
“Jangankan ke salon, ke negara tetangga aku bisa bawa, beli apapun akan aku beli” Satria mengeluarkan kartu berharga yang bisa membeli mobil, rumah atau apapun itu.
“Gak usah pamer! Aku mau ke salon. Titik.” Nurbaya menyedekapkan tangannya ke dada.
“Baru juga pacaran satu hari. Huh, gak asik!” bergumam-gumam.
“Baiklah, baiklah. Kita ke salon.” Satria menurutinya dengan terpaksa.
Di salon, kepala Satria berdenyut. Menunggu wanita berbelanja dan ke salon adalah hal yang membosankan. “Aku ke sana dulu, ya.” pamit Satria setelah menunggu cukup lama.
Ia benar-benar tak suka. “Bang Baron akan menunggumu di luar, jangan kemana-mana!”
Satria memilih pergi ke lantai bawah Mall, di sana terparkir 2 mobil keren. SPG yang seksi telah menyambut dengan ramah. Satria di sambut dengan sangat baik, ia duduk di kursi yang di sediakan, entah apa saja yang ia perbincangkan dengan seorang pria berjas dan beberapa wanita berpakaian seksi di sana.
Rupanya setelah facial, Nurbaya tak ingin melakukan yang lain, ia sengaja ingin membuat masalah dengan Satria karena melihat pemuda itu dengan wanita-wanita seksi.
Cemburu? Entahlah. Yang ia pikirkan sekarang hanya alasan untuk membuat masalah, supaya Satria terpojok.
Nurbaya berjalan bersama dengan Jaka. Seorang SPG langsung menyambut, namun ia langsung mendekat ke arah Satria. “Sudah selesai?” tanya Satria, saat Istrinya itu mendekat.
“Sudah, aku mau pulang!” jawabnya ketus, cemberut.
“Kalau begitu saya permisi dulu,” Satria berjabat tangan dengan pria berjas itu. Lalu, merangkul pinggang Nurbaya di depan semua orang.
“Lepasin, ngapain sih, rangkul-rangkul?! Enak, ya, di kerubungi cewek cantik-cantik dan seksi!”
“Apa istriku ini sedang cemburu?” Satria tersenyum menggoda.
“Siapa yang cemburu. Aku paham kok, kucing mah, kalau lihat ikan segar emang begitu, sama seperti kamu, lihat bening-bening langsung seger matanya, langsung ke sana ninggalin aku sama Jaka di salon.”
Satria terkekeh.
“Sayang, kamu tau gak kucing anggora atau kucing Persia?” tanyanya dengan tersenyum.
“Tau, kenapa?” sahutnya ketus.
“Kucing itu makannya suka memilih loh, kucing mahal.”
“Terus apa hubungannya?!”
“Jika kamu mengibaratkan aku dengan seekor kucing, aku adalah kucing anggora atau kucing Persia. Kucing mahal, tak memakan sembarangan ikan atau daging. Hanya akan memakan makanannya, sama sepertiku, hanya akan menikmati milikku.” Mengedipkan mata dengan menggoda.
“Aku mahal untuk dimiliki orang lain dan aku tak punya waktu untuk yang lain, aku hanya akan bermanja dengan pemilik ku.” Mengusap pucuk kepala Nurbaya.
__ADS_1
Deg! Jantung Nurbaya berdebar.
Bukan seperti ini yang dia inginkan, sungguh! Ia ingin membuat Satria kalah dan terlihat buruk, sebagai pecinta banyak wanita karena masih muda dan labil. Tapi apa yang terjadi sekarang? Ia kalah telak, malahan kini dia jadi merona mendengar jawaban Satria.
'Oh imanku, jangan goyah!'
“Jadi, jangan pernah meragukan ketulusanku. Hanya ada dirimu dari dulu, sekarang dan hingga nanti. Cup!” Kecupan mendarat cantik di kening Nurbaya sebagai penutup kalimat.
“Apa sekarang masih ingin pulang? Atau ingin berbelanja lagi?” tanya Satria tersenyum.
“Ki-Kita belanja aksesoris, ya.” ucap Nurbaya terbata, mengalihkan dirinya yang berdebar hebat.
“Baiklah.” jawab Satria mengangguk.
Mereka pun masuk ke toko perhiasan, toko ini bukanlah perhiasan emas, hanya perhiasan tembaga biasa, dan perhiasan receh lainnya. Kening Satria mengernyit saat melihat Nurbaya menariknya ke dalam.
Ia hanya bisa pasrah mengikuti keinginan kekasih sekaligus istrinya itu. “Sayang, lihat ini, manis, kan?” Menunjukkan sebuah gelang karet.
Kening Satria semakin mengernyit.
“Bisa tulis nama sekarang, Mba?”
“Bisa, Mba. Apa Mba mau menunggu?” Nurbaya menjawab dengan mengangguk.
Gelang berwarna hijau hitam itu terlihat begitu sangat berharga oleh Satria sekarang. Ia tersenyum.
“Satya, apa artinya Satria dan Nurbaya?” tanyanya.
“Iya, dong. Kan, kita pacaran?” sahut Nurbaya tanpa melihat Satria, ia masih sibuk melihat-lihat.
Seandainya saja Nurbaya melihat wajah Satria sekarang, pemuda itu tampak bahagia sekali, wajahnya merah merona, lubang hidungnya pun mengembang mengempis saking tak bisa mengontrol debaran di dadanya.
“Ayo, kita lihat sebelah sini juga.” Nurbaya menarik tangan Satria. Pemuda itu masih menatap tangan Nurbaya yang memakai gelang dan menarik tangannya yang juga memakai gelang.
“Ini mainan handphonenya bagus deh. Coba lihat ini, Mba,” Mengamati, “Sama ini juga ya, Mba.” Menunjuk satu lagi.
“Wah, coba lihat, mainan handphonenya, aku lumba-lumba biru, kamu kura-kura hijau, ya.” Menatap Satria.
Pemuda itu masih melamun, ia masih di alam Nirwana saking senangnya. “Hei!” Nurbaya mencubit lengan Satria.
Satria tersadar, “Ini, kamu kura-kura hijau dan aku lumba-lumba biru, ya. Untuk mainan handphone kita.” jelas Nurbaya, Satria mengangguk.
Lagi, mainan handphone itu juga bertuliskan 'Satya.' Ia menggenggam erat tangan Nurbaya, lalu tak tahan lagi, ia mengecup bibir Nurbaya cepat di depan karyawan toko.
__ADS_1
“Sayang, apa yang kau lakukan?” Pipi Nurbaya merah merona karena malu.
'Aaaaaaaahhhh!!! Bocah nakal ini! Gak tau tempat banget sih, bikin aku malu saja!' Nurbaya gregetan.
'Ya Tuhan, kasihanilah saya yang jomblo ini.' keluh karyawan itu dalam hati.
“Maaf, ketidak sopanan saya.” ucap Satria menatap karyawan yang berada di depan mereka, ia tahu Nurbaya pasti malu dan kesal sekarang.
“Maaf, Istriku. Kau sangat imut, aku tak bisa menahannya.” bisiknya pada Nurbaya.
“Bagaimana kalau kita kembali ke hotel? Aku tak yakin bisa berpuasa menciummu, kau sangat menggoda.” bisiknya lagi.
Nurbaya menatapnya tajam. Satria hanya tersenyum kecil menatap tatapan itu.
Akhirnya, mereka pun kembali ke hotel. Satria, bocah nakal itu selalu saja membuat Nurbaya malu. Di negara kita Indonesia, mencium di depan publik itu adalah tindakan yang tidak sopan. Nurbaya pun memilih pulang, dari pada berondong nakal itu bertambah menjadi-jadi.
“Aku mau mandi dulu.” ucap Nurbaya setelah beberapa menit duduk dari kedatangannya.
“Ikut.” Satria juga langsung berdiri.
“Mana ada orang pacaran mandi berdua!” sergah Nurbaya.
“Itu kalau pacarannya belum sah, kalau kita pacarannya sudah sah.” Satria memeluk pinggang Nurbaya dari belakang. “Jadi, aku ingin mandi bareng dengan kekasih halal ku ini.”
Nurbaya menelan salivanya. 'Nurbaya, cepat berpikir!'
“Sayang, kalau kita mandi bareng sekarang, nanti gak surprise dong malam pertama kita nanti?”
“Nanti, setelah satu bulan, aku akan pakai pakaian yang bagus, supaya lebih terkesan, kalau sekarang, jangan, ya.” goda Nurbaya.
Satria tampak berpikir. Menimbang-nimbang. “Hm, baiklah kalau begitu.”
'Hehehe, dasar bocah, bisa saja di tipu!' Nurbaya terkekeh di dalam hati.
Ia langsung masuk ke kamar mandi dan menguncinya, tak ingin kalau pemuda itu tiba-tiba masuk dan berubah pikiran.
Satria mengelus dagunya, menyunggingkan senyuman yang tak bisa di artikan. 'Mau menipuku, ya? Istriku, aku akan pastikan, kau akan memakai sesuatu yang bagus saat itu, bukan hanya tipuan belaka.'
Ia mengambil handphone di nakas, membuka beberapa pesan, lalu membalas pesan yang penting. Setelahnya, ia melihat kembali ke arah pintu kamar mandi yang terkunci itu.
'Malam pertama kita akan segera terjadi, Sayang. Tak perlu menunggu satu bulan.' Satria tersenyum licik.
***
__ADS_1