
Satria telah duduk di kursi kebesarannya. Sekretaris Dewa sudah menyelesaikan semua tugasnya, sekarang ia meletakkan beberapa file yang penting yang sudah ia periksa untuk di periksa kembali dan ditandatangani oleh Satria.
Sekretaris Dewa meminta membawakan air mineral dan potongan buah pepaya pada seseorang melalui telepon yang berada diatasnya mejanya.
Tak lama, seorang karyawan office girl membawakan dua botol air mineral dan potongan buah pepaya serta satu kotak makanan yang di titipkan dari satpam yang mengatakan pengirimnya Pak Hamdan sopir pribadi Direktur Satria.
Sekretaris Dewa memeriksa makanan itu. “Apa Tuan Muda meminta ini?” Ia mengangkat makanan itu, menatap Satria.
“Hm.”
Sekretaris Dewa pun meminta karyawan itu meletakkan semuanya di meja di dekat sofa. Dia meletakkannya, lalu pergi keluar segera.
“Apa 2 minggu ini kegiatanku sibuk?” tanya Satria.
“Aku akan segera memeriksanya, Tuan Muda. Tunggu sebentar.” sahut Sekretaris Dewa, kemudian Ia bergegas memeriksa buku agenda dan memeriksa pengingat di handphonenya.
“Tidak terlalu sibuk Tuan Muda, apa ada sesuatu yang ingin Anda lakukan 2 minggu ini?” tanya Sekretaris Dewa penasaran.
“Beberapa hari lagi aku akan selesai ujian kenaikan kelas, kami juga akan libur....” Satria menghentikan nafasnya, sejenak diam dan tampak berpikir. “Aku ingin berbulan madu dengan Nurbaya.” sambungnya.
Sekretaris Dewa menaikan alisnya. “Bukankah saat itu, Tuan Muda dan Nona honeymoon?”
“Ya... Itu hadiah dari Kakek dan Nenek. Sekarang, aku ingin mengajaknya honeymoon versiku.”
“Oh, begitu. Baiklah Tuan Muda. Aku akan mengatur jadwalnya. Kemanakah tujuan Tuan Muda honeymoon? Agar saya bisa menyiapkan semuanya.”
“Aku ingin ke pulau Sumatra.”
“Sumatra apa, Tuan Muda?” tanya Sekretaris Dewa. Satria malah tampak mengernyitkan keningnya.
“Sumatra luas Tuan Muda, ada Sumatra barat, Sumatra Utara, Sumatra Selatan, Riau, Kepulauan Riau juga Sumatra, dan lainnya.” jelas Sekretaris Dewa.
Satria manggut-manggut, lalu mengelus dagunya. Ia kemudian mengeluarkan handphone nya. “Aku ingin ke sini, kesini dan kesini.” Ia memperlihatkan beberapa gambar.
__ADS_1
“Tuan Muda, ini bukan hanya Sumatra, tapi juga pulau Kalimantan, Bali, dan daerah Jawa.” Sekretaris Dewa menghela nafasnya.
“Tapi judulnya Sumatra.” Satria ngotot dengan artikel yang Ia baca.
“Beberapa tempat pariwisata di Sumatra dan lainnnya.” Sekretaris Dewa mengejakan penjelasan di bawah judul.
Satria tampak menatap lama Handphone nya. “Lalu, diantara ini, menurutmu mana yang paling bagus?” tanyanya kemudian.
“Sebenarnya yang paling bagus adalah tempat yang paling Tuan dan Nona suka, tempat yang membuat kalian nyaman dan bisa mengenang kisah bulan madu itu.” tutur Sekretaris itu.
Satria melempar pena mengenai pundak Sekretaris Dewa. “Kalau aku tau, aku tak bertanya padamu!” Mendengus kesal.
“Aku meminta rekomendasi padamu, karena aku bingung. Apalagi Nurbaya, dia hanya akan menjawab terserah. Menjengkelkan!” Meremas kertas yang berada di mejanya, kemudian meremasnya membentuk bola, lalu melempar kembali ke tubuh Sekretaris Dewa.
Lemparan itu tepat mengenai dadanya. Sekretaris Dewa tidak berniat mengelak saat dilempar Satria sedari dulu. “Minum!” Sekretaris Dewa langsung mengambilkan botol mineral dan memberikannya pada Satria.
“Aku akan memilih tempat ini untuk honeymoon, di danau ini, kabarnya ada penginapan yang elit di pulau kecil ditengah danau ini.” Satria melemparkan handphonenya pada Sekretarias Dewa.
Sekretaris itu menangkapnya dengan sigap. Ia membuka dan melihat layar handphone, melihat galeri terakhir yang tampil dilayar itu, sebuah danau yang terlihat indah dan asri.
“Baiklah, kau harus sudah selesai mengurusnya pada hari Sabtu besok. Aku minggu ini ingin berada di sini dengan Nurbaya.” ucapnya dengan senyuman terlukis di bibirnya menatap gambar danau itu.
“Baiklah, Tuan Muda.”
Kesibukan pun mulai melanda Satria dan Sekretaris Dewa hingga sore menjelang, bahkan melewati magrib masih di ruangan itu.
Kini jam sudah menunjukkan jam 7 malam. Semuanya baru selesai, Sekretaris Dewa juga sudah merapikan mejanya dan meja Satria, telah membawa tas dan laptop Satria.
“Tuan Muda, apa kita berhenti dulu di restoran atau langsung pulang?” tanya Sekretaris Dewa.
“Langsung pulang saja, kamu makan di rumah saja nanti, Kak. Kamu pasti lapar, 'kan?” Satria berkata sembari mengetik sesuatu di handphonenya.
“Sepertinya koki di rumah sedang memasak udang asam manis kesukaanmu. Kakak bisa makan sekenyangnya nanti, sekalian nginap di kamar tamu saja.”
__ADS_1
“Baiklah, Tuan Muda.”
Mereka pun sampai di rumah. Kepala Pelayan telah menyambut Satria dan membukakan sepatunya. Nurbaya juga menyambut Satria, namun sedikit terlambat, karena Satria telah mulai berjalan di atas tangga.
Sekretaris Dewa juga di persilahkan ke kamar tamu, Kepala Pelayan telah menyiapkan semuanya untuk Sekretaris Dewa atas perintah Satria.
Satria langsung mandi dan memakai baju rumahan. Kemudian mereka semua berkumpul di meja makan. Ada Satria dan Nurbaya, Kakek dan Nenek serta Sekretaris Dewa.
“Ini Nak, kamu suka udang asam manis, 'kan?” ucap Aira, Ia meletakkan udang ke dalam piring Dewa. Lalu, meletakkan sayur brokoli dan goreng terong ungu di atas piring Arnel.
Kakek itu mengernyit. Cemberut. Aira tersenyum kecil. Lalu meletakkan satu ekor ikan asin. Membuat Arnel semakin cemberut. “Kalau sudah tua itu, makannya yang lembut, biar gigi palsunya tidak copot.” seloroh Aira setengah berbisik.
Arnel cemberut. Sedangkan Nurbaya juga mengambilkan nasi dan lauk untuk Satria.
Aira makan dengan tersenyum kecil, ia memakan sup ceker ayam yang dicampur kentang, wortel dan brokoli. Arnel langsung merebut dengan bibirnya ceker yang sedang di gigit Aira.
Sontak Nenek itu terkejut dan malu. Kelakuan Kakek tua ini sungguh lupa pada umur dan situasi.
Satria tampak diam dan cuek saja. Sudah biasa Kakek seperti itu baginya, Nurbaya senyum kecil melihat adegan itu, sedangkan Sekretaris Dewa hanya bisa pasrah gigit ceker, nasib jomblonya memang ngenes.
Dia jomblo karena sangat sibuk dan mementingkan kepentingan Satria nomor satu dihidupnya, begitulah pesan keluarganya karena hutang budi. Itu semua membuat ia tak punya waktu berkenalan dengan perempuan apalagi berkencan.
“Kenapa kau mengambil punyaku? Ambil juga di sana kalau mau!” ketus Aira.
“Kau memberiku goreng terong dan ikan asin, lalu dua tangkai brokoli? Sedangkan istriku ini mamakan sop ceker dengan lahap, tentu saja aku juga ingin mencicipinya. Apakah enak atau tidak.” sahut Arnel.
Lagi, lagi, adegan ini menyayat hati Sekretaris Dewa yang jomblo. Pertengkaran kecil penuh kasih sayang antara Nenek dan Kakek yang saling mencintai, lalu pasangan pengantin baru yang saling lirik-lirik.
Ah, rasanya dia ingin menghilang dari meja makan.
“Bagaimana dengan keadaan keluargamu?” ucap Aira tiba-tiba, ia tak ingin lagi berdebat dan mengerjai Arnel.
“Keluarga saya baik-baik saja semuanya Nyonya.” jawab Sekretaris Dewa.
__ADS_1
“Hm, syukurlah kalau begitu.”