kaget seperti Nurbaya, ya!


Ok, Skip! 🌹


•••


“Kenapa, Kak?” Satria berdiri di samping Nurbaya. Melihat kemana arah bola mata Nurbaya menatap.


“Apa Kakak kenal dengan pengantin wanitanya?” tanya Satria kembali. Nurbaya menggeleng.


“Ayo!” ajak Satria.


“Apa?” tanya Nurbaya dengan tatapan bertanya-tanya.


“Tentu saja ke sana, memberikan mereka selamat. Atau Kakak masih belum berani ke sana ya? Masih takut ketemu mantan?” Satria menatap lekat Nurbaya.

__ADS_1


“Bukan,” katanya.


“Kalau bukan, ayo kita ke sana segera.” ajak Satria menggandeng tangan Nurbaya.


“Tuan Muda.” panggil Sekretaris pribadi Arnel. Langkah Satria dan Nurbaya pun terhenti.


“Tuan Muda, Kakek Anda memanggil, ada yang ingin bertemu dengan Anda.” ucapnya ramah.


Satria menatap Nurbaya, gadis itu menjawabnya dengan anggukan. “Tunggu sebentar ya, Kak. Aku ke sana dulu.” ucapnya, lalu pergi bersama Sekretaris pribadi Arnel.


Di sana, Satria di perkenalkan dengan beberapa klien penting. Mengobrol sesuatu yang tak penting bagi Satria, namun penting bagi yang lain. Pemuda itu hanya memikirkan Nurbaya, apalagi ia tak melihat gadis itu di tempat semula ia tinggalkan. Ia pun berkeliling mencari Nurbaya.


Beberapa saat yang lalu,


Nurbaya berjalan santai, mulai mendekati kudapan yang terlihat lezat, kue manis, minuman dengan warna warni, begitu menggugah selera.


Seorang wanita berbalut baju pengantin dengan rok panjangnya berjalan di samping Nurbaya, lalu berhenti, mengambil minuman, seharusnya gadis itu hanya duduk di pelaminannya, lalu minta tolong membawakan minum pada orang lain, tak perlu bersusah-payah seperti ini.


Gadis berpakaian pengantin itu sengaja, ia menyenggol gelas itu sampai tumpah mengenai pakaian Nurbaya.


“Upz, sorry!” ucapnya Angkuh.


“Kau, Nurbaya, kan?” tanya gadis berpakaian pengantin itu.


“Iya.” jawab Nurbaya.


“Kau, mantan kekasih, suamiku, kan?” tanyanya lagi.


Nurbaya hanya diam saja, ia meremas jemarinya yang berada di samping pahanya.


“Kau anak pembantunya Keluarga Damrah yang punya penyakit kelainan sex, Erothophobia itu, kan?” ucapnya dengan senyuman penuh mengejek.


Nurbaya menatap gadis itu, marah dan sedih bercampur jadi satu.


“Kalau di lihat-lihat, wajar saja suamiku tak suka denganmu, wajah biasa saja, body pas-pasan, miskin, anak pembantu, gak pintar dan punya penyakit Erothophobia lagi.”


Ingin rasanya Nurbaya menyiram wanita di depannya itu dengan air yang ia pegang. Tapi ia cukup sadar diri, dia siapa? Kalau bukan karena dia mantan Erian, mungkin keluarga mereka tak akan berada di acara orang kaya seperti ini.

__ADS_1


Ia sedih, tak menyangka kalau Erian akan menjelek-jelekkan dirinya pada istrinya. Apakah pemuda itu menjelekan dirinya pada semua orang yang dekat dengannya?


Lelaki yang menjadi mantan Nurbaya itu datang mendekat ke arah mereka. “Sayang, kok lama sekali?” sapanya pada wanita yang baru ia nikahi itu.


“Aku hanya mengobrol ringan dengan mantanmu.” sahut wanita itu.


Erian menatap Nurbaya, entah tatapan apa itu, entah menyesal, entah mengejek atau pandangan kasihan.


“Mantanmu ini jelek sekali Mas, kenapa kamu bisa berpacaran dengannya sampai 6 tahun lamanya?” tanya wanita itu bergelayut manja di lengan Erian.


“Waktu itu aku sedang buta, Sayang. Jika di tanya sekarang, sepertinya aku akan menyesal telah mengenalnya. Ayo kita kembali ke tempat duduk.” ajak Erian.


Hati Nurbaya benar-benar tercabik rasanya. Erian yang ia kenal, bukanlah seperti ini. Pemuda itu periang, tak pernah membandingkan manusia dengan harta ataupun rupa, ramah dan baik hati.


Di mana Erian yang ia kenal itu? Erian yang telah merebut seluruh hatinya dan membawa separoh hati itu pergi bersamanya.


Penghinaan yang dilontarkan istri Erian tadi, membuat Nurbaya tak bisa lagi menahan sesak di dadanya. Ia berjalan perlahan mencari tempat yang sepi, menahan genangan air mata yang hampir tumpah.


Ia keluar dari aula hotel itu, lalu berhenti di koridor hotel, bersandar di dindingnya, menumpahkan air mata yang sejak tadi sudah tergenang di pelupuk mata.


'Erian, kenapa kau menyakiti aku seperti ini?' tanya Nurbaya dalam hati


Masih teringat dalam benak Nurbaya.


'Iya, aku bisa menunggumu sampai hatimu sepenuhnya mencintaiku, aku akan menunggu.'


'Tentu saja aku akan membuatmu jatuh hati padaku, kita akan hidup bersama selamanya sampai rambut kita memutih, tolong percaya dan jangan ragu padaku, bukalah hatimu sepenuhnya padaku.'


'Apa yang kau pikirkan, Aya? Aku tak akan memandangmu dari fisik ataupun status sosial. Kamu cantik bagiku, aku tak peduli dengan penilaian orang lain, yang menjalani hubungan ini aku, bukan mereka. Aku tak peduli kamu anak pembantu sekalipun, tidak ada bedanya, yang penting, aku mencintaimu, Aya.'


'Aku sangat mencintaimu, tak ada wanita lain di hatiku, hanya kamu.'


Airmata Nurbaya semakin menderas, tatkala mengingat itu.


'Kau melupakan semua janji dan ucapanmu kala itu padaku, kau berselingkuh dengan sahabatku sendiri, sekarang kau menikah dengan wanita lain. Apakah kau juga menyelingkuhi Melani?'


“Kakak!” Suara panggilan terdengar dari kejauhan.

__ADS_1


Nurbaya menghapus air matanya, menoleh ke arah sumber suara yang sedang berlari kecil menghampiri dirinya.


“Kenapa Kakak di sini?” tanya Satria.


__ADS_2