Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Tiket Bulan madu


__ADS_3

Memilih pakaian untuk pernikahan sudah selesai, sekarang mereka berdua sedang makan di restoran mahal. Sedangkan Aira terlebih dahulu pergi, tak ikut bersama mereka berdua, karena ia akan melanjutkan kesibukannya yang tertunda.


“Sayang, naikkan topi jacketmu!” perintah Satria.


“Kenapa? Aku susah makan, tau!” protes Nurbaya.


Satria berdiri, memakaikan topi jacket itu, lalu duduk disampingnya Nurbaya, memegang pinggang gadis itu.


“Hei, apa yang kau lakukan? Aku risih, aku mau makan, jangan aneh-aneh deh!” Nurbaya menatap Satria tajam.


“Aku tak ingin pria lain terpesona olehmu, aku begini supaya mereka tau, kau itu milikku.”


“Siapa yang akan terpesona melihatku?!” Nurbaya benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran Satria.


“Hampir semua orang di sini. Aku tak akan makan di restoran ini lagi ke depannya. Kita seharusnya tadi makan di restoran 'Damrah resto', bukan asal restoran saja!”


Nurbaya mengedarkan pandangannya, melihat keadaan sekitar. Mata Nurbaya terbelalak sempurna. Pemuda di depannya ini mengatakan semua orang melihat dirinya? Yang ada, semua orang melihat pemuda itu. Hampir yang terpana itu perempuan dan pasangannya menatap dengan kesal, bukan tatapan terpesona.


Nurbaya menghela nafas kasar.


“Tuan Muda, apa kau pernah bercermin?”


“Sayang, jangan panggil aku Tuan Muda, kita akan menikah. Panggil aku, Abang, Mas, atau Sayang.” Ia langsung mencium pipi Nurbaya. Membuat mata Nurbaya terbelalak.


'Bocah Nakal ini, benar-benar tak punya malu, mencium diriku sembarangan di depan keramaian begini.' Menyesal rasanya ia mengajak bocah nakal ini makan di sini, kenapa tidak makan di Damrah Resto saja biar privat, tak terlihat oleh siapapun kelakuan pemuda ini.


“Jangan menciumku di sini.” gerutu Nurbaya pelan, setengah berbisik.


“Biarkan saja, biar mereka tau, kalau kau milikku.”


Nurbaya menghela nafas kasar. “Sebaiknya kau bercermin deh!” ketus Nurbaya.


Satria langsung memeriksa giginya dengan lidah, lalu minum air mineral. Memastikan tepi matanya. “Apa sekarang masih ada sesuatu di wajahku?”


“Ada!” Nurbaya semakin kesal.


“Benarkah?”


“Iya.”


“Kalau begitu, tunggu sebentar ya, Sayang. Aku bersihkan dulu ke toilet. Ok!”


“Kamu tidak boleh bicara dengan siapapun, sebelum aku datang!” Satria bergegas ke toilet.


Sesampainya di toilet, ia bercermin, tak ada taik mata di mata, tak ada sisa makanan yang menyelip di gigi. Ia terus memastikan wajahnya dengan sempurna.


'Ah, tidak ada apa-apa. Aku harus cepat kembali, nanti sayangku bisa di goda pria lain.' Ia bergegas kembali ke mejanya.


“Sudah bercermin?” tanya Nurbaya.

__ADS_1


“Sudah, Sayang.” tersenyum hangat.


“Sudah tau jawabannya, kan?”


“Hm, jawaban?!” Satria mengernyitkan keningnya.


“Ya, jawaban kenapa semua orang melihat ke arah meja ini?” sahut Nurbaya. Kening Satria semakin berkerut.


“Maksudnya, apa?”


“Maksudku itu, semua orang melihat pesona ketampananmu, bukan melihatku, Tuan Muda Satria Develv Damrah!” terang Nurbaya.


“Jangan ngeles, aku tak peduli jika mereka memandangku, aku hanya tak ingin para lelaki itu memandang perempuan ku.” sungutnya,


“Sudahlah, cepat habiskan makanan ini, aku capek, mau pulang!”


Sedangkan di ujung restoran, tempat Satria dan Nurbaya makan, seorang perempuan memakai jacket kulit dan topi mengikuti mereka, sesekali memotret mereka.


Perempuan itu beberapa kali mengikuti Nurbaya ataupun Satria diam-diam, mencuri foto mereka beberapa hari yang lalu.


**


Hari pernikahan Satria dan Nurbaya.


Pernikahan itu di langsungkan di rumah keluarga Damrah, di hadiri beberapa keluarga paling terdekat saja, beberapa pelayan, sekretaris pribadi Arnel, Jimi, Akbar, serta Sekretaris Dewa.


Bi Mona dan Suaminya menitikkan airmata haru saat Satria menyelesaikan ijab qobul-nya, begitu pula Aira dan Arnel mereka saling menggenggam jari jemari. Hanya satu orang keluarga terdekat yang tidak datang, yaitu Humaira, Adik perempuan dari Ayah Satria.


Pernikahan mereka privasi dan tertutup. Alasan pertama karena Satria masih pelajar, alasan kedua begitu banyak bahaya untuk Nurbaya dan Satria, jika pesaing bisnis mereka mengetahui hal tersebut sebelum Satria kuat dan tangguh.


Begitupula dengan Damrah Groub dan Hardwork Groub, akan di serahkan saat pemuda itu pantas dan tangguh mengendalikannya. Untuk sementara, Satria hanya mengendalikan cabang Damrah Groub, dengan indentitas palsu, bukan atas nama Satria. Itu semua dilakukan Arnel untuk melindungi cucunya serta melatih pemuda itu.


“Selamat, Sayang.” Aira memeluk Nurbaya dan Satria. Begitu pula Arnel langsung memeluk cucunya haru dan mengelus pucuk kepala Nurbaya.


“Selamat, ya. Gak nyangka gue!”


“Pengen kawin juga gue.” ucap Akbar.


“Cari dulu, dapat aja belum, malah minta kawin!” ejek Satria.


“Mentang-mentang, beli jajan anak sembarangan! Eh, mentang-mentang udah nikah, ngomongnya sembarangan!” julid Jimi.


Satria tersenyum mengejek. “Karna punya, gue mentang-mentang.”


“Sombong!” ucap Jimi dan Akbar serempak.


Rumah keluarga Damrah hari ini memancarkan kebahagiaan yang membuat hati berbunga-bunga, terkhususnya untuk Satria. Ia akhirnya berhasil memiliki secara sah gadis pujaannya, yang ia idam-idamkan sejak kecil.


Ucapan selamat dan hadiah telah di terima. Kini acara pun selesai.

__ADS_1


Satria dan Nurbaya telah berganti pakaian, duduk di ruang keluarga bersama Arnel dan Aira. “Ini tiket bulan madu kalian.” ucap Aira.


“Kakek sudah menyiapkan semuanya, 3 hari lagi kalian bisa berangkat. Kakek telah meminta Jaka dan Baron melindungimu sebagai pengawal tetap, seperti biasa. Serta akan ada beberapa pengawal yang standby di sana juga.” jelas Arnel.


Satria mengambil tiket bulan madunya, tersenyum sumringah. “Makasih Nek, Kek.”


**


Malam hari.


Nurbaya langsung masuk ke dalam kamarnya dan mendapat jeweran hebat dari Bi Mona. “Kenapa kau tidur di sini? Sana, temani Tuan Muda tidur di kamarnya!”


“Tapi, Bu!”


“Tidak ada tapi-tapi, kau itu sudah menikah, jangan macam-macam deh!” Bi Mona melotot.


Nurbaya berjalan lesu tak bersemangat ke kamar Satria.


“Hai, Sayangku, kamu sudah datang.” sapa Satria. Pemuda itu bertelanjang dada, hanya memakai celana pendek boxer.


Nurbaya membalikkan badan. “Cepetan pakai bajumu!”


“Uuuhh, Sayangku ini, biasanya sering melihat aku tak pakai baju, bahkan tanpa pakaian. Sekarang malah malu!” ucapnya terkekeh, namun ia segera memakai kaos oblong. Tak ingin membuat mood gadis pujaannya memburuk di malam pengantin mereka.


“Sebenarnya apa saja yang kau katakan pada Kakek dan Nenekmu?” tanya Nurbaya dengan tatapan tajam.


“Hm...” Satria pura-pura berpikir.


“Cepat katakan, Bocah Nakal!” Nurbaya memukul kepala Satria kuat.


“Aya, kau melakukan KDRT!” serunya, ia mengelus kepalanya yang di pukul Nurbaya tadi.


“Ingat tidak, saat kau mencium bibirku di sekolah? Saat kau menciumku di pesta pernikahan pria luknut, Erian itu?”


“Kenapa? Jangan bertele-tele!” Alis mata Nurbaya naik, menatap tajam.


“Bukankah saat itu kau memanfaatkanku? Aku juga memanfaatkan keadaan itu, agar kau menjadi milikku, Sayang.” ucap Satria dengan tatapan tajam dan serius.


Tatapan mata yang tak pernah ia lihat sebelumnya, tatapan pria dewasa, bukan tatapan pemuda bocah yang sering ia jahili.


Satria berjalan mendekat, dekat dan semakin dekat.


“Aku bahagia, akhirnya kau menjadi milikku, Sayang.” Satria mengelus wajah Nurbaya, membelai rambutnya, lalu mencium ujung rambut itu dengan tatapan yang sulit di artikan.


Glug! Nurbaya menelan salivanya.


***


Terimakasih telah membaca ceritaku dan telah memberikan dukungan berupa like, komentar positif, dan votenya♥️🌹🤗

__ADS_1


__ADS_2