
Setelah menangis cukup lama, Satria mencuci wajahnya, merapikan pakaiannya. Ia kembali keruangan Nurbaya.
“Sayang, kamu da....” Nurbaya langsung diam, menatap mata Satria yang bengkak.
“Kamu habis menangis?” Nurbaya langsung duduk dari tidurnya.
Satria bergegas maju. “Apa yang kamu lakukan, tetaplah berbaring, jika duduk harus perlahan, jangan cepat seperti itu.”
Nurbaya memegang wajah Satria. “Kenapa? Apa terjadi sesuatu yang buruk?”
Satria diam tak menjawab, ia hanya menundukkan pandangannya, Nurbaya memeluk wajah itu ke dadanya. “Erian telah tiada.” ucap Satria pelan.
Nurbaya lama terdiam, “Lalu, bagaimana dengan Melani dan anak yang dikandungnya?”
“Anaknya sehat, namun Melani masih dalam keadaan koma.” jawab Satria sedih.
Nurbaya semakin memeluk Satria erat.
**
Hari-hari terus berlalu, orangtua Erian telah melihat dan menggendong cucunya, juga telah melihat keadaan Melani yang koma. Menurut data dari polisi, Erian tertembak karena menyelamatkan Melani dan Nurbaya dari kasus penculikan.
__ADS_1
Mereka membawa jenazah Erian ke Indonesia. Lalu, menitipkan Melani pada Satria dan Nurbaya.
Anak Melani diberi susu bantu dan madu, bayi laki-laki itu tidak rewel, ia lebih sering tidur, mungkin bayi itu tau keadaan ayah dan ibunya.
**
Suatu hari, entah hari ke berapa, Melani sadar dari komanya, Nurbaya sedang menggendong bayinya.
“Mel?!” ucapnya, Nurbaya segera memencet bel.
Suster datang, lalu dia memanggil dokter.
Dokter memeriksa keadaan Melani. Senyuman menghiasi wajah dokter itu.
Satria dan Nurbaya menipu Melani, mengatakan kalau Erian masih koma. Mereka khawatir keadaan Melani memburuk.
Dua minggu sudah berlalu, Melani meminta ke rumah sakit kembali. Keadaannya sekarang sudah benar-benar sembuh. Ia masih menanyakan kabar Erian. Dengan berat hati, Nurbaya menceritakan yang sebenarnya, Erian telah tiada.
Melani terdiam, hatinya telah berkata, namun ia masih mencoba percaya dan menipu hatinya kalau Erian benar-benar koma seperti kata Satria dan Nurbaya. Ia lama termenung, hening tanpa kata, membuat Nurbaya khawatir. “Aku tak apa,” ucapnya saat Nurbaya memeluknya.
Hening, Melani terlihat biasa. Lalu, mereka berbincang yang lain.
__ADS_1
“Mel,”
“Hm?” Melani menatap Nurbaya.
“Apa kau tak ingin memberikan nama pada anakmu?” Nurbaya bertanya pelan. Setalah Melani sadar, wanita itu tak pernah menggendong anaknya, tak bertanya, tak ada niatan memberikan nama.
“Air susuku belum ada, nanti jika dia telah menyusu padaku, aku akan memikirkan namanya.” sahut Melani.
Melani memilih bersandar, beberapa kali ia menghela nafas. “Aku ingin pulang ke Indonesia. Apa Erian di kubur di Indonesia oleh orangtuanya?” tanya Melani.
“Iya. Tunggu 2 Minggu lagi, setelah Satria ujian semester, kita akan pulang ke Indonesia.” Nurbaya menggenggam erat tangan Melani.
Wanita itu mengangguk. “Baiklah.” Tersenyum.
“Aku ngantuk, aku ingin tidur.” ucapnya, lalu ia berdiri, berjalan pergi meninggalkan Nurbaya.
Di dalam kamar, ia berbaring, diam, pikirannya menerawang kemana-mana. Tak ada air mata yang mengalir, seolah airmatanya telah kering atau ia tak ada perasaan apapun?
Nurbaya diam-diam mengintip, memastikan Melani tak menggila atau melakukan perbuatan bodoh atau konyol lainnya. Apalagi saat ia tahu kalau Melani memiliki saudara kembar yang bunuh diri.
Sedari dulu, Nurbaya tak tau seluk beluk kehidupan pribadi Melani, ia baru mengetahuinya semenjak kasus ini, itupun Satria yang menceritakan semuanya padanya.
__ADS_1
“Dari dulu, aku tak pernah mengenal kalian secara mendalam. Erian, maaf, semoga kau tenang di sana. Melani, kau adalah wanita tegar dan kuat, walau terkadang caramu salah.” Nurbaya menatap pilu Melani yang diam berbaring dari daun pintu.
***