
Satria masih terkekeh. “Sudah, sana, kembali bekerja.” perintahnya Pada Sekretaris Dewa.
Sekretaris Dewa mengambil tisu, hendak menghapus bekas bibir di baju kemeja Satria.
“Apa yang mau kau lakukan, Hah?” Satria memelototinya dengan tajam.
“Tuan Muda, bekas itu harus di hapus. Itu memalukan sekali.”
“Yang musti di hapus itu, lipstik yang ada di bibirmu, bukan di bajuku. Sana!”
“Sana!”
Sekretaris Dewa dengan kesal berjalan ke mejanya kembali sembari melontarkan kata umpatan. Jika terdengar oleh atasan kecilnya itu, bisa panjang urusannya. Untung saja, hanya dirinya sendiri yang bisa mendengar umpatan itu, karena ia berteriak-teriak di dalam hati.
'Seperti apa, ya, reaksi istriku tersayang nanti?' Satria mengelus dagunya.
Kemarin, Ia bertemu dengan rekan bisnis di restoran Cina yang buka 24 jam. Kebetulan rekan bisnisnya itu orang cina. Di sana di hidangkan begitu banyak makanan dan minuman beralkohol.
Masalah minum, selalu saja ada pengganti Satria untuk minum, rekan bisnis pun memakluminya, di Indonesia terkhususnya, apalagi di dalam agama Satria, ia tak bisa meminum Alkohol.
Satria dan Sekretaris Dewa meminum minuman dingin bergas. Sedangkan Baron pengawalnya, sudah tampak mukanya memerah karena telah beberapa gelas di tuangkan wine oleh rekan bisnis Satria itu.
Saat Satria hendak pulang, seorang perempuan yang berpakaian terbuka, seksi dengan riasan yang nyentrik, menjatuhkan diri ke dalam pelukannya.
Jaka dengan sigap, menarik tubuh perempuan itu menjauh dari atasannya. Baron yang setengah mabuk, langsung menyeret wanita itu. Wanita itu tampak senang di seret Baron. “Kita berjumpa lagi tampan,” ucapnya. Mulut wanita itu tak kalah bau alkoholnya dari Baron.
“Menyingkirlah dari sini,” Baron memberikan perempuan itu dua lembar uang merah. “Makasih, tampan. Cup!” Perempuan itu mencium pipi Baron.
Jaka terkekeh. “ Apa yang tertawaan? Cepat, jangan sampai Tuan Muda marah!” Mereka berjalan dengan sigap mengikuti langkah Satria dan Sekretaris Dewa yang berjalan terlebih dahulu.
Satria ataupun Sekretaris Dewa tak menyadari jika baju kemeja Satria ada bekas bibir perempuan tadi.
Setelah Jaka manarik tubuh perempuan itu, Satria secara spontan membenarkan jasnya, jadi bekas bibir itu tertutupi. Hingga, Satria baru mengetahuinya saat menyadari tatapan Nurbaya yang aneh.
'Bagaimana, ya, reaksimu. Aku penasaran sekali.' Satria tersenyum-senyum sendiri.
Satria pulang, Ia bergegas masuk ke dalam kamar, seperti dugaannya, Nurbaya telah menunggu, gadis itu membantu melepaskan jas yang sengaja tak di buka Satria tadi dibawah.
Saat Nurbaya membuka jas, terpampang jelas tanda bibir berwarna lebih merah dari kemarin malam di baju Satria. Tangan gadis itu gemetar hebat, pikirannya mulai bercabang.
'Apa dia benar-benar mencari gadis lain? Dia selalu menuruti apa yang aku katakan selama ini. Bagaimana ini? Bukankah semalam aku sudah meminta maaf padanya.' Nurbaya menatap tanda bibir itu dengan pandangan sendu. Satria mengulum senyum.
“Apa mau aku siapkan air untuk mandi?” tanya Nurbaya setelah melepaskan baju kemeja Satria. Pemuda itu hanya menjawab dengan mengangguk.
__ADS_1
Nurbaya menyiapkan air serta pakaian.
Satria mandi, lalu memakai celana boxer. “Kau tak ingin pakai baju?” tanya Nurbaya. Satria hanya memainkan alis menjawabnya.
Nurbaya kembali meletakkan baju yang ia siapkan. Duduk di samping Satria yang tampak bermain handphone. “Apa pekerjaan mu hari ini lancar?”
“Ya.”
“Apa kamu masih marah padaku?”
“Emangnya kamu ada salah?” Satria menaikkan alisnya, menatap Nurbaya.
“Yang waktu itu, aku berkata kasar padamu. Apa kamu...” Nurbaya menarik nafas dalam. “Apa kamu sudah menemukan wanita lain?” tanyanya dengan satu kaki tarikan nafas.
“Kenapa?”
Pertanyaan itu membuat dada Nurbaya sesak. 'Kenapa dia menjawab seperti itu, biasanya dia tak akan seperti ini. Apa benar, dia sudah menemukan wanita lain dan akan menceraikanku?'
“Aku hanya penasaran.”
“Oh,” jawab Satria acuh, Ia kembali menatap layar ponselnya.
Lama hening, hanya terdengar suara nafas mereka masing-masing dan ketikan keyboard handphone Satria sesekali.
“Apa kau ingin menceraikanku?”
“Kenapa kau berpikiran begitu?”
“Aku... aku hanya ingin memastikan.” Nurbaya meremas ujung bajunya.
“Memastikan apa?” Satria mendekatkan wajahnya dengan wajah Nurbaya.
“Jauh-jauh dariku, aku tak ingin dekat dengan pria yang suka bermain perempuan!” seru Nurbaya, ia tiba-tiba berdiri dan berteriak.
“Kau aneh sekali, ada apa denganmu? Kau menuduhku bermain dengan perempuan?” Satria mengedikkan bahunya.
Ia berdiri dan mensejajarkan tubuhnya dengan Nurbaya, lalu merangkul pinggang gadis itu. “Kenapa aku harus bermain dengan perempuan lain? Bermain dengan perempuan milikku saja aku belum pernah, apa kau ingin bermain denganku sekarang, aku sudah sangat siap kok, Sayang.” bisiknya sambil meniup telinga Nurbaya.
“Ka-kau, apa yang kau katakan!”
“Tak ada, apa kau sekarang sedang cemburu, Sayangku?” Satria mengangkat dagu Nurbaya.
“Siapa yang cemburu!”
__ADS_1
“Sungguh?”
“Apa kau telah jatuh cinta padaku?” Satria bertanya kembali.
“Siapa yang jatuh cinta padamu,” Mengelak sembari melepaskan pelukan Satria.
“Apa kau menemukan gadis lain?”
“Hm, kasih gak ya,” Satria mengetuk-ngetuk bibirnya sendiri.
“Katakan, apa kau bersama wanita lain!” Tiba-tiba saja Nurbaya mengamuk, memukul-mukul lengan Satria.
Satria terkekeh. Langsung memeluk Nurbaya. “Sayangku ini rupanya benar-benar cemburu, ya. Tapi masih tak mengaku.” ucap Satria menggoda, Nurbaya memonyongkan bibirnya ke dapan.
“Sebentar,” Satria mengambil handphone nya, “Coba lihat ini.” Satria menunjukkan hasil jepretannya pada Nurbaya.
“Kau!!!” Nurbaya memelotot. Satria terkekeh.
“Kau mengerjai ku!”
“Siapa suruh kau berkata seperti itu padaku. Enak saja minta cerai, aku saja belum mendapatkan hak ku.”
“Kau selalu saja bilang hak-hak, menyebalkan!”
“Tapi, Sayang. Aku sungguh menginginkannya.” Merengek manja.
Mereka benar-benar sudah baikan sekarang?
“Mau, ya.” Satria mengecup bibir Nurbaya cepat. Pipi gadis itu merona merah.
“Tapi jangan sekarang, aku sedang datang tamu minggu ini.” jawab Nurbaya malu-malu.
Terkembang senyuman kebahagian di wajah Satria. “Aku akan menunggu tamu bulanan mu berakhir, Sayang. Kira-kira seminggu lagi, kan?” tanya Satria lembut, Ia menciumi jemari tangan Nurbaya.
“Kurang lebih.” jawab Nurbaya malu-malu.
Satria mengelus kepala Nurbaya. “Aku hanya mencintaimu seorang, tak ada wanita lain di hatiku, apa lagi bermain-main dengan perempuan lain. Kau mengerti?”
Nurbaya tersenyum. “Tapi aku senang melihatmu cemburu.” Satria terkekeh.
“Apaan sih!” Nurbaya memukul lengan Satria manja.
“Jangan pukul lagi,” Nurbaya masih saja memukul. “Kalau kau masih memukul lagi, aku akan menciumi sampai kehabisan nafas. Nurbaya malah bersemu merah mendengarnya, masih saja memukul.
__ADS_1
Satria tersenyum nakal, lalu melahap bibir Nurbaya dengan rakus.
***