
Satria terlebih dahulu turun ke meja makan sendirian, sedangkan Nurbaya baru saja mandi. Arnel telah pergi ke kantor sejak tadi pagi, sedangkan Aira sengaja menunggu cucunya untuk berbincang-bincang.
“Kok kamu turun sendirian, mana Nurbaya?” tanya Aira.
“Dia baru bangun dan sekarang sedang mandi. Aku sangat lapar, jadi turun duluan.” jelasnya.
Bi Mona menghidangkan makanan kesukaan Tuan Muda nya itu. “Makasih, Bu.” ucapnya tersenyum. “Apa Ibu sudah makan?” tanya Satria.
“Sudah, Nak. Silahkan makan,” kata Bi Mona lembut.
“Ibu duduk di sini saja, temani aku makan.” pintanya, Bi Mona pun mengangguk.
Semenjak Satria menikah, Arnel dan Aira sudah mengusulkan Bi Mona dan suaminya pensiun dari pekerjaannya, mereka cukup duduk saja, Arnel akan membuatkan mereka usaha kecil-kecilan. Namun, Bi Mona tak bersedia, Ia hanya ingin melayani Satria sampai tutup usia, sampai ia tak bertenaga lagi. Baginya, Satria adalah putra kandungnya, walaupun tak menikah dengan Nurbaya.
Semenjak Ia merawat Agung, ayahnya Satria dari bayi, Ia telah sangat menyayangi putra Arnel itu, apalagi saat itu ia telah lama tak dikarunia anak. Entah berapa lama ia menikah, tak juga di beri anak, hingga Agung dewasa barulah Bi Mona hamil.
Setelah melahirkan Nurbaya, ia tak berniat sedikitpun menunda kehamilan, namun keinginannya untuk hamil kembali tak bisa, bahkan Nurbaya sering merengek meminta adik saat melihat teman-temannya memiliki adik.
Suatu hari, putra yang ia rawat itu menikah dan melahirkan Satria. Saat Satria menjadi bayi yang sangat lucu, Nurbaya menangis meminta adik, “Sudah jangan menangis, Sayang. Ini kan adik dedek juga. Ayo cium dulu, adiknya.” ucap Agung kala itu membujuk Nurbaya. Gadis itu pun tersenyum bahagia, Ia selalu di samping Satria bayi.
Kebahagian Nurbaya tak berlangsung lama, Agung harus kembali ke Korea bersama istrinya, “Kakak harus tinggalkan adik untukku, jangan di bawa juga, bukankah Kakak saat itu bilang ini dedek ku?” Nurbaya memegangi tangan Satria kecil.
“Sayang, Kakak tidak bawa dedeknya kok, adik bayinya harus berobat dulu, nanti setelah sembuh, dedeknya dibawa pulang lagi, terus main sama Aya, ya.” bujuk Istri Agung.
“Kalau begitu, aku pergi juga.” Nurbaya yang jelas-jelas sudah SMP ini, masih saja berkelakuan anak-anak, apalagi menyangkut masalah adik. Ia terus merengek.
“Baiklah, tapi mobil Kakak gak muat, Aya nanti naik mobil Pak Hamdan, ya?” Nurbaya pun mengangguk dan dia pun tertipu.
__ADS_1
Agung telah membawa Satria dan istrinya naik pesawat menuju Korea, sedangkan Nurbaya dibawa berputar-putar oleh Pak Hamdan sampai tertidur.
Saat bangun, ia menangis. Bi Mona sampai kewalahan membujuknya, hingga Arnel berjanji, nanti adiknya akan sering-sering pulang. Barulah Nurbaya setuju.
Beberapa tahun berlalu, janji Arnel tak di dapati nyata oleh Nurbaya, hingga Ia telah masuk SMA. Ya, Nurbaya juga sudah cukup pintar, Ia bermain-main dengan anak-anak lain, namun tak ada yang semenggemaskan adik kecilnya itu.
Hingga suatu hari, Ia di jemput Pak Hamdan ke sekolah. “Kok, bukan Ayah yang jemput aku? Kok, Bapak sih?” tanya Nurbaya.
“Ada sedikit masalah Neng, ayo pulang sama Bapak.”
Nurbaya pun pulang. Di rumah keluarga Damrah, Ia telah melihat dua mayat terbujur, lalu adik kecilnya menangis dalam pangkuan Ibunya. Rumah itu begitu sangat ramai. Nurbaya melewati pintu belakang, di halaman samping.
Setelah berganti baju, Ia mendekat melihat siapa yang meninggal, Ia lihat kalau itu adalah Agung dan Istrinya. Nurbaya pun menangis, baginya Agung adalah sosok Abang yang baik hati, bukan majikan yang memandang dia anak pembantu, apalagi Humaira adiknya Agung juga sangat baik.
Humaira duduk gemetar di ujung sana, Ia di peluk erat oleh suaminya. Arnel dan Aira tampak kusut. Apalagi Aira, ia memang tak terlihat mengeluarkan air mata, namun terlihat jelas kalau airmata itu jatuh ke dalam.
**
Arnel dan Aira serta orang-orang yang ada di dalam ruangan sidang itu terkesiap mendengar. Arnel mengharu biru, karena cucunya memilih bersamanya, beberapa kali Satria di tanyakan, “Apakah kamu di paksa, Nak?” Kira-kira begitu pertanyaan beberapa orang.
Satria kecil sangatlah berani dan pintar. Ia menjawab tegas, kalau dia yang memilih tinggal bersama Kakeknya.
**
Sore hari, Nurbaya pulang sekolah sore. Pakaian putih abu-abu nya melambai-lambai diterpa angin, apalagi rok pendeknya itu. Satria kecil terus memandangi Nurbaya.
Entah darimana Satria menyukai Nurbaya, namun setiap hari Agung dan Istrinya sering menceritakan Nurbaya sangat menyayanginya. “Apa kau ingin bertemu Kakak cantik? Dia sangat merindukanmu, apa kamu mau bertemu dengannya?” Satria mengangguk.
__ADS_1
“Baiklah, beberapa hari lagi kita pulang ke Indonesia, bertemu Kakak cantik.” Satria tersenyum bahagia. Ia hanya melihat Nurbaya selama ini melalui video call. Menurutnya Nurbaya memang cantik, tak seperti wanita di Korea.
Faktanya, Satria lebih tertarik dengan wanita bermata sedikit besar, kulit sawo matang milik wanita Indonesia. Sedangkan di Korea, ia hanya melihat keluarga dan temannya bermata sipit dengan kulit yang sangat putih. Padahal Satria sendiri memiliki kulit seputih susu milik keluarganya, namun matanya bulat seperti mata Agung.
Nurbaya langsung berlari ke arah Satria, langsung memangkunya. Muuach! Muuach! Ia langsung mengecup ke dua pipi Satria gemes.
“Hei, Adik kecil, benarkah kau akan tinggal di sini? Kau tak akan pergi lagi ke Korea meninggalkanku?” Ia menggembungkan pipinya menatap wajah imut Satria.
Satria menatap Nurbaya, Ia belum mengenali sifat bidadari cantiknya itu. “Lihatlah, kau begitu menggemaskan kesayanganku, muach!” mengecup bibir Satria kecil.
Pipi Satria memerah. “Kawaii,” kata Nurbaya cekikikan. Ia sekali-kali meledek Satria kecil dengan bahasa Korea yang terdengar sedikit sumbing saat ia bicara.
“Ini, untukmu. Ayo, kita sembunyi memakannya. Nanti Ibu marah. Ayo, ayo.” Ia memberikan es krim vanilla coklat ke tangan Satria, lalu menggendongnya ke dalam kamar.
Mereka memakan es krim di sana. Baru saja habis setengah, baju Satria berlepotan, “Kau tak pernah makan es krim?” tanyanya, Satria menggeleng.
“Wah, kasihan sekali kamu. Tenang, setiap pulang sekolah, Kakak akan memberikanmu makanan yang tak pernah kamu makan.” Nurbaya membersihkan pakaian Satria yang kotor.
Anak laki-laki kecil itu terus saja menatap Nurbaya sambil tersenyum malu-malu. “Makasih, Kakak.” ucapnya.
“Cuma bilang makasih?” Satria terpana. Satria hanya diam sambil Berpikir, memangnya apa yang harus ia ucapkan?
“Kau harus mencium tanganku.” Nurbaya menyodorkan tangannya, “Ayo, cium.” Satria tersenyum, lalu menciumnya.
Beda daerah beda culture, Saat Nurbaya meminta mencium tangannya, artinya itu ciuman penghormatan, sedangkan di Korea, ciuman penghormatan itu bersimpuh dikaki yang lebih tua, Satria tak pernah di ajarkan mencium tangan perempuan, jika mencium tangan perempuan artinya itu ciuman kasih sayang. Lalu, diberikan bunga atau hadiah. Begitu yang pernah ia lihat.
Jadi, Satria kecil telah menganggap Nurbaya kekasihnya sejak itu. Berbanding terbalik dengan Nurbaya yang hanya menganggap Satria adik kecilnya.
__ADS_1