Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Melindungi Bukan Harus Menikahi


__ADS_3

Melani menancapkan pandangannya dengan tajam ke netra pekat Satria. “Kenapa aku harus menikah denganmu?”


“Hm, aku yakin, kau belum bisa memuaskan Nurbaya, bagaimana caramu memuaskan aku dan dia secara bersama?” Tersenyum menggoda.


Satria mengernyit.


“Kau terlalu percaya diri jika aku tertarik padamu.” ucap Melani tersenyum kembali.


“Kau sekarang sedang mengejekku atau sedang membalaskan dendam padaku?” tanya Satria. Ia ingat, bagaimana dulu memperlakukan Melani dengan buruk dan kasar.


Huffttt....! Melani menghempaskan nafas panjang, lalu merenggangkan duduknya berjarak dari Satria, bersandar rilex, pandangan matanya menerawang ke depan.


“Menjaga dan melindungi, tak perlu dinikahi. Kau tau persis, 'kan? Aku menyayangi Nurbaya lebih dari apapun?” Memutar wajahnya menatap Satria.


“Jika begini, artinya kau menyakiti dan melukai Nurbaya. Apakah itu artinya kau melindungiku?”


Satria diam, mencerna semua perkataan Melani.


“Jika Nurbaya terluka, artinya aku juga terluka bersama anakku. Jika khawatir anakku tak dapat kasih sayang seorang ayah karena Erian telah tiada, tak perlu menikahiku untuk melindungi dan menyayanginya. Cukup rawat Ethan dengan penuh cinta bersama Nurbaya. Bukankah kalian bisa menjadikan anakku sebagai pancingan agar kalian segera memiliki anak juga?”


Melani berdiri, berjalan beberapa langkah ke depan hendak meninggalkan Satria. Namun, ia berbalik kembali, mendekat pada Satria yang terdiam.


“Dimana otak jenius mu, yang katanya IQ 205 itu? Apakah dia sedang jalan-jalan mencari pemilik baru?” Mengetuk kening Satria, lalu pergi meninggalkannya.


Tetapi dia kembali menghentikan langkahnya, berbicara dengan posisi masih membelakangi Satria. “Satu hal lagi, aku telah mencintai pria lain, tak ada hati untuk yang lainnya.”


Deg!


Ia terhenyak, bernafas panjang, “Ah, syukurlah.” ucap Satria, ia mengelus dadanya, lega. Ia sangat bersyukur karena Melani tak ingin menikah dengannya.


Sedari tadi ia benar-benar tegang dengan keputusannya sendiri.


Ia selalu saja teringat akan Erian memegangnya kala itu, memintanya menjaga Melani dan anaknya seperti menjaga Nurbaya, ia juga selalu terbayang tentang orangtuanya, sehingga itu membuat pikirannya tak jernih.

__ADS_1


“Benar, pasti Istriku sedang kecewa dan bersedih? Bagaimana bisa aku begitu bodoh tiba-tiba? Kakek dan Nenek juga tidak meminta atau memaksaku kemarin, mereka cuma mengatakan pendapatnya. Semua keputusan terserah padaku. Aaaaaahhh!!” Satria memukul kepalanya sendiri.


Ia berdiri, bergegas mencari Nurbaya, ingin meminta maaf telah melukai perasaannya. Betapa bodohnya ia berpikir sekarang.


**


Melani berjalan menuju teras, mendekat ke arah Nurbaya yang sedang menggendong Ethan.


“Apa kau yang meminta dia mengajakku menikah?” tanya Melani bersidekap.


“Hm... Apa Satria mengatakannya barusan?”


“Oh, aku sudah yakin, pasti bukan kau. Pasti sepasang manusia tua itu yang meminta dia mengatakan padaku, ya?” ucap Melani, kemudian ia memilih duduk.


“Maksudnya apa?” Tatap Nurbaya.


“Huh, aku tidak tertarik dengan bocah ingusan seperti dia. Terlihat sekali dia sangat kaku, keningnya berkerut, bahkan keringatnya sampai sebiji jagung saking cemasnya. Tampak sekali dia terpaksa mengatakan itu. Cuma kamu yang tertarik dengan bocah seperti dia.” Menyunggingkan senyuman.


Nurbaya menggembungkan pipinya, Melani berdiri lalu mencubit pipinya. “Mari, aku gendong dia.” Dia mengambil Ethan dari pangkuan Nurbaya.


“Bukan, mengatakan fakta.”


Nurbaya mencebikan bibirnya kedepan.


“Aya, kau tau,'kan? Aku sangat menyayangimu, bagaimana mungkin kau dan Satria berpikiran sempit begini? Aku menganggu pernikahan kalian menjadi orang ke tiga dengan alasan karena janji? Karena merasa berhutang Budi? Karena kasihan padaku dan anakku?”


“Menjaga dan Melindungi bukan berarti harus menikahi.”


“Jangan saling menyakiti perasaan kalian masing-masing karena menjaga perasaan orang lain. Jagalah perasaan cinta kalian, bertahanlah, jangan biarkan ada celah merusak hubungan kalian, apapun itu.” Menepuk punggung tangan Nurbaya.


Hening, cukup lama.


Nurbaya mengadukan jari telunjuknya masing-masing, “Apa yang membuatmu begitu menyayangiku, Mel?” Bertanya tiba-tiba.

__ADS_1


Melani menghela nafas, lalu tersenyum ke arah Nurbaya. “Kau mirip sekali dengan adikku, setiap aku melihat dan mengingatmu, aku selalu teringat dengan dirinya. Tetapi kau lebih lemah dan bodoh dari pada dia. Kau lebih kekanak-kanakan, tak sesuai dengan usia mu yang sudah dewasa ini, cocoklah dengan berondongmu itu.”


“Hm, aku kira....” Nurbaya menghentikan ucapannya sambil nyengir.


“Kau kira aku lesbi, pecinta sesama wanita?” Melani menyentil kening Nurbaya. Ahahahahah! Ia tertawa terbahak bahak.


Uh! Nurbaya memberungut sembari mengusap keningnya. Namun, setelah itu ia tersenyum, ini untuk pertama kalinya ia melihat Melani kembali tertawa.


“Kau ingat saat pertama kali kita bertemu? Saat itu kau di bully teman-teman, aku melihatmu dari kejauhan. Kau terlihat seperti adikku, ramah dan gampang percaya pada orang. Butuh kasih sayang dan perhatian.”


“Kau hanya bisa berani dan usil pada Satria saja, kepada anak lain tak berani, hanya karena kau berpikir terlahir dari seorang pembantu. Padahal, seharusnya Satria lah yang harusnya kau takuti. Dia adalah majikanmu.” Nurbaya tersenyum kecil mendengarnya.


Benar, semuanya benar.


“Saat aku menghampirimu kala itu, ku lihat tatapan berbinarmu, kau selalu saja menempaliku, kemanapun. Setelahnya, tak tau waktu, kau selalu mencari perhatian padaku. Kau sama persis dengan adikku.”


“Saat itu aku mulai menyayangimu.” Mengacak rambut Nurbaya yang terpana mendengarnya.


“Saat ulangtahun ku kala itu, aku mematahkan tangan pria beristri itu, istrinya juga.”


“Hah? Kau yang melakukannya?” Mata Nurbaya membulat.


“Ya, aku tak suka siapapun menyentuhmu. Tak akan aku biarkan. Sebenarnya, aku memiliki saudara kembar, dia dibully, hingga ia memilih bunuh diri, Ibuku juga meninggal karena di perkosa dan menyelamatkan ku, sehingga ia di tusuk. Lalu, aku hidup sendirian, kesepian, Ayahku juga tak percaya dan tak menyayangiku.”


“Saat bertemu denganmu, aku merasa duniaku kembali hidup. Kau ingat Nurbaya, saat aku bertanya tentang perasaanmu? Apakah kau menyukai Erian? Kau menjawabnya tidak.”


“Namun, kemudian kau berpacaran dengannya. Aku iri, kecewa dan sedih saat itu. Aku cemburu dengan kedekatan kalian. Aku hanya ingin kau dan aku bersama tanpa Erian. Aku merasa kesepian kembali.”


“Aku memilih menjauh, menjaga jarak, mencoba mengerti perasaanmu, asalkan kau bahagia. Tetapi, sepertinya Erian mulai meragukanmu, ia mulai merespon beberapa wanita yang dekat dengannya. Saat itulah aku masuk, mendekatinya, menggodanya. Aku ingin tau seberapa besar cintanya padamu.”


“Aku tak berniat menyakitimu kala itu, aku hanya ingin bermain-main saja dengannya, membuatmu sadar, kalau di dunia ini tidak ada lelaki yang baik, semuanya bajing*n. Sama seperti semua lelaki yang pernah kutemui sebelumnya.” Airmata Melani mengalir saat berkata. Nurbaya terdiam mendengarkan.


“Setelah kau mengetahui hubungan kami, kau putus dengannya, aku juga memutuskan Erian. Sebenarnya, aku sudah dengan sengaja membuat pertemuan bertiga kita, agar ketahuan olehmu, namun kau selalu saja percaya pada Erian. Jadi, perselingkuhan itupun berlangsung selama setahun.”.

__ADS_1


Melani menghela nafas kasar.


__ADS_2