Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Digigit


__ADS_3

“Dasar anak kecil aneh!” ucap Nurbaya melihat kepergian Satria.


Ia melanjutkan memakan buah, lalu merapikan meja makan kembali. Sedangkan Satria menangis di dinding luar kamar. Mona yang terbangun dan melihat sebelahnya kosong terperanjat duduk. Lalu, mencari sumber suara.


“Tuan Muda, kenapa menangis di sini? Apa Tuan Muda merasa takut?” Mona memeluk Satria, mengusap punggung dan membelai rambut hitam tebal nan lurus itu.


Ya, Mona tahu betul. Semenjak meninggalnya kedua orangtuanya, anak laki-laki ini sering menangis di tengah malam. Jadi, hampir tiap malam Mona tidur bersamanya, walaupun terkadang beberapa pelayan lain dan Neneknya Aira, menawarkan untuk menemaninya tidur. Satria lebih suka dengan Mona.


Satria hanya diam dan terus menangis. “Tuan Muda jangan takut lagi ya, ada Bibi di sini. Bibi akan selalu menemani Tuan.” bujuk Mona.


“Sungguh?” tanya Satria menatap Mona.


“Tentu saja, Tuan Muda.”


“Apakah Bibi masih menyukaiku, jika aku tidak tidur sendiri dan terus meminta ditemani Bibi?” tanya Satria lagi dengan sesungukan.


“Tentu saja, Bibi selalu menyukai dan menyayangi Tuan Muda. Malahan Bibi sangat senang bisa menemani Tuan Muda tidur.” jelas Mona.


“Sungguh? Bibi tidak bohong kan?” tanya Satria lagi memastikannya. Mona menjawabnya mengangguk.


Satria kemudian memeluk Mona. Lalu, Mona menggendong Satria masuk kembali ke dalam kamar. Setibanya di dalam kamar, Mona membaringkannya di atas ranjang, mengusap-usap punggung Satria lembut penuh kasih sayang.


“Bibi masih menyukaiku kan, jika aku tidak tidur sendiri?” tanya Satria lagi. Ia masih memikirkan ucapan Nurbaya, bahwa anak laki-laki harus hidup mandiri dan tidur sendiri.


“Tentu saja, Tuan Muda. Kenapa Tuan Muda menanyakan itu?” tanya Mona penasaran. Aneh rasanya, jika anak laki-laki itu tiba-tiba menangis dan menanyakan pertanyaan ini.


“Kata Kak Nurbaya, anak laki-laki itu harus mandiri, mandi sendiri, makan sendiri, pakai baju sendiri, dan tidur sendiri.”


“Dasar anak itu!!! Awas saja dia besok!” gumam Mona menggerutu dalam hati.


“Iya, hidup mandiri itu bagus Tuan Muda. Akan tetapi, itu di tujukan untuk anak laki-laki yang sudah berusia remaja seperti anak SMP, SMA. Jadi, Tuan Muda jangan kawatir ya.” ucap Mona mengusap lembut rambut Satria.


“Sekarang, Tuan Muda tidur ya. Besok hari Jum'at, Tuan Muda harus bangun lebih awal.” Mona mentoel hidung mancung Satria Kecil.

__ADS_1


Mona memeluk Satria, ia pun memejamkan matanya dalam pelukan Mona.


**


Pagi-pagi sekali, Mona sudah menghukum Nurbaya. Gara-gara gadis itu, Satria menangis. Lagi, lagi dan lagi, gadis itu tak pernah jera mengusik Satria kecil yang menggemaskan.


Saat subuh datang, Mona sengaja bangun dan berjalan dengan pelan, dari kamar Satria untuk sholat subuh, agar tidak membangunkan tidur Satria yang lelap. Namun dengan jahilnya, Nurbaya masuk ke dalam kamar Satria, langsung mencubit ke dua pipi tembem Satria yang sedang tertidur itu.


“Anak kecil pemalas, bangun.” ucapnya menarik kedua pipi Satria.


“Bangun, jangan tiduran terus, semua orang sudah bangun.” ucapnya mengganggu Satria gemas. Lalu, entah kerasukan dari mana, Nurbaya menggigit kuat pipi Satria gemes.


Satria menangis, karena kesakitan. Ada bekas gigi Nurbaya di pipi tembem yang mulus itu. Mona yang baru saja selesai sholat dari ruangan sholat, bergegas masuk kembali ke kamar Satria.


Sudah ada Aira dan Arnel juga di sana. Nurbaya tertunduk, Satria sudah dalam pangkuan Aira. “Dasar anak kurang ajar, sudah besar tapi masih saja bandel. Kamu apakan lagi Tuan Muda?” Mona memukuli Nurbaya bertubi-tubi.


“Sudahlah Bi Mona, jangan di pukuli Nurbaya terus seperti itu. Kasihan dia.” tegur Aira.


“Tak apa-apa Bi, mungkin saja tadi Nurbaya terlalu gemes, jadi tanpa sengaja menggigit Satria.” tutur Aira.


“Apa?!!! Menggigit?!!!” Mona terkejut. Pasalnya, saat Ia masuk, Satria sedang di gendong Aira dan menangis memunggunginya dalam pelukan itu. Jadi, ia tidak melihat bekas gigitan itu.


“Kau menggigit Tuan Muda? Apa kau binatang? Sampai-sampai kau menggigit Tuan Muda?!!!” Mona memaki anaknya, lalu memukul Nurbaya membabi buta.


Mona sangat emosi, hingga ia tak bisa lagi mengontrol sikapnya di depan majikannya. Ia memukuli Nurbaya, bahkan mengejar Nurbaya yang berlari menjauh untuk melindungi diri.


Rumah yang telah lama sepi ini, kembali ramai oleh ulah Nurbaya. Gadis yang selama ini baik dan sopan itu menjadi sangat usil semenjak Satria berada di rumah ini.


Nurbaya telah lama menginginkan seorang adik, namun kedua orangtuanya tak juga memberikannya adik. Beberapa pelayan yang menikah dan memiliki anak, banyak memilih keluar dan berhenti bekerja dari rumah Damrah.


Keluarga Nurbaya lah pelayan yang paling lama bekerja di rumah Damrah. Humaira adik dari Ayah Satria juga belum memiliki anak, walupun dia telah menikah beberapa tahun yang lalu.


Saat Satria memilih tinggal di sini. Nurbaya sangat bahagia. Hampir setiap hari dia melakukan pendekatan pada Satria.

__ADS_1


Nurbaya yang tidak berpengalaman merayu dan mendekati anak kecil, bukannya mampu mengambil hati Satria, tapi selalu membuat Satria menangis.


Mona memukul Nurbaya sampai gadis itu merajuk. Mona tak peduli, malahan ia memberikan hukuman pada gadis itu. Bagaimana tidak, semalam putrinya itu telah membuat Satria menangis dengan perkataannya yang menyuruh Satria tidur sendiri.


Sedangkan pagi ini, putrinya itu menggigit Satria sampai menangis.


Setelah memberikan Nurbaya hukuman, Ia memeriksa pipi Satria. Bertambahlah murkanya dia, melihat bekas gigitan di pipi mulus anak laki-laki itu.


“Sudahlah Bi, jangan di marahi lagi. Kasihan dia.” ucap Aira lembut. Ia sedang membantu Satria melepaskan bajunya.


“Tapi Nyonya, anak itu benar-benar bertambah bandel.”


“Bukan, sebenarnya Nurbaya anak yang baik dan penuh kasih sayang. Dia hanya tidak bisa mengekspresikan perasaannya.” Aira tersenyum, lalu menoleh ke arah Arnel.


Arnel yang di lirik pura-pura tak mendengar dan membuang wajah. Aira pun tersenyum kecil melihatnya. Ya, sifat Nurbaya persis seperti Arnel dulu, keusilan yang diberikannya itu adalah bentuk perhatian.


Mona masih saja bergumam-gumam kesal sambil menyiapkan perlengkapan untuk sekolah Satria.


“Ya sudah, Bibi siapkan yang lain saja, biar Satria saya yang mandikan.”


“Baik, Nyonya.” sahut Mona. Lalu, keluar untuk membantu pelayan lain menyiapkan sarapan.


**


Setelah selesai mandi dan berpakaian dengan rapi, Satria di gendong Arnel menuju meja makan.


“Aku makan sendiri saja Nek.” ucap Satria mengambil sendok yang berada ditangan Aira.


“Wah, cucu Nenek sekarang sudah besar ya.” ucap Aira mengelus lembut rambut Satria.


“Iya, aku ingin di sukai oleh Nenek dan semua wanita.” jawab Satria polos.


Arnel dan Aira mengernyit mendengar nya, lalu mereka tersenyum kecil.

__ADS_1


__ADS_2