Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Toilet Sepi


__ADS_3

“Tuan Muda, nanti jam 9 kita akan bertemu dengan klien di hotel Kriston Oxey.” Sekretaris Dewa menjelaskan jadwal-jadwal penting pada Satria.


Satria hanya menjawab dengan “Hm.”


Satria yang telah menyelesaikankan ujian naik kelas kemarin, sekarang memilih fokus menyelesaikan masalah kantor, memajukan agenda yang bisa dimajukan, karena ia akan pergi bersenang-senang dengan Nurbaya lusa.


Jam 9 pagi, ia bertemu dengan klien yang di dampingi oleh Sekretaris Dewa. Lalu, jam 10 pagi mereka juga bertemu dengan rekan bisnis di Restoran Barseto Green.


Setelah menyepakati, mereka saling menandatangani berkas-berkas. Kemudian, Satria menyeruput minuman yang telah ia pesan, begitupula dengan rekan bisnis dan para Sekretaris mereka.


Tak lama, mereka berjabat tangan setelah semuanya selesai, lalu memutuskan pergi dari restoran. Saat Satria dan Sekretaris Dewa hendak pergi,


Brugh! Prang! Terdengar suara seseorang terjatuh beserta gelas.


Pakaian Satria menjadi kotor karena tumpahan jus yang dibawa seorang pelayan wanita. “Maaf, maafkan saya, Tuan.” ucap pelayan itu beberapakali membungkukkan badan.


Satria tak peduli, Ia berjalan pergi menuju toilet. Meninggalkan Sekretaris Dewa. Ia membersihkan pakaiannya, kondisi toilet sepi, tak ada siapapun. Saat Satria hendak keluar, seorang wanita masuk dan mengunci pintu toilet, entah darimana wanita itu memiliki kunci. Ia bahkan memegang banyak kunci.


“Hai, Sayang.” ucapnya. Ia membuka jacketnya, memperlihatkan bra berwarna hitam dengan daging montok yang menonjol.

__ADS_1


Satria mengernyit,


Wanita itu mendekat, memegang dasi Satria, lalu mengelus dada Satria yang di tutupi kemeja.


“Apa yang kau lakukan!” Ia menepuk tangan lancang yang telah mengelus dadanya itu.


“Hm, jangan jual mahal begitu.” Ia masih berusaha.


Satria mendorong wanita itu sampai jatuh terhenyak di lantai. “Buka pintu!” perintahnya.


Wanita itu berdiri, bersandar santai dengan senyuman licik, ia menggoda Satria dengan meletakkan jari-jarinya di dada. Bahkan memainkan jari itu di dadanya sendiri, agar Satria terpancing.


Entah kenapa, kepala Satria sejak tadi berdenyut-denyut, bahkan badannya terasa panas. Ada yang aneh.


“Apa kau menyuruh pelayan masukkan sesuatu di dalam minumanku?!” Satria asal bicara, asal menebak.


“Kau pintar sekali.” jawabnya, Ia menatap jam di tangannya. Satria terkesiap mendengar jawaban itu.


“Masih ada waktu 3 menit lagi, sebelum obat itu bereaksi.” Ia tersenyum licik.

__ADS_1


“Kau!” Satria langsung mencekik wanita itu, mamaksa mengambil kunci yang ada di tangan wanita itu.


Sebelum Ia memegang cabang perusahaan Damrah Groub, Ia telah mempelajari beberapa trik, dari yang licik hingga penyelesainnya.


Walaupun ia dicekik, ia masih menahan kunci sekuat hati. “Ah, sial!” Satria mengumpat. Kewarasannya mulai kacau, nafasnya mulai memburu, apalagi dengan tampilan wanita yang ia cekik.


Ia akhirnya bisa merampas kunci di tangan wanita itu, dengan langkah sempoyongan, ia memaksakan diri. Namun wanita itu tentu saja tak menyerah, Ia memeluk Satria, memaksa menciumi bibir Satria.


Satria yang setengah sadar menggigit kuat bibir wanita itu sampai berdarah. Ia mendorong wanita itu sekuat hati, bergegas membuka kunci pintu toilet. Bergegas ia keluar sembari mencubiti tubuhnya sekuat hati agar terus sadar.


Baron dan Jaka terlihat terengah-engah. “Tuan Muda.” ucap mereka. Sekretaris Dewa langsung memegang tangan Satria, wajah Tuan Muda itu terlihat aneh.


“Bawa Tuan Muda segera.” perintah Baron pada Jaka dan Sekretaris Dewa. Kemudian Ia masuk ke dalam toilet. Melihat wanita yang merapikan penampilannya.


Baron mengenal wajah wanita itu. “Kau cari masalah lagi?!” Baron langsung menarik paksa wanita itu.


“Apa yang kau lakukan, lepaskan aku. Jika kau tidak melepaskan aku, aku akan berteriak.” Ancamnya.


“Coba saja!” Baron langsung memukul tengkuk wanita itu, membekap mulutnya. Menelfon seseorang, lalu berjalan melalui jalur belakang restoran, Ia mengikat wanita itu dan memplaster mulutnya, memasukkan wanita itu ke dalam mobilnya.

__ADS_1


“Gadis sialan! Selalu saja kau berulah!” Baron menancap gas, menuju ke suatu tempat.


Sedangkan Jaka dan Sekretaris Dewa membawa Satria ke RS tempat Dokter Haikal bekerja. Wajah Satria yang terlihat aneh, bercucuran keringat, membuat Sekretaris Dewa semakin cemas.


__ADS_2