
Matahari sedang mengintip mesra di balik tirai, membelai wajah Satria dengan sinarnya yang hangat, belum lagi suara ketukan pintu sejak tadi tiada henti.
“Tuan Muda, Tuan Muda.” panggil Bi Mona beberapakali.
“Tuan Muda, sudah jam 6.30. Apa Tuan Muda sudah siap?”
Satria terlonjak kaget. “Iya, Bi.” Satria bergegas berlari ke kamar mandi, cuci muka, gosok gigi, tanpa mandi langsung pakai baju seragam SMA.
Hari ini, Ia harus masuk sekolah, karena ujian tryout. Ia tak bisa libur atau ganti dengan hari lain, seperti privat sebelumnya.
Setelah memakai baju, Ia bergegas memakai sepatu, lalu menarik cepat roti selai yang telah di siapkan Bi Mona. Menggigitnya, lalu berlari masuk ke dalam mobil yang telah siaga menunggu.
Saat Satria sudah masuk ke dalam mobil, Bi Mona berlari-lari memberikan botol minuman. “Sebentar Tuan Muda, jangan lupa minumnya, takutnya keselek.” ucap Bi Mona dengan nafas ngos-ngosan.
“Makasih, Bi.” Mengambil air dalam botol itu. Lalu, Ia menaikkan kaca mobil.
“Jalan, Pak.” Pak Hamdan pun menjalankan mobilnya ke sekolah.
Di sepanjang perjalanan, Ia memakan roti yang di gigit separoh tadi, lalu meminum air yang di berikan Bi Mona.
Ting! Satu pesan masuk ke dalam handphone nya.
[Bocah Nakal, awas kau!] Pesan dari Nurbaya. Ia terkekeh membacanya.
Kemarin setelah ia mencium bibir Nurbaya, Ia di pukul Nurbaya habis-habisan. Ia di kejar Nurbaya, sampai-sampai mereka terjatuh ke dalam kolam.
Nurbaya yang tidak bisa berenang, hanya bergelayut di leher Satria.
“Cepat ketepi bocah!”
“Gak mau. Tadi gara-gara siapa sampai kita jatuh ke sini?” jawab Satria tersenyum miring.
“Gara-gara kamu!”
“Enak saja! Ini gara-gara Kakak! Kakak yang mengejar-ngejar aku!” protes Satria
“Itu karena kamu kurang ajar sama aku!” Menarik rambut belakang leher Satria.
“Aduh, sakit Kakak!” Mendengus, Nurbaya tak peduli.
“Kurang ajar darimana? Aku selalu baik.”
“Kau berani mencuri ciuman pertamaku, lalu kau berpikir mesum. Dasar bocah nakal!” ketusnya.
“Cepat bawa aku ketepi!” suruhnya.
__ADS_1
“Kalau mau ketepi, pergi sendiri saja.” ucap Satria.
“Baiklah! Huh!” Nurbaya melepaskan pegangannya dari leher Satria.
Namun, ia kembali menarik baju kaos Satria. Kedalaman kolam melebihi tingginya, bisa di bilang seleher Satria, sedangkan Nurbaya hanya setinggi Dada Satria.
Satria menangkapnya, Nurbaya memeluk erat Satria, Ia sangat cemas, takut kedalaman.
Satria tersenyum licik, semakin berjalan ke kolam yang dalam. “Satria, aku mau ketepi bukan ketengah!” Nurbaya menjewer telinga Nurbaya.
“Kakak mau ketepi?” tanya Satria setelah Ia berdiri di tengah kolam dengan memangku Nurbaya yang bergelayut di lehernya.
“Eh, Bambang! Sejak tadi aku minta ke tepi, malah nanya sekarang!”
“Baiklah, ada syaratnya.” Satria mengedipkan matanya.
“Apa?” Nurbaya mendongakkan kepalanya, menatap bola mata yang memandangnya dengan intens.
“Aku ingin Kakak memakai yang berwarna hitam ini, menjadi merah saat malam pengantin kita.” ucap Satria.
Nurbaya membelalak. Hitam? Merah?
Nurbaya mengikuti arah pandang mata Satria. “Dasar bocah mesum! Kurang ajar!” Nurbaya menepuk-nepuk Satria.
Kclup! Kclup! Bunyi suara air. Jipratan air kemana-mana. Nurbaya terus memukuli Satria. Pemuda itu masih saja terkekeh.
Satria pun mengetik dan membalas pesan dari Nurbaya.
[Kakak ku Sayang, sepertinya itu sedikit kurang cocok denganmu, karena dadamu sedikit datar dan tidak berisi. Bagaimana kalau yang ini? Gambar] Send. Centang dua biru, pertanda pesan Satria telah di baca.
“Bocah Sial*n, awas kau!” Nurbaya membalas pesan itu yang di akhiri dengan emoji jari tengah. Ia benar-benar emosi. Biasanya ia tak pernah sekasar itu pada Satria.
“Hahahahah.” Satria tergelak. Bagaimana tidak, pasalnya Ia mengirimi gambar meme Bra yang sangat besar.
**
“Dasar anak kurang ajar! Berani sekali dia padaku! Awas kau Satria!”
Kemarin saat dia memukuli Satria membabi buta di dalam kolam, pengait bra nya tiba-tiba saja tidak bersahabat. Entah bra itu telah berumur lama dan sudah berkarat di besi pengaitnya, ataukah bra murahan yang gampang putus pengaitnya. Entahlah...
“Satria, cepat antarkan aku ke tepi,” katanya pelan. Wajahnya merah padam.
Apakah Satria juga tahu, ataukah telah puas mengerjai Nurbaya. Pemuda itu membawa Nurbaya ke tepi tanpa protes lagi. Setelah sampai ke tepi, Nurbaya berlari kencang sembari menutupi dadanya.
“Kakak pelan-pelan saja larinya, takut jatuh, licin loh! Lari-lari basah begitu!” teriak Satria mengkhawatirkan.
__ADS_1
Bruk! Baru saja Satria meneriaki, kini Nurbaya telah terhenyak. Penampilannya cukup mengenaskan dan.....
Ya, Satria tersenyum kecil. Ia mengulurkan tangannya. Namun di tepis kuat oleh Nurbaya. “Aku bisa sendiri.”
“Oh.” Masih menatap.
“Kemana matamu mesum!” pekik Nurbaya.
“Coba Kakak tebak! Apakah aku sedang melihat dada Kakak yang sedikit datar itu atau yang lain?
“Kurang ajaaaaarrrr!!! Dasar mesum!” Nurbaya berlari.
Ckck! Satria terkekeh kecil. Lucu, imut, sexsy dan cantik. Begitulah Nurbaya yang terlihat di mata Satria.
Nurbaya berlari ke kamar mandi di dekat dapur, lalu berteriak meminta baju ganti dan handuk pada Ibunya.
“Dasar anak kurang ajar, sudah minta tolong, tidak sopan. Padahal dia sudah dewasa, kalau dia menikah sudah punya 2 orang cucu aku.” Bi Mona mengomel.
“Udah lah Bu, ambilkan saja.” Sahut Ayah Nurbaya yang sedang menikmati rempeyek buatan Bi Mona.
Lalu pagi ini, pemuda nakal itu mengirimnya pesan yang begitu mesum. “Saat kita menikah Kakak pakai ini ya, atau ini.” Membacanya saja, membuat emosinya membuncah kembali.
“Bocah kurang ajar, siapa yang akan menikah denganmu!”
“Kecil-kecil sudah mesum saja, sampai-sampai mikirin pakaian seperti ini, apalagi nanti kalau sudah besar, bisa-bisa jadi buaya belang.”
“Buaya?” tanya Mona yang baru masuk kedalam kamar Nurbaya.
“Ibu, ngagetin aja. Kok masuk gak bersuara sih?”
“Sudah di ketuk juga, kamunya masih komat kamit ngomong sendiri, entah ngomong apa, sampai-sampai bawa buaya.”
“Kamu kapan cari kerja lagi? Sudah lama nganggur.”
“Susah Bu. Gak ada lowongan.” keluh Nurbaya.
“Bukannya temanmu Melani akan bantu carikan kerja, di tempat ia bekerja?”
“Gak ada lowongan di sana, Bu. Aku juga sudah tanya-tanya sama Erian. Kan Erian juga kerja di sana.” jelas Nurbaya.
“Hm.. Ya sudah, kalau begitu kamu bantu Nyonya jualan perhiasan saja.”
“Jual perhiasan?”
“Iya, tadi Nyonya bilang sama Ibu, dari pada kami cari kerja sana-sini, mending kamu jadi kasir di toko perhiasan Nyonya. Beliau bilang lebih percaya sama kamu, dari pada cari karyawan baru lagi.” jelas Mona.
__ADS_1
“Baiklah, Bu. Kalau begitu bilang aku mau, sama Nyonya, ya.” Nurbaya memeluk Ibunya.