
“Yang tadi itu... Namanya ciuman kasih sayang seorang kakak, kamu jangan mikir aneh-aneh, ya. Tadi, aku cuma lagi rindu sama kamu. Jadi, cari-in kamu di sekolah. Hm, karena beberapa hari ini jarang lihat kamu.” alasan Nurbaya.
Satria hanya diam saja menatap Nurbaya.
“Tadi itu, cu...”
“Iya, aku tahu, Kak. Makasih Kakak sudah merindukan adikmu ini.” sahut Satria gemes, seperti anak kucing yang lagi manja-manja, meletakkan tangan Nurbaya di kepalanya, mengeluskan sendiri tangan itu di kepalanya sendiri.
“Kak,” panggil Satria.
Menatap lekat Nurbaya, kemudian kembali mencium bibir gadis itu.
Nurbaya mengerjap-ngerjapkan matanya, teringat kejadian itu, saat ia membuat alasan mencium Satria di sekolah tempo hari.
Satria sekarang masih menatapnya, mengelus wajahnya lembut, membuat bulunya meremang geli.
“Kamu pergi sama siapa, Aya?” tanya salah satu teman yang kenal dengan Nurbaya, ia salah satu tamu undangan pernikahan Erian.
“Hm, de...dengan pacarku.” jawab Nurbaya.
“Syukurlah, kalau begitu. Takutnya, kamu patah hati melihat Erian bersanding. Oh ya, mana pacarmu, kok aku melihatmu sendirian saja dari tadi. Jangan-jangan kamu cuma alasan lagi.” ucapnya sembari terkekeh kecil, entah kekehan bercanda atau mengejek.
“Dia sedang mengobrol di sana bersama temannya.”
“Kok gak kamu temani sih, apa pacar kamu tidak setampan Erian, ya?”
“Hai, Sayangku.” Satria tiba-tiba datang, langsung mengecup pipi Nurbaya.
“Maaf ya, Sayang. Kamu menunggu lama, ya? Nih, minumannya.” ucap Satria menyodorkan segelas minuman, sembari menatap wanita yang berdiri di hadapan Nurbaya.
“Kamu pacarnya Nurbaya?” tanyanya langsung pada Satria.
“Iya, perkenalkan, saya Satria Develv Damrah.” Satria menjulurkan tangannya dengan senyuman memikat mata kaum hawa.
“Sa...Satria De...Develv Damrah?!” ucapnya terbata-bata.
“Iya.” jawab Satria mengangguk dengan senyuman mautnya.
Perempuan itu langsung menelan salivanya. “Iya, salam kenal, saya Monica Anggara Wiguna putri Angwigu Groub. Salah satu perusahaan yang bekerja sama dengan Damrah Groub.” Ia menjabat tangan Satria.
“Hm, tangan saya.” ucapan Satria menyadarkan wanita itu karena terlalu erat dan lama menggenggam tangan Satria.
“Sayang, ayo kita ke sana. Aku ingin berdua saja denganmu,” Merengek manja, mengelus lembut pipi Nurbaya.
“Aku pergi dulu, ya,” kata Nurbaya berpamitan pada gadis di depannya.
“Oh, ok. Bye, Aya.” sahut wanita itu. Matanya tak berkedip melihat sosok tampan Satria yang memakai jas.
Setelah sampai di pojok yang sepi dari orang. “Hm, ini tidak gratis loh, Kak.” ucap Satria dengan senyuman jahilnya.
“Apanya?” tanya Nurbaya melotot.
__ADS_1
“Yang barusan. Kakak mengaku jadi pacarku, kan? Ya, aku sangat mengerti, cuma aku yang bisa mengalahkan Erian itu dari segi ketampanan dan kekayaan.” ucap Satria percaya diri.
“Hm, kamu mau bagaimana?”
“Gampang, aku mau seperti yang kita lakukan di lapangan basket sekolah.” Satria tersenyum.
“Maksudmu... itu?” tanya Nurbaya ragu bercampur malu.
“Iya, bukankah Kakak ingin aku menjadi pacar, tentu saja seorang pacar boleh meminta ciuman. Hehehehe.” ujar Satria nyengir.
“Pacar bohongan!” tegas Nurbaya.
“Hu'um. Tapi, bagiku Kakak pacarku sesungguhnya.”
“Hihihi, dasar bocah nakal. Aku ini kakakmu.”
“Iya, Kakak yang ngajarin aku cara berciuman.” sahut Satria terkekeh.
“Enak saja, kamu yang mulai duluan.” memukul lengan Nurbaya.
“Ehem,” Batuk jaim. “Permisi Tuan Muda, Nona Nurbaya.” ucap Sekretaris pribadi Arnel. “Tuan Arnel memanggil Tuan Muda, ada yang perlu di sampaikan dan beberapa orang ingin berkenalan.” sambungnya lagi dengan ramah.
Satria mengerutkan keningnya, ia tampak tak suka.
“Baijlah, Kakak tunggu di sini ya, jangan kemana-mana, aku pergi dulu menemui Kakek dan Nenek.”
Selang tak berapa lama, ia malah di hampiri istri Erian dan berujung menangis pilu di koridor hotel, sampai pemuda yang tampan bernama Satria menemuinya dan mengajaknya ke pantai.
Nurbaya mengingat jelas, benar, Satria selalu membantunya, ia memanfaatkan Satria. Tapi, anak ini memang nakal, kenapa harus membalasnya dengan menikah seperti ini?
“Malam pertama palamu!” Nurbaya mendorong tubuh Satria, ia sedang mencoba menguasai dirinya dari perasaan aneh, masih meyakini pernikahan ini ganjal dan aneh.
Nurbaya langsung tidur di ranjang. Satria mengikutinya, memeluk Nurbaya dari belakang.
“Siapa yang menyuruhmu memelukku?”
“Gak ada yang nyuruh. Inisiatifku sendiri.” Menciumi tengkuk Nurbaya.
Nurbaya berbalik, menatapnya tajam. “Aku bilang jangan!”
Satria menatap Nurbaya. “Kenapa?” tanyanya dengan tatapan serius.
“Jawab dulu, kamu bilang apa saja pada Enek dan Kakekmu?”
“Hm, itu...” Satria tersenyum.
“Apa?”
“Kamu ingatkan waktu kita ciuman di sekolah?”
“Udah-udah, jangan bahas itu lagi!”
__ADS_1
“Tapi itu berhubungan dengan yang aku katakan pada Kakek dan Nenek.” ucap Satria memonyongkan bibirnya, lalu memeluk guling dan membelakangi Nurbaya.
“Eh, eh, bocah! Cepat ceritakan, apa?” Nurbaya menarik Satria.
“Kakek sudah tau kalau kakak menyerang ku waktu itu,” kata Satria sembari bertingkah imut, mengadukan jari telunjuknya serta monyongan bibir ke depan.
“Terus?” tanya Nurbaya serius.
“Waktu itu rekaman ciuman kita tersebar, Kakek menghentikannya dengan menutup akses, serta teguran pada pihak yang menyebar rekaman. Pihak sekolah juga melakukan tindakan dan sanksi kepada mereka. Lalu...”
“Lalu, apa?”
“Aku di beri hukuman.”
“Terus?”
“Kali terus nabrak dong, Sayang.”
“Bocah nakal!” Nurbaya memukul Satria. “Cepat ceritakan semuanya!”
“Sejak saat itu Nenek dan Kakek sering bertanya, lalu aku menceritakan semuanya.” jawabnya tersenyum cerah yang membuat Nurbaya naik pitam.
“Cerita semuanya apa, hah?!” Ia mengambil bantal memukuli Satria.
“Hei, istri durhaka yang melakukan KDRT pada suaminya!” Ia menahan bantal itu dengan tangannya.
“Aaaahh! Yang benar saja aku menikah dengan bocah nakal sepertimu!” gerutu Nurbaya, Ia memeluk guling, langsung tidur memunggungi Satria.
Satria hanya tersenyum melihat Nurbaya yang tertidur pulas setelah berdongkol.
'Bocah nakal, ya?' Satria terkekeh. 'Sayang, aku bukanlah bocah seperti yang kau pikirkan.' Mengelus kepala Nurbaya.
Memilih merebahkan tubuhnya memeluk Nurbaya dari belakang. “Selamat tidur istriku.” bisiknya pada gadis yang tertidur pulas itu.
Mereka pun tertidur pulas.
Kisah cinta mereka yang sesungguhnya baru saja akan dimulai...
***
Terimakasih telah membaca dan menyukai tulisan saya, mohon maaf atas ketidaknyamanan atas apa yang saya tulis.
Benar, apa yang saya tulis di sini tidak mendidik, seperti judulnya 'BERONDONG NAKAL' Dari judul yang saya tulis, bisa di simpulkan, ada kata Nakal, serta di sinopsis saya juga telah me-warning, kalau cerita ini 18+
Ada beberapa Bab yang juga saya tandai, bahkan saya kasih peringatan.
Jika pembaca ingin mencari cerita yang mendidik, silahkan cari bacaan lainnya, dengan judul yang mendidik. Seperti, aku menikah dengan pesantren muda, Jatuh cinta pada pemuda santri, atau lainnya.
Dari awal cerita yang saya tulis dengan judul berondong nakal ini, hanya untuk hiburan saja. Mohon maaf🙏
Terimakasih untuk reader yang masih setia membaca cerita receh dari Author remehan kerupuk ini.🙏
__ADS_1
Terimakasih untuk dukungan like, vote dan komentar positif-nya🌹
___________