Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Tata Krama


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan jam 9 malam. Satria belum menunjukkan tanda-tanda kepulangannya. Nurbaya sedari tadi sudah menunggu, entah kenapa hatinya tiba-tiba merindu, apakah ini efek dari hasil bercinta? Ia tak ingin berpisah barang sejenak pun dengan Satria. Ataukah ini yang di sebut cinta yang sesungguhnya, yang tak pernah ia rasakan pada Erian sebelumnya?


Kurang lebih jam 10 malam, mobil Sekretaris Dewa berhenti, mereka berdua langsung masuk ke dalam rumah yang di sambut oleh Kepala Pelayan, sedangkan Pak Hamdan langsung memasukkan mobil Sekretaris Dewa ke garasi.


Nurbaya dengan terkantuk-kantuk, langsung terkesiap saat mendengar suara pintu kamarnya terbuka. Satria langsung masuk ke kamar mandi, sedangkan Sekretaris Dewa juga sudah masuk ke dalam kamar tamu. Satria menyuruhnya menginap di rumah, ia khawatir Sekretaris Dewa harus kembali dengan kelelahan dan terkantuk-kantuk ke apartemen nya sendiri.


“Kau baru pulang?” tanya Nurbaya sembari menguap.


Satria yang baru saja keluar dari kamar mandi, hanya menjawab, “Hm.” Kemudian melanjutkan memakai pakaian kaos dan celana pendek. Ia langsung merebahkan tubuhnya di ranjang.


Tak berlangsung lama, pemuda itu sudah terlelap dan mengeluarkan dengkuran yang lebih keras dari pada sebelumnya. Nurbaya yang hendak mengajak pemuda itu berbincang dan menanyakan perihal yang mengganjal di pikirannya sejak tadi hanya bisa menghela nafas.


“Selamat tidur, kamu kelelahan, ya?” Ia menatap wajah tampan yang terlelap itu, kemudian memberikan kecupan sayang.

__ADS_1


Ia pun memilih berbaring menghadap Satria, lalu memeluknya.


**


Pagi sekitar jam 8.


Nurbaya terbangun, Ia meraba kasur disampingnya sudah kosong.


“Kenapa sih, aku bisa bangun kesiangan? Aku gak bisa berbincang dengannya. Bagaimana aku memulai berbincang dengannya, kalau aku saja belum bisa menjadi istri yang baik? Bangun aja sudah siang, huft!” Ia menghembuskan nafasnya kasar.


Setelah makan, ia ke rumah belakang, menemui beberapa pelayan yang sedang tertawa sembari membersihkan tampuk cabe yang baru di beli. Sebagian ada yang mengiris bawang merah.


“Hai, sibuk, ya?” sapa Nurbaya.

__ADS_1


“Lumayan, Nyonya Muda.” jawab salah satu di antara mereka.


“Loh?” Nurbaya tercengang. “Kenapa memanggilku begitu sih? Panggil seperti biasa saja.” ketus Nurbaya.


“Maaf, kami gak bisa.” jawab seseorang diantara mereka. Nurbaya mengernyitkan keningnya, “Sikiller marah, ngelarang kami, itu tindakan yang tidak sopan katanya.” sahut yang lain.


Mata Nurbaya terbelalak. Tak percaya, “Huft! Baiklah kalau begitu,” Ia memanyunkan bibirnya sembari menghela nafas. Hanya bisa pasrah.


Semenjak ia menikah, banyak peraturan yang berubah, penampilan dan sikap. Bahkan baru-baru ini, ada guru tata krama yang datang untuknya. Ibunya bukan membelanya tapi malahan mendukung semua itu, agar Nurbaya berubah menjadi lebih baik.


Kata Ibunya, itu penting untuknya, agar nanti jika bertemu dengan kolega jauh Satria atau pesta di acara rekan bisnis, Nurbaya bisa membaur dan tak terlihat terlalu buruk. Mau tak mau Nurbaya pun sependapat dan mengikuti pelajaran itu dengan baik.


“Bagaimana dengan ma...” Baru saja salah satu diantara mereka ingin mengeluarkan selorohan tentang malam pertama Nurbaya, pinggangnya langsung mendapatkan cubitan hebat.

__ADS_1


“Kau ingin di skor sama Kepala Pelayan? Jangan mengatakan sesuatu hal yang di larang begitu.” ucapnya.


“Iya, iya, maaf. Aku lupa.” sahutnya sembari mengelus pinggangnya yang ngilu.


__ADS_2