
“Aku hanya meminta kalian untuk merestui, aku akan menikahi Kakak bagaimanapun caranya, titik.” Setelah mengungkapkan itu Satria langsung masuk ke dalam kamarnya.
Di dalam kamarnya Ia termenung lama, berfikir keras.
“Tidak bisa begitu, Sayang. Nenek tahu kau menyayangi Kakak mu itu, namun kalian tak bisa menikah, dia akan menikah dengan pacarnya, Erian. Kau ingat dengan pemuda yang beberapakali berkunjung ke rumah kita kan? Dia itu pacar kakakmu, Nurbaya.”
Ucapan itu masih terngiang-ngiang di kepala Satria. 'Pacar? Dia akan menikah dengan pacarnya? Kalian tak bisa menikah? Nenek, ada yang tak kau ketahui dengan hubungan mereka, pria bajing*n itu telah berselingkuh dan mereka telah putus.'
Huh! Mendengus kesal.
“Kalau aku tak bisa menikahi Kakak, lebih tak pantas lagi pemuda kepar*t itu untuk menikahi kakak!” kesalnya.
'Aku akan menikahi Kakak, Titik!'
Satria menelfon 2 pengawal pribadinya.
[Aku ingin kalian mengikuti pria bajing*n itu! Buat dia menikahi perempuan yang dimainkannya itu, lakukan apapun, kalian mengerti!] Ia memerintah mereka dari balik telepon nya.
[Kami akan melakukannya Tuan Muda, tapi kami akan menyuruh bawahan kami. Jika kami berdua yang turun tangan, bagaimana dengan tugas kami menjaga Tuan Muda, Kakek Anda pasti akan memarahi kami, mungkin saja akan mencincang kami hidup-hidup.] jawab salah seorang pengawal itu.
[Ah, baiklah, terserah kalian saja. Yang penting buat pemuda tukang selingkuh itu menikah dengan wanita mainannya. Kalian mengerti?!]
[Mengerti Tuan Muda, siap laksanakan.] jawab nya semangat di sana.
BIP! Telepon di akhiri Satria.
Ia menyunggingkan senyuman licik, 'Kalian tak akan bisa menikah, karena kakak adalah Mi-lik-ku, selamanya!' Ia menekankan kata 'Milikku' dengan jelas.
**
Beberapa hari berlalu,
Seseorang datang bertamu ke rumah keluarga Damrah. Memberikan undangan untuk Arnel sekeluarga dan Bi Mona sekeluarga. Ia adalah Erian.
“Bu, maafkan saya,” berkata lirih. Langsung bersimpuh di lutut Bi Mona.
“Ada apa, Nak Erian? Kenapa meminta maaf begini?” tanya Bi Mona kaget mendapati sifat Erian.
Pemuda itu sudah cukup lama tak berkunjung, Nurbaya mengatakan kalau pemuda itu sangat sibuk, jadi tak bisa berkunjung. Sekarang pemuda itu bersimpuh di kakinya.
__ADS_1
“Maafkan aku, Bu.” Ia mengulangi lagi perkataannya.
“Nak Erian, sudah, jangan bersimpuh seperti ini di kaki Ibu. Ada apa?”
Erian diam saja, masih bergeming di kaki Bi Mona.
“Jika karena kamu tak bisa mengunjungi Nurbaya beberapa waktu terakhir ini, itu tak apa. Karena pekerjaan lebih penting, nantinya kalian juga akan sering bertemu.” Bi Mona mengusap kepalanya.
“Bukan, Bu.” Ia memegangi jemari Bi Mona dan masih bersimpuh.
“Lalu, katakanlah, kenapa?” Ia menarik tubuh Erian, agar duduk disampingnya.
Pemuda itu pun tak bersimpuh lagi, Ia duduk di samping Bi Mona.
Erian beberapa kali menarik nafasnya, kemudian membuangnya kasar.
“Saya tak bisa menikahi Nurbaya, menepati janjiku yang waktu itu aku ungkapkan di depan Ibu.” ucapnya pelan.
Ia menghela nafas kasar. Entah sedang bersungguh-sungguh, atau sedang memainkan drama.
“Aku telah di jodohkan keluargaku, aku tak bisa melanggar perintah kedua orangtuaku, maafkan aku, Bu.” Ia menekukkan wajahnya sendu.
“Ibu mengerti Nak Erian, patuhilah perintah kedua orangtuamu, mereka pasti memilihkan calon istri yang terbaik untukmu, berbahagialah dengan pernikahanmu. Insyaallah, Ibu dan Nurbaya mendoakan pernikahanmu. Kamu tenang saja, nanti Ibu akan menjelaskan kepada Nurbaya, Ibu yakin, dia akan memahaminya.” Bi Mona mengusap lengan Erian lembut, mencoba menguatkan calon menantu tak jadinya itu.
'Semoga saja putriku kuat.' gumamnya dalam hati.
“Oh ya, Bu, sebenarnya, ada undangan dari Papaku, aku ingin menyerahkannya langsung pada Pak Arnel, tapi saya bersikeras ingin membawanya sendiri sebagai alasan, supaya aku bisa sekalian berjumpa dengan Nurbaya dan Ibu. Dimanakah Pak Arnel, Bu?” tanya Erian diakhir kalimat.
“Tuan dan Nyonya sepertinya masih sibuk Nak, titipkan saja pada Ibu, nanti akan saya serahkan pada beliau.”
“Terimakasih banyak kalau begitu, Bu. Saya pamit dulu,” katanya sopan.
“Iya, Nak Erian, semangat ya, kamu harus bahagia.” sahut Bi Mona. Ia mengantarkan Erian sampai ke luar, memandangi mobil Erian sampai hilang tak bersisa. Tak terasa air matanya menetes.
'Sungguh malang putriku, semoga dia kuat dan tabah, Tuhan.'
**
Bak luka di toreh sembilu. Nurbaya yang masih gagal move on dari Erian, di kabarkan tentang pernikahan pemuda yang masih ia cintai itu. Satria dan keluarganya mendapatkan undangan dari keluarga Caksono, keluarga yang menjalin hubungan bisnis dengan Arnel.
__ADS_1
Sebak di matanya, melihat undangan pernikahan atas nama Erian Hamid Caksono, Ia langsung menelungkupkan undangan itu, tak sanggup lagi melihat nama mempelai perempuannya.
'Melani, kau sahabatku satu-satunya, aku sungguh menyangimu, semoga kau bahagia dengan Erian. Walau hatiku sangat terluka, perih, karena masih mencintai dia dan belum mampu melupakannya.'
Airmata Nurbaya akhirnya lolos bergulir dari pelupuk mata, jatuh membasahi pipinya.
'Aku sadar diri, dia dan kau kini saling mencintai, aku tak menyangka sangat sakit rasanya, orang yang masih aku cintai menikah dengan sahabat yang sangat aku sayangi.'
“Kenapa menangisi pria seperti itu!” suara berat Satria mengejutkan Nurbaya dari perasaan sedihnya yang membiru kelabu.
Pemuda itu duduk di sampingnya. Mengusap air mata yang membasahi pipi Nurbaya. “Jodoh adalah takdir, berarti lelaki itu tidak di takdir kan untukmu Kakak, akan ada laki-laki yang datang membawa cinta yang tulusnya untukmu, percayalah.” Ia menatap lekat wajah Nurbaya yang tak menghadapnya.
Gadis itu menatap lurus ke bawah, dimana kakinya terjuntai.
“Kakak harus datang, temani aku, jadi partner ku.”
“Huh?!” Nurbaya mengernyit.
“Biar Kakak di kira sudah move on, apa kakak masih mau di ejek?” tanya Satria.
“Aku tak sanggup, melihat orang yang masih aku cintai bersanding dengan wanita lain, kau tak akan mengerti, karena kau tak pernah merasakannya.” ucap Nurbaya lesu.
Satria mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. 'Tak mengerti? Yang tak mengerti itu, kau, Kakak. Kau tak pernah mengerti dan percaya aku mencintaimu.'
“Aku memang belum pernah melihat orang yang aku cintai bersanding, tapi aku sering melihat dia bersama pria lain, itu sangat menyakitkan.”
Nurbaya menoleh. Menatap Satria cukup lama. Lalu menepuk-nepuk pundak pemuda itu.
“Jadi, wanita yang kau tunggu itu berselingkuh? Makanya kau sangat kesal dan tak bahagia di hari ulangtahun mu?”
Satria mengernyitkan keningnya.
Nurbaya tersenyum tipis. “Kita sama-sama sedang patah hati, sini biar kakak hibur hatimu yang gundah gulana, Sayang.” Ia langsung memeluk Satria dan membenamkan kepala pemuda itu di dadanya yang empuk.
“Kakak!” Satria memberontak. Ia tak ingin di peluk seperti ini, membuat risih sesuatu di bawah sana.
“Kakak, aku bukan anak kecil lagi! Jangan peluk aku seperti ini!”
“Diamlah! Kakak bukan hanya sedang menghiburmu saja, tapi juga sedang menghibur diri sendiri.”
__ADS_1
Perkataanya sontak membuat Satria diam, dan tidak melawan lagi, menikmati irama jantung Nurbaya yang berdetak di balik dada empuk itu.