
Siang ini, Nurbaya tidak fokus di toko perhiasan, Ia masih memikirkan Erian. Ia ingin menunjukkan pada Erian kalau dia gadis normal, buktinya dia bisa berciuman dengan Satria.
Ia akan menikah dengan Erian, bagaimana mungkin pria itu bisa dengan gampangnya memiliki pacar baru, kemana muka Nurbaya harus ia tunjukkan? Itu sesuatu yang cukup memalukan.
Erian di hubungi sejak pagi tak menjawab.
“Pak Manager, mohon maaf, ini adalah kinerja yang sangat buruk, saya baru masuk bekerja kemarin, namun saya merasa kurang enak badan, bisakah saya pulang berobat Pak?” Nurbaya berbohong.
Mau tak mau, Manager pun memberikan izinnya, walaupun sedikit ceramah ringan untuk Nurbaya. Kalau bukan karena Aira, mungkin saja Manager itu akan memaki Nurbaya karena bekerja main-main seperti itu.
Nurbaya memutuskan pergi ke rumah kontrakan Erian. Di depan pintu rumah, ia melihat sepatu yang sering ia lihat. Ia mengetuk pintu beberapa kali, tak ada jawaban, Ia menggenggam gagang pintu yang tak tertutup.
Ia putar, pintu itu tidak di kunci. Ia berjalan terus masuk, sambil memanggil.
“Erian, apa kamu ada di rumah? Kamu ada di mana?”
Tak ada sahutan. Hingga Nurbaya mendengar suara aneh dari kamar. Ia berjalan ke kamar, pikirannya menerawang aneh, Ia pun mengambil gagang sapu.
“Apakah ada perampokan? Atau...” Ia berjalan pelan, berjinjit sembari menggenggam gagang sapu.
Membuka pintu kamar yang sedikit terbuka itu perlahan.
Deg!
Brak!!! Sapu itu jatuh ke lantai seiring dengan air matanya yang menetes.
Suara yang terdengar seperti orang kelelahan dan kesakitan itu adalah erangan seorang wanita dan pria yang menjadi kekasihnya.
Gila! Benar-benar manusia terkutuklah mereka!
Hancur lebur hati Nurbaya. “Apa ini Erian?” ucap Nurbaya dengan bibir gemetar.
“Si*l! Bentak Erian kesal.
Bagaimana tidak? Permainannya belum usai, masih separuh jalan, tetapi sudah di kejutkan oleh Nurbaya.
__ADS_1
“Kapan kau masuk? Kenapa tidak bersuara, hah!” bentaknya lagi, dengan santai ia memakai celana boxer nya, Nurbaya menutup wajahnya, malu dan sedih bercampur jadi satu.
Gadis yang tengah bermandikan keringat dengan rambut kusut itu menarik selimut, mengambil handuk, lalu ke kamar mandi.
“Karena kau sudah melihatnya, sekarang kau sudah tahu kan? Aku menginginkan yang seperti ini. Sekarang semuanya terserah padamu saja.” ucapnya santai, tanpa rasa bersalah sedikit pun.
“Apakah tak ada rasa cintamu tersisa lagi untukku Erian? Apakah 6 tahun itu tidak berarti sama sekali bagimu?” tanya Nurbaya menangis dalam duduknya. Ia terhenyak di lantai.
“6 tahun ya? Biar aku kasih tahu padamu. Aku sudah berpacaran dengannya 1 tahun.” Mata Nurbaya terbelalak tak percaya, selama ini pemuda yang ia cintai itu telah berselingkuh selama 1 tahun lamanya.
“Dan lagi, aku hanya mencintaimu 2 tahun, selebihnya aku tak ada rasa lagi, aku bersabar dengan semua sikapmu, tapi aku sudah tidak bisa sabar lagi. Pacaran apa namanya jika berpegangan tangan saja kau khawatir? Pacaran apa namanya, jika selama 6 tahun aku hanya bisa mencium mu 1 kali saja dan itu hanya pipimu!”
“Kau berkata, kau mencintaiku, tapi kau tak pernah percaya padaku, bagaimana aku bisa percaya, untuk berciuman saja kau tak mau, aku laki-laki normal, aku butuh itu.”
“Aku tak suka wanita sok polos dan sok suci seperti mu, Hm, wanita sakit kelainan sex sepertimu aku tidak butuh sama sekali.” ucap Erian pedas, sangat pedas!
“Aku bisa.” jawab Nurbaya
“Bisa? Bisa apa?” tanya Erian, lalu dia mendekat.
“Aku bisa berciuman. Aku tidak sakit, aku normal.”
Erian mendekatkan wajahnya hendak mencium bibir Nurbaya. Tetapi gadis itu langsung menunduk, “Inikah yang kamu katakan bisa?” tanya Erian berdecih.
“Kenapa kamu melakukan ini padaku Erian?” tanyanya lirih.
“Sudah berapa kali aku jelaskan padamu, Aku butuh kehangatan.”
“Hanya itu? Huhuhuhu.” Nurbaya menangis. Hatinya sungguh terluka, cinta tulus yang ia jaga selama 6 tahun, berakhir seperti ini.
Gadis yang menjadi teman bermain di ranjang Erian tadi keluar, ia sudah memakai bajunya. Duduk di ranjang, mengikat rambutnya.
“Apa kau mencintai dia?” tanya Nurbaya.
“Seperti yang kamu lihat, tentu saja aku mencintai dia, begitu pula sebaliknya. Kami saling mencintai. Dia bisa memberikan aku kehangatan yang tak pernah aku dapat selama ini bersamamu.”
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu. Maaf aku telah menganggu waktu kalian berdua.” Nurbaya menggigit bibir bawahnya getir. Hatinya sungguh terluka.
Dia, gadis yang duduk di ranjang itu, wanita yang berjacket coklat tua kemarin, dia yang ditabraknya saat itu. Teman dekatnya. Jadi, pacarnya adalah Erian, orang yang sangat ia kenal.
“Melani, jika aku boleh tau, sejak kapan kau mencintainya?” tanya Nurbaya saat di ujung pintu kamar hendak keluar.
“Aku mencintai Erian sebelum kau jatuh cinta dan berpacaran dengannya.” jawabnya datar.
“Baiklah kalau begitu, tolong jaga Erian ya, semoga kalian bahagia dan langgeng.” Nurbaya keluar, beranjak pergi dari rumah Erian.
Hatinya hancur berkeping-keping. Air matanya terus saja mengalir, tak ada yang bisa ia ingat selain Adik Kecilnya. Pemuda itu yang akan selalu menghiburnya.
Awalnya ia berniat ke rumah Erian, menunjukkan dia gadis normal, dan ingin mencoba berciuman dengan Erian, seperti yang ia lakukan dengan Satria. Namun sesuatu yang mengejutkan di depan matanya.
Seberapapun salahnya Erian, ia masih mencintai pemuda itu. Pemuda yang ramah dan hangat selama ini, laki-laki yang berjanji akan melamar nya segera kepada kedua orangtuanya.
Tak mudah menghilangkan rasa cinta yang ia miliki selama 6 tahun ini.
Ia menelfon Satria, pemuda itu tak menjawab. Kemudian Ia menelfon Pak Hamdan.
Sopir paruh baya itu menjemputnya dan mengantarkannya ke sekolah Satria. Satpam melarangnya masuk, namun karena Pak Hamdan yang meminta izin. Apalagi mata sebab Nurbaya, seolah memang ada keperluan yang sangat genting yang akan disampaikan kepada putra pemilik sekolah ini.
Setelah gerbang di buka, Ia pun masuk langsung berlari, entah angin surga berpihak padanya, matanya langsung menangkap sosok pemuda tampan yang sedang bermain basket. Ia langsung berlari kelapangan itu.
Langsung memeluk Satria, lalu mencium bibir pemuda itu.
Satria benar-benar terkejut, namun tak lama Satria membalas ciuman itu lembut. Semua siswa dan siswi melihat adegan yang tak seharusnya mereka lihat.
Di pojok lapangan, ada seorang Siswi yang sangat cemburu dengan adegan itu. Ke dua temannya mengelus lengannya, memberikan semangat pada gadis remaja itu, agar tetap sabar. Ia telah lama menyukai Satria. Namanya adalah Anggun.
Bukan hanya gadis itu yang jatuh cinta pada Satria, tetapi banyak siswi lainnya yang sangat menyukai Satria, laki-laki dingin yang jarang masuk sekolah itu sangat susah di dekati.
Putra pemilik sekolah, keturunan kaya raya yang terpandang, pintar, tampan. Siapa remaja putri yang tidak akan tertarik?
Bisa dikatakan, semuanya yang sekolah di ELV SCHOOL adalah orang-orang kaya yang menjalin hubungan bisnis dengan pebisnis Damrah Groub dan Hardwork Groub.
__ADS_1