Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Loyo


__ADS_3

Seminggu telah berlalu. Masa penundaan pun telah berakhir. Malam ini, malam yang dinanti-nanti oleh Satria. Begitupula dengan Nurbaya, Ia sampai keringat dingin membayangkannya.


Beberapa pelayan yang sebaya dengannya merekomendasikan pakaian yang di sebut dengan lingerie, ada yang memiliki tali tipis dan ada yang tak bertali. Benar-benar pakaian yang kekurangan bahan dan terlihat menggelikan oleh Nurbaya. Jangankan membelinya, mencobanya saja ia malu.


“Hei Aya, kau itu harus melakukan servise special, buat Tuan Muda, kasih kenangan yang manis dan indah dong. Kalau aku yang nikah sama Tuan Muda, uh! Servis full deh. Hehehe.” ucap seorang pelayan itu terkekeh.


“Aku juga, secara, Tuan Muda ganteng banget, gak perlu dia goda aku dulu, aku udah aktiv melompatinya duluan.” sambung Pelayan lainnya tak kalah terkikik.


“Ah, aktiv ya, Bund.” seloroh yang lainnya terkikik.


“Hm.” Nurbaya hanya tersenyum kecil menanggapi mereka.


Saat mereka bergosip, Kepala Pelayan berdiri menatap mereka semua, sehingga semua pelayan itu kabur, pura-pura sibuk. Ya, Kepala Pelayan yang dikenal paling seram dan pemarah, bahkan pelayan yang lain lebih takut kepadanya dari pada majikan mereka seperti Arnel, Aira dan Satria.


“Aya, lain kali kita gosip lagi, ya. Kamu lihat, kan! Sikiller, comeback to check!” ucap salah satu diantara mereka dengan gerakan mulut sembari melambaikan tangan.


Nurbaya mengangguk dengan terkikik.


“Permisi, Nona, mereka sudah sampai.” ucap Kepala Pelayan sedikit merunduk.


Ya, semenjak Nurbaya menikah dengan Satria, Ia langsung menjadi ratu. Namun beberapa Pelayan yang hampir sama besar dengannya dan selama ini cukup akrab dengannya, masih bersikap seperti biasa, seperti mereka yang barusan kabur.


“Mereka siapa, Pak?” tanya Nurbaya bingung.


“Yang akan merawat Nona untuk pedicure dan medicure.” Kepala Pelayan itu menggaruk kepalanya.


“Facial, hm...” Ia berpikir lagi.


“Yang pijit-pijit untuk kecantikan itu, Nona.” ucapnya lagi. Ia benar-benar tidak tau dengan nama-nama perawatan itu. Sebenarnya Nurbaya juga tidak tau, ke salon saja dia jarang.


“Baiklah, Pak.”


Nurbaya dan Kepala Pelayan beranjak pergi. Nurbaya langsung di minta berbaring di atas kasur. Di samping kanannya ada kolam renang mini, di samping kiri ada ruangan gym Satria. Seorang wanita berdiri dan menyuruh-menyuruh beberapa karyawannya.


Ada yang membawa beberapa alat-alat yang Nurbaya tak tau nama alat itu, ada yang membawa tas, isinya begitu banyak macam botol-botol. Setelah semua selesai, semuanya pergi, hanya tinggal 2 orang karyawan berbaju putih dan wanita yang menyuruh-menyuruh tadi.

__ADS_1


Wanita itu adalah pemilik Spa Healthy, namanya Jasmine, putri dari Harian Arszon Groub yang telah lama bekerjasama dengan Damrah Groub.


Ia memulai dengan awal memijat kepala Nurbaya, sedangkan yang lain mulai memijat tangan, kaki dan lainnya. Tubuhnya di baluri dengan cream yang ada di dalam botol, lalu wajahnya, rambutnya. Semuanya.


Nurbaya sampai dibuatnya tertidur pulas. Ia terbangun, karena wajahnya mulai dibersihkan dengan air es yang dingin. Benar-benar hidup mewah sebagai Nyonya orang kaya.


“Nona, silahkan berendam di kolam.” pinta karyawan yang berbaju putih itu. Kolam mini kecil yang tadi sudah disulap menjadi kolam susu dengan kelopak bunga-bunga.


Sedangkan kamar Nurbaya sudah dirapikan Kepala Pelayan beserta pelayan lainnya.


“Letakkan di sini.” perintah Kepala Pelayan.


“Ini, taburkan di sini.”


“Baik, Pak.” sahut Pelayan.


Kamar sudah Ok. Nurbaya juga sudah Ok. Lalu, apa kabar dengan Tuan Muda Satria?


Satria sudah menonton sex education. Membaca buku pembelian Sekretaris Dewa. Hari ini, Ia pulang lebih cepat, sekitar jam 3 sore, Ia sudah berada di rumah. Ia olahraga sebentar, lalu mandi susu yang dilayani oleh pelayan laki-laki yang direkomendasikan oleh Jasmine.


Mulai dari memijat kepala sampai semuanya. Benar-benar merasa rileks.


Setelah mandi, Nurbaya dan Satria makan. Tak lupa juga Kepala Pelayan meletakkan 3 butir telur dan madu untuk Satria. Semuanya di lahap habis.


Setelah makan, Satria dan Nurbaya berbincang sebentar dengan Arnel dan Aira. Kini, jam sudah menunjukkan jam 8 malam.


“Nona, silahkan masuk ke kamar duluan.” ucap Kepala Pelayan setelah Arnel dan Aira beranjak pergi.


Nurbaya menghela nafasnya, tangannya sedikit gemetar, gugup. Setelah sampai di kamar, Kepala Pelayan itu keluar dari kamar, kini tinggal 2 orang pelayan wanita.


“Nona, silahkan pakai ini.” Pelayan menyerahkan pakaian tipis, pendek, berwarna hitam transparan.


Nurbaya lama terdiam menatap pakaian itu. “Silahkan, Nona,” kata Pelayan itu kembali.


“Saya akan memakainya setelah kalian berdua keluar.” jawab Nurbaya.

__ADS_1


“Baiklah kalau begitu. Kami akan merias Nona dulu.” Pelayan itu merias Nurbaya menjadi cantik natural.


“Silahkan berganti pakaian, Nona. Kami akan keluar. Selamat menunggu Tuan Muda.” ucap mereka ramah, sedikit merunduk memberi hormat, lalu pergi.


Nurbaya enggan memakai pakaian itu, ia menyimpan pakaian itu. Malahan ia langsung masuk ke dalam selimut dan menutupi tubuhnya.


Tak lama, Satria datang. Ia tersenyum dalam hati, melihat Nurbaya yang menutupi dirinya dengan selimut.


‘Kau kira, aku tak bisa membukanya?' gumamnya dalam hati.


Satria mendekat ke arah Nurbaya setelah mengunci pintu. Ia meraba tubuh yang dililit dengan selimut itu, membukanya perlahan namun pasti.


“Malam, Sayangku,” ucapnya setelah berhasil membuka selimut, kini tangannya mulai meraba paha Nurbaya.


Jantung Nurbaya berdebar hebat, tangannya memegang erat ujung selimut yang sudah terlepas dari tubuhnya.


“Kita sudah membuat perjanjian, malam ini adalah malam indah kita.” Ia mengecup bibir Nurbaya, tangannya mulai meraba-raba.


Nurbaya yang awalnya tegang, menjadi sedikit melunak dan mulai menikmati ciuman hangat dan sentuhan memabukkan itu. Perlahan Satria melepaskan setiap pakaian di tubuh istrinya sembari menciumi setiap lekuk tubuh itu.


Ia juga melepaskan pakaian yang telah ia pakai.


Seperti sex education yang ia tonton serta bacaan yang ia baca, ia mulai mempraktekan teori itu, mulai dari meraba ini dan itu, mulai mencium setiap inci tubuh Nurbaya. Setelah ia merasa praktek yang ia lakukan benar.


Ia mulai berniat melakukan serangan buasnya. Satu kali coba, Nurbaya meringis, ia tak tega. Dua kali dicoba, Nurbaya meringis sampai menjambak rambutnya, tiga kali dicoba, tanpa sengaja Nurbaya menendangnya.


Ia masih mencoba lagi, menyempurnakan posisi jongkoknya dengan pas. Siap tempur!


Kukuruyuk!!! Ampun bang jago!


Ayam jagonya Satria pun tiba-tiba loyo. Ia ternganga saat melihat benda berharganya tak mau bangun lagi. 'Apa-apaan ini? Sekretaris Dewa sial*n! Benar gak sih, caranya begini, untuk apa makan telur tiga, kalau jadi begini! Grrrrrrr!'


'Banguuuuun!! Grrrrrrr!' Ia menggerutu, menatap tajam benda berharganya.


Nurbaya yang sedang berada di alam Nirwana setengah sadar dengan rasa yang sedikit perih, lalu terhenti, kini menatap Satria dengan heran.

__ADS_1


“Kenapa?” tanyanya.


Satria langsung berbaring, menutup dirinya dengan selimut, mengabaikan Nurbaya.


__ADS_2