
“Tuan Muda, bukankah sejak tadi kita sudah berciuman?”
“Itu? Tentu saja, bukan.”
Nurbaya membentuk kepalan tinju, dengan kesalnya ia langsung menangkup tengkuk Satria, mendaratkan bibirnya di bibir pemuda itu. Lalu, mereka pun berciuman.
“Apa kau sedang menggodaku?” tanya Satria dengan seringai licik.
“Kapan aku menggodamu? Bukankah kau....” Belum selesai Nurbaya protes, Satria telah kembali melahap bibirnya.
“Sayangku, malam ini kau menjadi milikku. Apa kau sudah siap, Sayang?” tanyanya menggoda.
“Siap palamu, Bocah!” Nurbaya mendorong kening Satria dengan telunjuknya. Lalu menjauh dari Satria.
“Kau benar-benar Istri durhaka, ya, tidak ada seorang istri yang bertindak tidak sopan seperti ini dengan mendorong kepala suaminya.” Satria memonyongkan bibirnya dengan imut.
“Siapa suruh kau menikah denganku!” Berkata lantang dan berkacak pinggang.
“Ini semua 'kan gara-gara kau. Kau menodai ku.”
“Eh, kapan aku menodai mu? Lagian waktu itu aku gak sengaja menciummu di sekolah, aku khilaf, kita sudah sepakat dan menyetujuinya saat itu. Lalu, kau lebih dahulu memulai menciumku selanjutnya. Kenapa aku yang kau salahkan!” Tak terima dengan perkataan Satria.
“Tapi kau meraba-raba tubuhku.” rengeknya manja.
“Hei!!!” teriak Nurbaya geram. Ia sangat geram, dituduh seolah melecehkan anak dibawah umur.
Satria mendekat, lalu memeluk Nurbaya, “Kau harus bertanggungjawab, kau membuat aku kecanduan, kau harus memuaskan rasa candu ku.” bisik Satria yang terdengar horor di telinga Nurbaya.
“Kau pasti mengerti apa yang ku maksud, 'kan? Tak mungkin, gadis dewasa sepertimu tidak mengerti yang ku inginkan.” Membelai Nurbaya dengan lembut.
“Aku ingin kau menunaikan kewajiban mu pada suamimu ini.” bisiknya lagi, Ia meraba bagian perut Nurbaya.
Deg!!!
“Apa yang kau lakukan, hentikan!”
__ADS_1
“Baiklah, akan aku hentikan.” Lalu, mengambil tangan Nurbaya, meletakkan di dada, mengeluskannya turun sampai ke perutnya, “Tetapi kau yang melakukannya.” sambungnya lagi dengan menggoda.
“Ap-apa yang kau lakukan?” tanya Nurbaya terbata, gugup, ia merasa ada yang aneh dengan dirinya.
“Istriku tersayang, kau melarangku melakukannya. Jadi, aku mengizinkanmu untuk memulainya. Kau harus bertanggungjawab padaku.” bisiknya lagi dengan mesra dan menggoda. Di bumbui dengan hembusan nafas yang menggelitik.
“Gila, pergi kau bocah!” Nurbaya mendorong Satria.
“Aku ngantuk, mau tidur!” Masuk ke dalam selimut, Satria pun juga masuk. Nurbaya menatapnya dengan tajam.
“Oh, Istriku. Yang jauh lebih tua dariku.” Senyum mengejek. “Kenapa kau bersifat tidak dewasa? Aku ini suamimu, aku ingin kau memenuhi rasa candu ku. Jadi, ayo!” Ia mengelus wajah Nurbaya, lalu menggodanya dengan kedipan mata.
“Gila, kau!” Menatap tajam, lalu mendorong kening Satria dengan telunjuk.
“Iya, Sayangku. Aku memang tergila-gila padamu, maukah kau melakukannya denganku malam ini?” Masih kekeh pendiriannya.
Nurbaya menatapnya tajam, lalu mendorong kening Satria sekali lagi dengan telunjuknya. Satria kemudian tersenyum misterius. Menangkap telunjuk Nurbaya.
“Telunjuk ini benar-benar nakal, ya.” Ia langsung menggigit lembut telunjuk Nurbaya. Lalu, memasuk dan mengeluarkan telunjuk itu ke dalam mulutnya, membuat Nurbaya menelan salivanya, pikiran kotornya langsung berfantasi ria.
Satria menatapnya dengan tatapan menggoda, “Ini hukuman pada telunjukmu, telunjuk nakal ini telah tidak sopan pada suamimu. Kedepannya, ajarkan pada telunjukmu untuk menghormati suamimu, jangan melakukan tindakan yang tidak sopan begitu lagi. Kau dengar telunjuk?!” ucap Satria menatap telunjuk Nurbaya, lalu mengecup ujung telunjuk itu.
Kemudian Satria mengangkat dagu Nurbaya, memegangnya dengan jempol dan telunjuknya, “Dan bibir ini juga nakal,” katanya sembari mengeluskan jempol di bibir bawah Nurbaya.
Memainkan bibir itu sampai sedikit terbuka dengan jempolnya, lalu mengecupnya lembut dan hangat. “Jangan berbuat nakal lagi dengan bibir ini. Bocah, adik kecil, itu adalah perkataan yang tidak sopan untuk suamimu. Jika bibir ini masih melakukannya, aku pastikan akan menggigit bibir ini dan ********** sampai habis.” ucap Satria menatap netra hitam Nurbaya yang terpana.
“Apa kau mengerti bibir? Jangan nakal lagi.” Ia mengelus bibir itu.
Glug! Nurbaya menelan salivanya. Akhir-akhir ini, Satria yang ia kenal seorang adik kecil menggemaskan sudah berubah.
“Sayang, ayo, kita melakukannya malam ini.” ajak Satria lagi dengan wajah menggoda, wajah seriusnya tadi berubah menjadi wajah mesum.
“Apa isi kepalamu hanya itu, hah?!” tanya Nurbaya dengan tatapan tajam.
“Iya, aku bulan madu ke sini untuk bercinta denganmu.” ucapnya tanpa malu.
__ADS_1
“Kau!!!” seru Nurbaya kesal, saking kesalnya, ia menjambak-jambak rambutnya sendiri.
Drama perseteruan kecil pun terjadi kembali, Nurbaya lagi-lagi menolak, menghindar dan terakhir ia menjambak rambutnya sendiri. Satria merasa kesal akan penolakan itu, namun ia mengalah karena melihat Nurbaya menjambak-jambak rambutnya sendiri. Pemuda itu pergi keluar dari kamar dengan membanting pintu kamar dengan kuat.
Sebelum pergi ia berkata, “Hentikan! Jika kau tidak mau. Baiklah, aku tidak akan memintanya lagi. Cukup, jangan jambak rambutmu lagi!”
“Jangan pergi kemana-mana, tadi aku sudah mengizinkan mu keluar, tapi kau tak keluar. Jadi, sekarang kau tak ku izinkan keluar.
Brak!!! Bantingan pintu dengan kuat yang dilakukan Satria membuat Nurbaya terkesiap.
“Istri tak punya perasaan!” Satria menggerutu sepanjang jalan, sampai di sebuah mini market pun ia masih menggerutu. Bahkan sekarang di samping Pak Hamdan yang mengantar dan menemaninya ia masih menggerutu kesal.
“Mengatakan aku bocah, nyatanya dia yang bersifat kekanak-kanakan! Apa salahnya aku meminta hak ku! Dasar wanita yang sok dewasa tapi tak peka!” meremas-remas makanannya sampai hancur, namun ia kembali memakannya.
Pak Hamdan hanya bisa diam di samping. Ia tahu Tuan Muda itu sedang kesal. Lihat cara dia memakan makanannya sekarang. Ingin rasanya Pak Hamdan tertawa, tapi urung ia lakukan, bisa-bisa ia disembur oleh Satria.
“Pak.”
“Iya, Tuan Muda.” sahut Pak Hamdan sopan. Lelaki ini selalu kemana-mana di bawa oleh Satria, ia sopir pribadinya sejak kecil.
“Aku sudah membaca banyak buku yang diberikan Kak Dewa, aku bahkan sudah mulai mempraktekkan nya. Tapi, gagal. Apa penulisnya bodoh, ya?”
Pak Hamdan tak tau harus menjawab apa. Maksud pertanyaan Satria saja ia tak mengerti, memangnya buku apa yang di berikan Dewa, kenapa pula dengan penulis, kenapa mengejek karya seseorang? Pak Hamdan hanya mengusap wajahnya.
“Memangnya, bagaimana cara mengajak Istri begituan, Pak?” tanya Satria, Ia menoleh menatap Pak Hamdan serius.
Deg! Pak Hamdan terkejut dengan pertanyaan itu.
'Jadi, maksud Tuan Muda ini? Sekretaris Dewa memberikan dia buku cara melakukan itu?' Pak Hamdan tersenyum kecil.
“Kenapa tersenyum begitu? Jangan meledek ku!” ketusnya.
“Harus menggoda dan memintanya halus pada Nona, Tuan Muda.” ujar Pak Hamdan.
“Hm?” Berpikir. “Seperti apa? Coba contohkan.” pinta Satria, ia menatap Pak Hamdan dengan serius.
__ADS_1
Pak Hamdan menggaruk kepalanya yang tak gatal, agak canggung dan malu juga untuk menjelaskan hal yang begituan.
***