
Setelah Melani membawa Nurbaya dan anak kecil itu keluar dari ruangan, ia harus menghadapi banyak ruangan yang terlihat sama, jalan yang begitu banyak cabangnya. Melani menggunakan instingnya, Ia meletakkan beberapa permen dengan cepat di beberapa pintu ruangan.
Ia menghitung satu sampai 10.
10! Bumz! Meledak. Semua manusia bersenjata itu keluar, Mereka bertiga sekarang terkepung.
“Damn!” Seseorang berbadan kekar dengan wajah sangar menatap Melani tajam.
Tak ada rasa takut di wajah Melani, ia malah sempat tersenyum, berbeda dengan Nurbaya yang sudah pucat ketakutan.
Melani memasukkan tangannya ke kantong celana, mengambil semua permen, tangan satu lagi melempar sesuatu yang kecil, sebesar pulpen. Benda itu mengeluarkan asap hitam pekat. Melani bergegas menarik tangan Nurbaya dan anak kecil itu sembari melempar semua permen dari kantong celananya.
Bumz! Bumz! Meledak! Mungkin tak ada yang selamat jika semua orang yang ada di sana tak menghindar.
Melani berusaha kuat, ia terus berjalan, hingga mereka berada di jalan buntu. Sepertinya Melani salah jalur, karena perutnya yang sangat sakit, ia tampaknya tak fokus lagi. Pahanya mulai terasa basah.
Ia masih menahan sakit, tak mau Nurbaya cemas, namun tubuhnya tak bisa lagi dipaksa kuat, ia terjatuh, untung saja Nurbaya peka, cepat menyambutnya.
“Kita sembunyi di sana.” Melani menunjuk sebuah tempat di ujung sana. Mereka bertiga bersembunyi di sana.
“Mel.” lirih Nurbaya, air matanya mengalir. Ia melihat darah mengalir di paha wanita hamil besar itu.
“Jangan cemas, sebentar lagi Erian dan polisi akan sampai di sini. Lihat, tanda ini semakin dekat.” Melani memperlihatkan cahaya kecil berwarna merah di gelang tangan yang ia pakai.
Sayang, seribu kali sayang, walaupun orang-orang yang di lalui Melani tadi habis meledak, bukan berarti di ruangan lain tak ada manusia. Semakin berisik, semakin keluarlah orang-orang itu. Kini keberadaan mereka bak berada di sarang harimau. Mereka terpojok.
Suara langkah semakin mendekat, lalu tak lama pistol menempel di kepala Melani dan Nurbaya.
“Damn!” Tatap seseorang tajam, “Stray cat!” desisnya.
__ADS_1
“I like you, gilr,” Seseorang dengan wajah tergores di pipi mendekat, lalu mengelus pipi Melani.
Cuih! Melani meludahi pria itu. Ia malah menghapus dan menjilatinya, menjijikkan. Ia memberikan satu isyarat kepada bawahannya, mereka menyeret mereka bertiga, namun Melani masih memberontak.
Pria itu menatap perut besar Melani, keadaan wanita itu sudah kasihan, kakinya yang sudah mengeluarkan banyak darah, tetapi dia masih melawan.
“Stop!” Erian dengan bodohnya langsung muncul karena melihat keadaan Melani. Ruth berdecih, ia menggenggam tangan Satria, lalu menggeleng. Jangan sampai pemuda itu juga muncul dengan bodoh karena melihat Nurbaya di sana.
“Wow!” Dia memberikan kode mata, bawahan pria itu menangkap Erian, lalu mereka berpencar dan mereka pun menemui Ruth dan Satria yang sedang bersembunyi.
Mereka menendang betis Satria dan Ruth, sampai mereka berjongkok dengan meletakkan tangan di kepala belakang, mereka menyita senjata Ruth, sedangkan tubuh Satria polos tanpa senjata.
Dor! Dor! Brak! Suara ribut terdengar di tempat lain. Seseorang terluka berjalan ke arah mereka.
Plak! Bukannya di tolong, yang berjalan dengan terluka itu malah dapat tamparan keras.
“Chaotic state!” bisik bawahannya. Mata pria itu melebar.
Ia langsung menodongkan pistolnya pada Nurbaya. Dari pandangan mata, ia yakin, Satria menatap ke arah Nurbaya, sedangkan Erian terlihat menatap Melani.
Keadaan Satria sekarang setengah berlutut dengan dua tangan dibelakang kepala, ia berdiri karena cemas Nurbaya akan di tembak. Nurbaya gemetar ketakutan, bahkan ia pipis dalam celana.
“No!” Melani menghadang. “Please, You can kill me, not her.”
Dalam keadaan tegang, suara mobil polisi berbunyi, Police! There are police here!
Mereka pun kalang kabut, menyelamati diri, sebelum itu, mereka membawa Nurbaya dan Melani sebagai sandra, lalu meninggalkan anak kecil. Bawahan Ruth menyelamatkan anak kecil itu. Polisi dan bawahan lainnya masih mengikuti mereka yang membawa Nurbaya dan Melani.
“I Will kill her!” Mereka menodongkan senjata ke kepala Nurbaya dan Melani, sembari berjalan menuju jet di atas atap.
__ADS_1
Di atas atap, anak buah Ruth sudah menyebar sejak tadi. Mereka telah merusak semua kendaraan, dari mulai mobil, motor, dan jet di atas atap.
Boss mereka naik ke atas Jet tergesa-gesa, setelah sampai di dalam, kepalanya di todong dengan senjata.
“Put down your weapons!”
Mereka tak ada yang mengalah untuk meletakkan senjata, posisi mereka sekarang sama-sama terancam. Boss mereka di sandra, namun mereka juga menyandra dua wanita yang sangat penting.
Melani bermain mata dengan Erian yang berdiri tak jauh, Satria juga sudah tegang. Nurbaya terlihat pucat ketakutan. Melihat ada celah, Melani menyandung lelaki yang menodongnya, menyikut perut lelaki itu.
Dor! Melani tertembak!
Dor! Dor! Dor! Erian tertembak di dadanya.
Dor! Dor! Saling tembak menembak. Nurbaya jatuh pingsan.
Erian terus mencoba merangkak, mendekap Melani yang tertembak, ia menangis. “Aku sangat mencintaimu.” ucapnya sangat pelan, di genggamnya erat tangan Melani. Air mata Melani mengalir dalam kesakitannya. Rasa sakit yang sangat luar biasa, perutnya yang mules serasa ingin melahirkan, dan satu buah luka tembakan di tulang selangkanya.
Ruth dan bawahan Ruth serta polisi menembak dan meringkuk semua orang yang berada di sana. Mereka membawa Nurbaya, Melani dan Erian.
Saat masuk ke dalam ambulance, Erian menarik ujung baju Satria. Ia menatap sembari menangis pilu saat Melani telah pingsan dan masuk ke dalam ambulance.
“Aku sangat mencintai dia, tolong jaga dia untukku, seperti kau menjaga Nurbaya, aku mohon. Uhuk, uhuk!” Darah dari tempat penembakan terus mengalir walaupun telah di perban saat pertolongan pertama tadi, sekarang ia mengeluarkan batuk darah.
Satria mengangguk. “Jangan terlalu banyak berpikir, cepatlah, kau harus segera ke rumah sakit.”
Erian semakin menggenggam tangan Satria kuat. “Katakan padanya, aku sangat mencintai dia.” Kemudian tangannya perlahan melemah, matanya pun mulai menutup. Satria tercengang, nafasnya tercekat.
Setelah itu polisi mendekat, memeriksa denyut nadi Erian, Satria membelakangi tubuh yang berbaring itu. Air matanya mengalir, tak bisa ia tahan, bahunya sampai bergetar. Erian dimasukkan ke dalam ambulance.
__ADS_1
Ruth menepuk pundak Satria, membawa pemuda itu pergi dari sana agar lebih tenang.
***