Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Testpect


__ADS_3

Waktu dua minggu tak terasa berjalan cepat, Nurbaya dan Satria lebih sering menghabiskan harinya di dalam kamar dari pada bermain di luar. Lebih tepatnya, keinginan Satria untuk memadu cinta.


Hari ini mereka kembali, naik Jet pribadi ke rumah keluarga besar Damrah. Beberapa oleh-oleh tentu saja mereka bawa untuk semua penghuni rumah itu, untuk Nenek dan Kakek, untuk Ayah dan Ibu, untuk para pekerja semuanya.


Sesampai di rumah, Satria masih saja meminta jatahnya saat di dalam kamar. Dia telah kecanduan berat, tak bisa di goda sedikit saja, langsung minta jatah, Nurbaya pun juga begitu, walau jaim malu-malu.


**


3 bulan telah berlalu dari hari bulan madu, Satria sudah kembali sibuk di kelas 3 SMA dan sibuk di perusahaan bersama Sekretaris Dewa. Pagi ini Nurbaya mual-mual, meriang, membuat Satria sangat cemas. Ia memutuskan untuk libur hari ini, menunggu Nurbaya yang sedang sakit.


“Aku akan mengompresmu sebelum Dokter Haikal datang, sabar ya, Sayang.” Mengelus punggung Nurbaya yang tidur miring ke arahnya duduk.


Ia mengoleskan minyak kayu putih ke perut, punggung, kening, jari tangan dan jari kaki Nurbaya.


Toktoktok! Suara ketukan pintu dari luar terdengar keras yang diiringi suara ribut.


“Masuk, tidak dikunci.” ucap Satria.


Bi Mona, Ibu Nurbaya dan Aira langsung masuk ke dalam kamar, mereka senyum-senyum kecil. Mereka berdua mendekat ke ranjang.


“Sejak kapan mual-mual, Sayang?” Aira bertanya sambil tersenyum, mengelus kepala Nurbaya.


“Kapan haid terakhirmu?” sambungnya lagi.


Bi Mona juga tersenyum, tak ada kecemasan di wajah mereka berdua, membuat Satria bertanya-tanya dalam hati. Sikap apa ini? Bukan seperti ini seharusnya membujuk orang sakit, bukan?


“Bulan ini belum datang, biasanya dari tanggal 5 sampai tanggal 10. Sekarang sudah tanggal 17, seharusnya sudah datang.” sahut Nurbaya lemah.


“Alhamdulillah, semoga saja.” Aira langsung memeluk haru Bi Mona.


Satria semakin bingung dibuatnya.


“Bagaimana kalau kita tes, Sayang? Sebelum Haikal datang.”


“Tes? Tes apa, Nek?” Satria langsung menyahut. Ia kawatir, tes seperti apa yang akan dilakukan Aira pada Istrinya.

__ADS_1


“Tes Hamil.” jawab Aira tersenyum puas.


Satria dan Nurbaya sama-sama terkesiap, lalu wajah mereka berdua merona merah. Dada mereka sama-sama berdebar hebat. Apakah benar mereka akan segera menjadi Ayah dan Ibu? Apakah benar di dalam perut Nurbaya sekarang ada Satria junior?


Aira langsung menekan tombol di nakas. Tak lama, seorang pelayan masuk ke dalam kamar.


“Masayu, kamu tahu alat untuk tes kehamilan, 'kan?” tanya Aira.


“Tahu Nyonya.” jawabnya sopan. Ya, Masayu adalah seorang Ibu rumah tangga yang tahu betul tentang kehamilan, karena dia telah memiliki 3 orang anak.


“Tolong belikan alat tes kehamilan, ya.” pinta Aira, ia memberikan 1 lembar uang seratus ribu pada Masayu.


“Beli yang biasa atau yang merek apa, Nyonya?” tanyanya lagi.


“Beli yang bermacam-macam, yang paling bagus.” Satria langsung memberikan 2 lembar uang seratus ribu pada Masayu.


Wanita itu hanya bingung, menatap 3 lembar uang seratus ribu. Alat testpeck yang mana yang akan ia beli. Satria mengibaskan tangannya, melihat tanda itu, Masayu bergegas keluar dan membeli alat tes kehamilan itu.


Ia membeli mulai dari harga lima ribu, sepuluh ribu, dua puluh lima ribu dan paling mahal enam puluh lima ribu. Ia langsung memberikan pada Aira.


“Ayo Sayang, kita test dulu, aku sudah tidak sabar.” Aira tersenyum dan memapah Nurbaya.


Nurbaya di papah sampai ke kamar mandi, sedangkan Aira dan Satria menunggu di pintu. Nurbaya buang air kecil dan ditampung di tadah tes kehamilan itu. Ia mencelupkan hampir semua tes kehamilan yang dibeli oleh Masayu tadi.


Setelah menunggu 2 menit, semua tes alat kehamilan itu telah menunjukkan hasilnya. Nurbaya membawa semua strip kecil itu keluar. Semua menunggu dengan antusias. Sangat-sangat penasaran.


“Bagaimana hasilnya?” tanya Aira dan Bi Mona antusias. Sedangkan Satria hanya bisa berdebar, harap-harap cemas.


Nurbaya menunjukkan semua strip itu. Satu persatu, semua hasilnya dilihat oleh Aira dan Bi Mona. Kemudian, Aira mengelus pucuk kepala Nurbaya, lalu tersenyum. Bi Mona juga tersenyum.


“Bagaimana hasilnya, Nek, Bu?” tanya Satria penasaran.


“Apa Nurbaya hamil?” tanyanya lagi.


“Ini artinya apa?” Menarik semua strip itu, menatapnya lekat, memperhatikan. Lalu, membaca petunjuk yang ada di bungkusnya. Satria pun tersenyum, memeluk Nurbaya, lalu menciumnya. Tak lama Dokter Haikal pun datang.

__ADS_1


Dokter itu meresepkan obat demam dan vitamin untuk Nurbaya. “Tensi darah Nona terlali rendah. Nona Muda harus istirahat yang cukup, perhatikan asupan makannya, jangan lupa minum obat dan vitaminnya.” ucap Haikal dengan ramah.


“Baiklah, terimakasih, Dok.”


Dokter Haikal, Aira dan Bi Mona keluar dari kamar. Aira mengantar Haikal keluar sambil berbincang-bincang, sedangkan Bi Mona melanjutkan aktivitasnya kembali.


Nurbaya masih tertunduk, Satria memeluknya. “Sudah, jangan menunduk seperti itu. Nanti cantiknya luntur.” goda Satria.


“Pasti Ibu dan Nenek kecewa.” lirih Nurbaya.


“Tidak apa, mereka terlihat baik-baik saja, masih banyak waktu untuk kita, jadi jangan terlalu di pikirkan, Sayang. Besok, lusa dan seterusnya kita masih bisa membuatnya.” Mengerlingkan mata nakal.


“Ishh... Mau nya,” ucapnya manja.


Satria meletakkan semua strip bergaris satu itu di nakas, kemudian mereka pun saling berpelukan.


“Sekarang tidurlah, aku akan menemanimu di sini. Cup!”


“Apa tidak apa-apa jika kamu sering libur?”


“Apa salahnya? Aku adalah pewaris Damrah Groub, libur sehari atau dua hari tidak akan membuatku miskin.” ucapnya sombong. Nurbaya mencebikkan bibirnya.


“Lagi pula, untuk apa uang yang ku cari itu, jika pemilik hatiku sakit. Aku pun akan ikut sakit.” Mengecup kening Nurbaya.


“Uuh!” Protes, kening Nurbaya beraroma minyak kayu putih. Cup! Mengalihkan ciuman ke pipi Nurbaya.


“Sekarang tidur dulu, nanti akan aku bangunkan setelah bubur ayamnya masak.” Satria memeluk penuh kasih sayang.


“Nanggung. Sebentar lagi pasti buburnya udah mateng, terus diantar masuk deh.” Memainkan otot lengan Satria.


“Ya udah, kalau begitu, tidurnya setelah makan aja, kayak ular.”


“Ish, bukan, ular itu kamu.”


Satria malah tersenyum mendengar, “Tapi kamu suka, 'kan?”

__ADS_1


“Hu'um.”


***


__ADS_2