
Sekretaris Dewa termenung cukup lama, Ia tak menghiraukan rasa sakit di keningnya yang berdenyut.
Dua hari yang lalu, Ia bertanya pada teman-temannya yang memiliki jambang dan jenggot yang rimbun. Ya, karena dia juga sama seperti Satria. Manusia mulus tanpa bulu.
Dulu saja di sekolah, teman-teman nya mengejek kakinya dengan kaki meja, karena tidak berbulu. Saat praktek berenang, para pria akan mencolek-coleknya, saking mulus dan bersih kulitnya.
“Bro, bantuin Gue dong.” pintanya pada Reno, sahabatnya sejak SMA.
“Bantuin apa-an?”
“Cari-in Gue obat penumbuh jambang sama jenggot dong.” pintanya.
“Ahahahahaha. Serius Lo?” tanya Reno, di jawab anggukan oleh Dewa.
“Kenapa baru sekarang Lo pengen numbuhin bulu? Kenapa gak kemarin-kemarin nya?” tanya Reno lagi, Dewa hanya menggaruk kepala yang tak gatal.
“Lu lagi suka sama cewek, ya? Ayo, ngaku Lu!”
“Hm, bukan.”
“Eleeeeeh, bohong Lu! Gue yakin Lu lagi jatuh cinte, iye kan? Ngaku aja deh!”
“Ya udah, karena gue baik hati, Sholeh dan rajin menabung, gue kasih tunjuk Lu obat mujarab.” sambung Reno lagi.
Dia mengambil ponselnya. “Ini lihat, ini obatnya. Gue telfon dulu teman gue yang jual ini. Sebentar ya.”
“Ok.”
Reno pun menelfon temannya.
Kemarin, Reno menyuruh Dewa menjemput paket ke rumahnya karena dia beberapa hari keluar kota bermain bersama Sugar Aunty nya. Eh!
Dewa pun mengambil obat itu dengan wajah bahagia, lalu memberikannya kepada Satria.
Dia bernafas lega, Satria tidak lagi bawel meminta obat penyubur bulu. Pemuda itu langsung mengolesinya dengan bantuan Dewa. Hingga pagi ini, apa sebenarnya yang terjadi?
Ting! Sebuah pesan masuk ke dalam handphone milik Dewa.
Sekretaris Dewa mengambil handphone nya dengan malas dalam kantong celana.
Ting! Berbunyi satu kali lagi.
Ck! Ia berdecih, mood nya benar-benar buruk setelah di marahi Satria.
__ADS_1
[Bro, Lu udah pake obat itu?] Dewa membuka pesan pertama.
[Teman Gue salah obat Bro, dia kira itu obat buat Gue, dia gak dengerin seksama apa yang Gue katakan, padahal Gue bilang obat untuk penyubur bulu. Sorry ya Bro, Lu udah pake belom?]
Dewa langsung menelfon Reno, namun terdengar berisik di sana, seperti lagi tempur di atas ranjang. “Bed*bah, anak gak ada akhlak, otaknya sang* mulu!” sungut Dewa. Lalu, dia mematikan panggilannya.
[Emang itu obat apa?] Dewa mengirim pesan .
Belasan menit kemudian barulah Dewa mendapat balasan pesan. Mungkin saja Reno sudah selesai tempur.
[Itu obat pembesar tongkat pusaka😂] balasnya dengan akhiran emoticon ketawa.
What?! Jadi?!
[Sialan Lu Ren, obat itu udah di pake atasan Gue ke wajahnya. Dan sekarang Gue lagi kena semprot!]
[Sorry Bro, Gue benar-benar gak tau.]
Dewa berdecak kesal. Padahal waktu itu ada sebersik keraguan saat melihat botolnya berbeda dengan botol yang di tunjukan dalam foto oleh Reno pertama kali. Ia pun jadi meragu, soalnya Reno mengirim 2 gambar botol setelah itu. Ia bahkan berfikir mungkin model baru.
Sepertinya, ini juga bukan salah Reno, tapi salah temannya si Reno itu. Tetapi jika di bahas lagi, semua ini gara-gara Reno yang suka begituan, jadi temannya mikir buat obat begituan, Parah!
Dewa ingin memekik sekencang-kencangnya, baru kali ini dia teledor.
Biasanya, dia akan membeli obat dengan mengajukan beberapa banyak pertanyaan, menanyakan khasiat dan efek sampingnya. Namun sekarang karena ia merasa lelah dan sibuk, ia mempercayakan semuanya seperti itu.
Aira berjalan cepat ke dinding, di mana Dewa membenturkan kepalanya, Arnel pun mengikuti Aira.
Arnel meletakkan telapak tangannya di dinding, tepat di belakang kepala Dewa terbentur. “Pak Presdir.” ucap Dewa terkejut.
“Apa yang kau lakukan? Jangan bertindak bodoh seperti ini dengan membenturkan kepalamu? Itu bukan penyelesaian yang benar.” ucap Arnel.
“Maaf Presdir, Ini semua salah saya, saya telah salah membeli obat.” ucap Dewa tertunduk mengakui kesalahannya.
“Obat?” tanya Arnel dan Aira.
“Ya Pak, Tuan Muda meminta saya membelikan obat penyubur bulu, lalu saya memesannya pada teman. Rupanya teman saya salah kirim, barusan dia memberitahu agar jangan memakainya, karena dia salah kirim.” terang Dewa.
“Kau...!!!” Arnel mengepal tangannya geram.
“Sudahlah, semuanya sudah terjadi Nak. Lain kali, kamu harus lebih hati-hati lagi ya, jangan sampai terulang lagi. Kau paham?” ucap Aira lembut.
Tak terasa bulir air matanya menetes. “Makasih Pak, Buk.”
__ADS_1
Aira mengelus punggung Dewa, lalu memeluk pemuda dewasa itu. Ia mengabaikan mata Arnel yang menyalang sempurna karena cemburu, tak suka istrinya memeluk pria manapun selain Satria.
“Sudah, jangan lama-lama memeluknya.” Menarik cepat tubuh istrinya, kemudian tanpa rasa malu, ia langsung memeluk Aira. Dasar kakek-kakek, sudah tua masih gak sadar.
“Kamu masih saja seperti dulu, cemburuan dan manja.” Mengelus punggung Arnel.
“Aku cuma egois, manja dan cemburu sama kamu, karena di sini cuma ada kamu, sampai mautku datang.” ucap Arnel, meletakkan tangan Aira di dadanya.
Dewa tersenyum melihat pemandangan itu. Ya, dia pernah mendengar kisah cinta Kakek dan Nenek itu dari orangtuanya. Sifat Overprotektif Arnel sama persis dengan Satria, bukan hanya itu tapi juga posesif.
**
Satria menangkap jari tengah Nurbaya lalu masukkan ke dalam mulutnya, menaik turunkan jari tengah itu di dalam mulutnya. “Bocah mesum, kurang ajar.” Nurbaya memukuli Satria dengan muka merah padam menahan malu.
Adegan barusan benar-benar bikin Nurbaya ngilu, Satria benar-benar mesum!
“Mesum darimana sih, Kak?” protes Satria.
“Kakak menyodorkan jari, jadi aku kira kakak menyuruhku menghisapnya, mana aku tau. Aku kira itu pengobatan model baru.” Satria meberikan alasan sok polos, sok lugu.
“Menghisab bukan begitu, tetapi kau...” Nurbaya menghentikan ucapannya.
“Aku kenapa?”
“Kau itu... Ah!!! Tau ah.” kesal Nurbaya. “Ini wajahmu kenapa sih?” Nurbaya mengalihkan pembicaraan dan pikirannya.
Nurbaya benar-benar traveling sesaat. Yang di mainkan jarinya di dalam mulut, tapi yang hangat yang lain lagi. Hadeh!
Satria tersenyum licik, Ia tahu kalau Nurbaya sedang mengalihkan pembicaraan. Ia memegang tangan Nurbaya yang mengelus wajahnya yang luka itu.
“Sekretaris Dewa memberikan aku obat yang salah, Kakak apakah aku sangat jelek? Apa kakak tidak menyukai ku lagi.” Memasang wajah mode memelas.
“Aku tetap menyukaimu, kamu adalah Adik kecilku.” sahut Nurbaya.
“Tapi aku tidak tampan lagi.” rengeknya, lalu mencium punggung tangan Nurbaya. Cari kesempatan dalam kesempitan nih, bocah!
“Kan Dokter Haikal sudah kasih obat, kamu minum yang teratur obatnya, jangan langgar pantangannya, Ok!”
“Iya, Kak!” ucap Satria, masih memainkan tangan Nurbaya di bibirnya, mengecup jemari itu beberapa kali.
Nurbaya merasa panas dingin, perasaannya jadi aneh, teringat apa yang di lakukan Satria barusan. Matanya menatap bibir Satria, di telannya salivanya.
“Kau ngapain cium-cium tanganku, aku habis garukin cacing cremi di pantatku tadi. Hahahaha.” seloroh Nurbaya.
__ADS_1
Satria langsung membanting tangan Nurbaya. “Issshh, Kakak kok jorok gitu sih.” Satria merinding.
“Ahahahaha.” Nurbaya tertawa lepas.