
Erian duduk di balkon kamar bersama gadis yang kemarin. Ia memeluk gadis itu.
“Sayang, bukankah kau berjanji memutuskan Nurbaya?” tanya gadis itu.
“Iya, sudah aku putuskan. Aku bosan bersamanya. Kurang lebih 6 tahun aku bersamanya, hanya bisa berpegangan tangan, bahkan mencium pipinya hanya waktu tertentu. Hingga detik ini, berciuman bibir pun belum pernah dengannya.”
“Aku senang kamu putus dengannya, Sayang.” sahut gadis yang dipeluknya.
“Hm... Tapi dia minta balikan lagi denganku.”
“Trus kamu terima?” tanya gadis itu memelotot.
Erian menggaruk kepalanya. “Dia selalu menghubungiku, dia menangis, aku tak tega Sayang.”
“Sebenarnya kamu tak tega atau masih suka dengannya, hah?!” gadis itu merajuk, melepaskan pelukannya dari tubuh polos Erian.
“Sayang, aku tak menyukai dia. Gadis berbadan rata itu tak bisa dibandingkan denganmu yang cantik dan sexsy ini. Dia tak bisa menyenangkanku, berbeda denganmu.” Erian memeluk gadis itu, lalu menciumi bibirnya.
Gadis itu pun luluh, lalu membalas ciuman Erian dengan panas. Ciuman panas pun berlangsung dengan exotis, hingga berlabuh di sebuah ranjang sebagai saksi cinta panas mereka.
Setelah melakukan pelepasan yang menyenangkan sekaligus melelahkan, Erian dan Gadis itu sama-sama terbaring lemah dengan nafas menderu. Gadis itu memejamkan matanya, begitu pula Erian.
Drrt! Drrrt! Drrt! Suara getar handphone Erian berbunyi.
Erian meraba handphonenya yang terletak di atas meja, Ia membuka pesan itu. Terlihat pesan dari Nurbaya.
[Assalamualaikum Sayang, kamu lagi apa? Kamu sudah makan belum?]
[Aku baru selesai kerja, aku lelah, aku mau tidur] balas Erian. Ia memang bekerja dan kelelahan, tapi kerja di ranjang!
[Baiklah, Erian. Tidurlah dulu, maaf mengganggu ya, nanti jika kamu sudah bangun tidur, telfon aku ya.] Pesan Nurbaya hanya di baca saja oleh Erian tanpa ia balas.
Erian memijit kepalanya, ia tatap wajah gadis yang tertidur dengan tubuh polos yang sexsy di hadapannya. Ada rasa aneh dan ketidakpuasan terasa, padahal ia telah merasakan surga dunia yang ia inginkan.
Ia mencoba memejamkan matanya, namun senyuman manis Nurbaya terlintas. “Ah, apakah dia terus memikirkan ku? Sampai-sampai bayangannya selalu terlintas di benakku.” gumam Erian dalam hati.
__ADS_1
Menurut Erian sedari dulu, jika bayangan seseorang terlintas dalam pikiran tanpa di pikirkan, berarti orang itu sedang memikirkan atau merindukannya.
Erian melamun.
Hari pertama ia menyatakan cinta pada Nurbaya.
Sepulang dari kampus, Erian mengirimkan pesan pada Nurbaya, ia meminta waktu sebentar, ada yang ingin dikatakannya, penting. Nurbaya pun membalas setuju dan menunggu Erian di lorong parkiran kampus.
Erian datang membawa dua gelas es kelapa muda. “Wah seger nih, pas banget cuaca lagi panas begini.” Nurbaya mengambil es yang diberikan Erian itu, langsung menyedotnya setengah.
“Ah...!!! Alhamdulillah, segernya.”
Erian dan Nurbaya pun berbincang-bincang ringan sebentar, sampai Erian menyatakan perasaannya.
“Aya, sebenarnya aku merasa kawatir mengatakannya, aku takut kau akan berubah dan tak ingin berteman denganku lagi karena ini.” Erian memulainya.
“Emangnya apa sih? Apa kamu membohongiku?” tanya Nurbaya.
“Bukan, aku tak pernah membohongi mu. Sungguh!”
“Lalu?”
Nurbaya mematung sesaat. Pernyataan cinta yang mengejutkan. Selama ini mereka berteman, tak ada tanda-tanda cinta dari sifat dan tindakan Erian. Tetapi sekarang, pemuda itu menyatakan cinta padanya.
Erian cukup lama menunggu, “Baiklah.” jawab Nurbaya malu-malu. Pipinya memerah.
“Sungguh?” Tanya Erian dengan mata berbinar bahagia. Ia langsung mengecup punggung tangan Nurbaya.
“Jadi, mulai sekarang kita pacaran?” Tanya Erian, dan ia berdiri dari berlutut. Nurbaya mengangguk.
Perasaan mereka sama-sama berbunga-bunga, mereka berpegangan tangan dengan debaran hati masing-masing. Bahkan Nurbaya masih saja menggenggam tangannya sampai Ia naik ke atas mobil Satria.
Erian tersenyum kecil saat mengingat itu. “Aku sebenarnya benar-benar menyukaimu Aya. Namun, apakah benar kau menyukaiku? Kau terlalu menutup diri denganku dan selalu memberi alasan ini dan itu.” gumam Erian dalam hati.
Erian pun melamun kembali.
__ADS_1
Mengingat pertama kali ia mencium pipi Nurbaya.
Kurang lebih mereka berpacaran 2 tahun lamanya, selama itu hanya bisa berpegangan tangan, tidaklah lebih.
Bisa dikatakan berpegangan tangan itu pun juga sempat di tolak oleh Nurbaya. Pertama kali mereka jadian, Erian langsung mencium punggung tangan Nurbaya, gadis itu terlihat malu-malu dan tersenyum, sehingga membuat Erian memberanikan diri menggenggam tangannya lagi.
Namun gadis itu menarik tangannya, Erian terkejut saat Nurbaya menolak dan menarik tangannya. “Aku malu, beri aku waktu untuk belajar.” ucap Nurbaya.
“Aku belum pernah berpacaran, kamu adalah pacar pertamaku.” sambung Nurbaya lagi.
Erian pun tersenyum. Sejujurnya, baginya Nurbaya juga pacar pertamanya, selama ini, dia hanya pacaran online dan hanya sekedar pedekate. Ini pun juga pengalaman pertamanya.
“Iya, maaf, aku terburu-buru. Aku akan bersabar kok.” sahut Erian.
Perlahan-lahan Erian mencoba terus, bersabar dan mencoba lagi, sampai mereka terbiasa bergandengan tangan berjalan, hanya itu. Setelah Dua tahun mereka berpacaran, tibalah saatnya Erian ulangtahun. Saat itu ia meminta hadiah yang berbeda dari tahun kemarinnya.
Satu tahun yang lalu, Erian diberikan hadiah jam tangan oleh Nurbaya. Jadi, tahun ini ia meminta untuk mencium pipi Nurbaya.
Buah kesabaran Erian pun di petiknya, di hari ulangtahun nya, ia mencium pipi Nurbaya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Ia sangat bahagia dan senang.
Bahkan saat ia tidur pun ia masih tersenyum, saking bahagianya. Tapi sayang, kebahagiaannya itu berubah jadi perasaan kecewa.
[Sayang, makasih ya hadiahnya. Aku sampai tertidur nyenyak dan bangun telat pagi ini. Apa kamu sudah selesai bersiap ke kampus?] Erian mengirim pesan. Namun pesan itu tak di balas.
Erian pun sampai di kampus, tak ada balasan dari Nurbaya.
Erian mencari Nurbaya namun hanya menemukan Melani seorang. Melani memberitahukan kalau Nurbaya tidak masuk hari ini, gadis itu sedang sakit. Erian pun bergegas datang ke rumah keluarga Damrah, dimana Nurbaya tinggal bersama keluarganya.
Sesampainya di rumah itu, ia disambut tatapan tajam Satria. Seolah pemuda remaja itu mencari lawan dan ingin menghajarnya.
Di sana, ia melihat Nurbaya demam. Dan betapa terkejutnya Erian, Nurbaya demam karena terkejut dan takut dicium Erian. Bagaimana Erian bisa tahu?
Satria yang mengatakan padanya. Erian tidak percaya sedikitpun awalnya, karena Dokter mengatakan kalau Nurbaya sakit karena kelelahan dan banyak pikiran.
“Kakak banyak pikiran karena kau meminta hadiah ciuman!” ucap Satria dengan mata tajam.
__ADS_1
“Kau sebagai pacarnya seharusnya tau, kalau Kakak takut dengan itu.”
Erian tak percaya, dia memintanya lembut tanpa paksaan. Bahkan Nurbaya masih tersenyum hangat ia lihat, saat ia mencium pipi gadis itu.