
Nurbaya berlari kencang ke kamar Satria, sedangkan pemuda itu diam-diam perlahan langsung menuju ke dapur mengambil air, berpura-pura.
“Satria!” panggil Nurbaya.
Ia mengedarkan seluruh pandangannya di ruangan itu, membuka pintu kamar mandi di dalam kamar itu.
“Kemana anak itu?” bergumam sembari gemetar.
“Apa dia keluar? Kenapa gak bilang-bilang mau keluar sih?” Menggerutu.
“Apa aku keluar saja ya, di luar kan ada 2 orang Satpam.” Nurbaya pun hendak keluar dan membuka pintu.
Saat membuka pintu, ia terkejut luar biasa.
“Huuuuwaaaaaa!!!” Ia berteriak sekencang-kencangnya.
“Kakak! Kenapa berteriak-teriak tengah malam gini, ngapain di sini?” ucap Satria. Padahal dia tau sendiri kenapa Nurbaya ada di kamarnya.
“Kamu darimana saja sih?” tanyanya berkacak pinggang.
“Aku dari dapur, habis ambil air minum. Nih, apa Kakak mau minum?” tawar Satria.
Nurbaya langsung meminum sampai tandas. Ya, dia memang sedikit haus tambah jantungnya habis berpacu lari, saking takut dan terkejut tadi.
“Loh, kok di habisin,” kata Satria pura-pura ngambek, lalu langsung berjalan kembali ke dapur.
Nurbaya mengikutinya. “Kakak masih haus? kok ikut juga ke dapur?”
“Gak apa-apa, cuma mau mastiin adik kecilku ini aman aja gak sih sendirian.” jawab Nurbaya tersenyum.
“Oh, aman lah. Kan cuma ke dapur ambil air minum.” sahut Satria tersenyum kecil, lalu berjalan kembali menuju kamarnya. Nurbaya pun juga mengikutinya sampai ke dalam kamar.
Setelah sampai di dalam kamar Satria.
“Aku akan menemanimu tidur di sini. Aku khawatir kamu takut tidur sendirian, Adik kecilku.” ucap Nurbaya sembari menepuk lengan Satria dengan kedipan mata jenaka.
Satria tersenyum simpul, lalu merubah wajahnya berbinar-binar seperti anak kucing yang imut. “Benarkah, Kak? Aku senang deh.” ucapnya tersenyum.
“Aku memang takut sih, terdengar suara anjing menggonggong, orang mengobrol dan lainnya.” sambung Satria lagi.
Nurbaya merapatkan tubuhnya ke arah Satria, bahkan hampir menempel. “Ah, jangan takut Adik kecilku, kan ada Kakak di sini.” jawab Nurbaya sombong. Padahal nyali ciut.
“Iya, ya. Kan ada Kakak di sini. Aku jadi gak takut lagi. Ayo kita tidur Kakak.” ajak Satria. Ia pun tersenyum penuh kemenangan.
Coba simak kembali yang di katakan Satria. 'Terdengar suara anjing menggonggong dan orang mengobrol.' Ya, iyalah Nurbaya, kalau ada anjing yang mengobrol terus orang menggonggong, barulah kamu harus waspada.
Mereka pun sama-sama berbaring.
Wusshh! Angin berembus, terdengar suara daun yang bergesekan di luar.
“Kamu takut? Sini Kakak peluk!” ucap Nurbaya, padahal dirinya sendirilah yang takut.
Satria? Pemuda itu malahan tak punya rasa takut, bahkan sekarang di dalam hatinya tertawa keras.
__ADS_1
“Iya, Kak.” Mengangguk keras, langsung bergeser mendekat ke tubuh Nurbaya.
Gadis itu langsung memeluknya. Kesalahan fatal yang sering dilakukan Nurbaya adalah saat ini. Di mana, Ia membenamkan kepala Satria di dadanya.
“Kak.” panggil Satria pelan.
“Hm, jangan takut, tenang saja.” sahut Nurbaya.
Gimana mau tenang? Satria adalah pemuda normal, di suguhi dada perempuan yang empuk seperti ini bagaimana bisa tenang, Nurbaya?
“Aku sesak nafas!” Memberikan alasan yang masuk akal.
“Maaf, Kakak memeluk mu kekencangan, ya?” Melonggarkan pelukan, masih dalam posisi membenamkan wajah Satria di dadanya.
“Kak.” panggil Satria lagi.
“Hm.”
“Kak.”
“Apa sih? Plak!” Menepuk pantat Satria.
“Kakaaaakkk, sakit!” Mendongakkan kepalanya, sedikit mendorong tubuh Nurbaya, sehingga pelukan Nurbaya terlepas.
“Jangan pukul pantat ku lagi!” Menatap Nurbaya. Yang di tatap malah nyengir kuda.
Plak! Plak! Plak! Nurbaya malah semakin menjadi-jadi memukul pantat Satria.
“Ah, capeknya.” Mereka sama-sama terbaring lemas dengan tertelentang di atas ranjang.
**
Pagi hari,
Nurbaya terbangun, ia merasa tubuhnya berat, ada sesuatu yang menghimpit. Ia membuka matanya, melihat sosok pemuda yang telah bertelanjang dada memeluk tubuhnya.
Sejak kapan mereka tertidur dalam posisi seperti ini? Bukankah semalam mereka masih tertawa bermain bantal?
Ia tatap wajah yang tertidur pulas itu, alis mata yang teratur dan tebal, bulu mata yang panjang, rambut tebal, hidung mancung dan bibir yang sexsy.
Bibir yang telah menciumi bibirnya beberapakali. Tanpa sadar, ia menyentuh bibir itu dengan ujung jarinya.
Glug! Ia menelan salivanya. Pikiran jorok di pagi hari pun datang, ia melepaskan tangan yang memeluknya itu pelan, lalu merapatkan wajahnya pada wajah Satria.
Cup! Ia mengecup bibir Satria cepat, lalu tersenyum seperti orang gila.
“Jangan jadi maling begitu, Kak.” Terdengar suara parau dari pemuda yang masih menutup matanya itu.
Deg!
'Bocah nakal, dia sudah bangun rupanya, tapi malah pura-pura tidur.'
“Siapa yang maling?” Bertanya dengan ketus.
__ADS_1
Satria membuka matanya perlahan, tersenyum kecil. “Kakak lah.” jawabnya dengan suara parau.
“Itu namanya kasih sayang seorang Kakak. Wajar saja kalau Kakak mu ini kasih kamu kiss di pagi hari. Dasar gak gaul!” Memberi alasan.
“Oh begitu.” Satria langsung bangkit, menangkap tubuh Nurbaya. Membalikkan tubuh gadis itu.
Cup! Kecupan mendarat mulus di bibir Nurbaya.
“Selamat pagi Kakak ku, Sayang.” Tersenyum secerah mentari pagi. “Itu balasan kiss sayang dari Adikmu ini.” sambungnya mengedipkan mata.
Nurbaya di buatnya melongo sesaat, lalu tersadar karena pipinya di tusuk Satria dengan telunjuknya.
“Jangan bengong pagi hari, ayo kita lari pagi,” kata Satria.
“Gak mau.” tolak Nurbaya.
“Kakak pemalas banget sih olahraga. Pantesan badannya gak tinggi-tinggi dari dulu. Sekarang jauh lebih tinggian aku.” ejek Satria.
“Hei bocah! Kau itu laki-laki, aku ini perempuan!” serunya, langsung bangkit dan berkacak pinggang.
“Tapi banyak perempuan yang setinggi aku karena mau olahraga.”
“Ya sudah, sana pergi sama perempuan itu.”
“Kenapa aku harus pergi sama perempuan lain, mereka bukan siapa-siapa ku. Aku kan ajak Kakak.”
“Tau ah, aku lapar. Pesankan sarapan.”
“Kakak ini ya, bisanya makan sama tidur aja. Pagi hari itu Kakak harus bangun, mandi dulu, baru pesan sarapan.” Satria mendengus.
“Eh, eh, eh! Dasar Anak Kecil, masih kecil aja udah sok ngajarin orang dewasa ya. Ini rasakan!” Nurbaya menjewer kuping Satria.
Dan terjadilah perang bantal kembali, karena Nurbaya lagi-lagi menjewer dan memukul pantatnya, adegan dimana Satria akan melindungi pantatnya dengan bantal dan berakhir dengan pertarungan bantal.
Sekarang,
Nurbaya sudah selesai mandi, begitupula dengan Satria sudah memakai baju kemeja yang di lapisi dengan jas berwarna hitam. Sekretaris Dewa telah membawa 2 kantong kresek sarapan pagi.
“Kamu gak sekolah?” tanya Nurbaya di sela-sela sarapannya.
“Gak, ada pertemuan dengan investor asing nanti jam 10 pagi.” sahut Satria.
“Ketinggalan banyak pelajaran dong, kau bisa tinggal kelas nanti.”
“Kan ada guru privat, Kak.”
“Satu lagi, Kakak harus ingat ini, Aku Satria Develv Damrah adalah salah satu murid jenius, nilaiku selama ini selalu tinggi, bahkan aku memiliki rangking tertinggi di kelas. Jadi, Kakak jangan khawatir ya.”
Ya. Itu memang benar. Nurbaya hanya bisa tersenyum kecut. Memang sedari dulu, bocah nakal ini menunjukkan rapor yang memuaskan padanya dan berakhir sebuah kecupan di pipi tembem bocah itu.
Kini, bocah itu tidak tembem lagi, tapi masih tetap sama pintarnya. Ingat itu Nurbaya, kamu yang sering remidi. 😂
***
__ADS_1