Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Mengikuti Nurbaya


__ADS_3

“Hanya, OH?” tanya Erian kesal. Melani terkikik.


“Lalu, aku harus bilang apa, Sayang?”


“Gak jadi.” Erian melahap spaghetti dengan lahap, lalu mencocol ayam goreng ke dalam saus mayonnaise, memakannya beberapa potong.


“Enak?” tanya Melani sembari meletakkan es lemon tea.


“Enakan makan kamu.”


“Iih!”


“Ahahahah.” Erian tertawa.


**


Satria dan Nurbaya menghabiskan waktu mereka berbelanja di pasar Norwich, lalu bermain di taman bermain, membeli pakaian dan lainnya. Baron dan Jaka masih setia di belakang mereka. Jika di Indonesia, Baron lah yang berkuasa, namun di Inggris bukan lagi, Baron tidak lancar dalam berbahasa lain, sedangkan Jaka mempunyai kemampuan dalam bahasa Inggris, Jepang, Mandarin dan Belanda.


Jaka lebih sering memimpin sekarang, Baron mengikuti. Hari ini juga begitu, mereka mengikuti pasangan suami istri itu di pasar Norwich.


“Sayang, ayo, foto di sini.” Nurbaya berfoto di jembatan Norwich itu.


Pemandangan yang indah menyegarkan mata, beberapa orang penjual bunga di tepi jalan. Satria membeli bunga mawar merah, lalu memberikannya pada Nurbaya.


Setelah puas bermain, mereka masuk ke dalam kafe, sehingga seseorang yang mengikuti mereka kehilangan jejak. Namun, Baron dan Jaka melihat kehadiran Melani.


“Bang, bukankah itu wanita yang...”


“Sial! Kenapa wanita itu masih saja mengikuti bos kita, bahkan sampai ke Inggris!” Baron berdecih.


“Kita harus waspada Bang, jangan sampai dia menyakiti Nona Muda dan Tuan Muda.”


Jaka berjalan mendekati beberapa orang bergerombolan. “Hello, can you help me? (Hai, bisakah kamu membantu saya?)”


“Yea, sure.”


“Play a trick there, please. (Tolong bermain trik di sana)” ucap Jaka.


Jaka memberikan beberapa uang kepada ketua kelompok itu, mereka pun bermain sulap dengan musik di sana, di depan Melani.


“Tuan Muda, Nona Muda, sebaiknya kita makan di kafe sana.” Menunjuk di seberang yang cukup jauh.

__ADS_1


“Kenapa?” tanya Nurbaya.


“Di sana lebih enak Nona, teman saya merekomendasikannya.” sahut Jaka.


Mereka pun akhirnya pindah, sehingga Melani tak bisa bertemu dengan Nurbaya dan Satria. Satria dan Nurbaya makan di kafe yang di tunjuk Jaka. Makanan yang tak ada nasinya, lebih fokus pada roti.


Awalnya di Inggris, Nurbaya sempat sakit perut, karena belum terbiasa memakan roti. Roti daging, roti ayam, roti sayur, roti telur saus. Intinya, ada roti di setiap makanan. Perut Indonesia Nurbaya sangat kampungan. Sekarang, perutnya sudah bisa di ajak baikan, sudah bisa makan tanpa nasi.


“Bagaimana makanannya, Sayang?” tanya Satria.


“Enak.” Mengunyah.


Satria tersenyum, mengelus rambut Nurbaya. Dia menyeruput minumannya dengan kharisma. “Setelah ini, kamu mau kemana?”


“Kemana aja yang belum kita kunjungi.”


“Hm, baiklah. Kita ke hotel Erlham Road Damrah Norwich, bagaimana?” tanyanya sambil mengulum senyum.


“Hm, maunya.” Mencubit lengan Satria.


**


Ke esokan harinya,


“Sayang, mungkin saja kamu salah orang.” Membujuk Melani.


“Aku yakin. Ya sudah, kamu bisa tinggalkan aku.”


Erian hanya bisa pasrah dan mengalah. Menemani Melani duduk di sana, bahkan sampai malah hari. Hampir setiap hari di sana, tapi tak berjumpa mereka, hingga hari periksa kehamilan Melani datang.


Ia memeriksa kandungannya yang di temani Erian. Setelah USG, Melani menitipkan barang-barangnya untuk pergi ke toilet. “Kalau begitu, tunggu aku di sini setelah dari toilet ya, aku menebus obat dulu, Sayang. Cup!”


Ia duduk sendirian setelah dari toilet, siapa sangka, Nurbaya melintas di depannya seorang diri tanpa menoleh padanya. Ia mengikuti Nurbaya perlahan.


Nurbaya berbelok, di sana sudah ada Jaka dan Baron serta Satria yang sedang berbincang dengan seorang Dokter, sepertinya Nurbaya baru saja keluar dari toilet.


Melani terus mengikuti Nurbaya dan lainnya. Tak lama, Nurbaya dan Satria keluar dari ruangan Dokter yang telah dimasukinya tadi. Ia terus mengikuti, hingga tampak Satria dan Nurbaya masuk ke dalam mobil. Ia mengikutinya dengan taxi.


Tak jauh, Nurbaya berhenti di gang perumahan elit, Melani cuma bisa melihat dari luar, karena perumahan elit itu di jaga ketat. Lalu meminta sopir kembali mengantarkannya ke RS. Erian yang telah selesai menebus obat sampai panik mencari Melani, dompet serta Handphone Melani berada di tangan Erian.


“Wait, I will ask my husband for money.” ucapnya pada sopir taxi.

__ADS_1


Sedikit tak percaya, namun ia hanya bisa pasrah mengangguk.


“Erian.” panggilnya, Erian bergegas memeluknya.


“Sayang, aku sangat khawatir, aku baru saja akan meminta petugas untuk melihatmu dari CCTV RS.”


“Hm, temui petugas itu, katakan kalau sudah berjumpa aku. Aku tunggu di luar ya.” Mengambil dompet dan Handphone nya. Lalu, berjalan meninggalkan Erian.


Melani memberikan uang pada sopir, lalu membeli makanan, duduk menunggu Erian.


“Sayang, tadi kamu kemana?” Masih cemas.


“Tadi aku melihat ini.” Memamerkan makanan yang ia beli. “Aku tadi membeli ini, lupa membawa uang.” Membuat alasan bohong.


“Tapi, tadi aku sampai ke sini, aku gak lihat kamu.”


“Tadi aku sempat nangis di pojok sana.” Membuat alasan lagi.


“Nangis karena mau makanan ini, tapi kamu lupa bawa uang?” tanya Erian. Melani menjawabnya dengan mengangguk.


“Lain kali tunggu aku Sayang, jangan sampai anak kita sedih, kamu jangan nangis lagi ya. Kamu ingatkan, kata Dokter, gak boleh banyak pikiran, gak boleh nangis.” Memeluk Melani.


Semenjak kehamilan Melani membesar, ia memang lebih sering menangis, jika keinginanannya tak bisa dipenuhi, terkadang hal sepele membuatnya menangis. Apalagi setelah adanya Erian, sifat manjanya berlebihan.


Erian tersenyum, mengecup pipi Melani. Ia memaklumi dan banyak belajar secara teori tentang sifat ibu hamil yang di pengaruhi oleh hormon, kadang suka marah-marah tak jelas, nangis tanpa sebab, manja tiba-tiba.


“Ya udah, sekarang kita pulang ya.” Melani mengangguk setuju, patuh.


**


Ke esokan harinya,


Melani tak lagi pergi dan mengajak Erian ke jembatan, ia meminta Erian untuk mempersiapkan keperluan untuk pernikahan mereka. Setelah kepergian Erian, Melani datang kembali diam-diam ke tempat tinggal Nurbaya. Dari kejauhan, ia menatap pagar rumah elit yang terkunci itu.


Hari-hari ia habiskan untuk pergi diam-diam ke sana, membuat Erian pun curiga. Melani selalu saja membuat alasan, seolah ia hanya ingin sendiri tanpa Erian.


Perbuatan Melani pun di ketahui Satria melalui CCTV.


“Dia? Kenapa bisa di sini? Sejak kapan dia mengetahui kami tinggal di sini?” gumam Satria.


Pemuda itu akhirnya memeriksa semua CCTV. Rupanya, Melani telah mengetahui semenjak mereka pulang dari RS.

__ADS_1


“Wanita ini tak pernah jera.” ucap Satria dengan sorot mata yang tak bisa di tebak.


__ADS_2