Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Asmara pagi yang gagal


__ADS_3

“Mungkin dengan memujinya cantik, mengajaknya makan malam dulu, belanja barang-barang yang ia sukai, lalu mengajaknya begituan dengan lembut.”


“Aku sudah memujinya, mengajaknya dengan lembut dan menggoda, apapun aku berikan untuknya. Tapi dia tetap menolakku.”


“Sabar, Tuan Muda. Mungkin Nona sedang kelelahan dan sangat mengantuk. Bukankah kalian baru sampai tadi siang, bagaimana kalau besok pagi saja Tuan Muda memintanya. Mungkin setelah bangun tidur, Nona akan lebih segar dan bersedia.” terang Pak Hamdan.


Satria tampak berpikir. “Wah, itu ide bagus juga, Pak. Kalau begitu, aku harus kembali ke hotel sekarang, lalu tidur, agar bisa memintanya di pagi hari.” Satria tersenyum sendiri membayangkan keinginannya.


Ia bergegas meminum minuman dan makannya, lalu beranjak pergi bersama Pak Hamdan. Bapak paruh baya itu tersenyum melihat Tuan Mudanya kembali bersemangat


'Semoga berhasil, Tuan Muda.' bisiknya dalam hati. Ia tak enak jika berbicara langsung hal yang seperti itu.


Setibanya kembali di hotel, ia telah melihat Nurbaya tertidur nyenyak dengan kaki terbuka lebar memenuhi lebih setengah ranjang king itu, baju tersingkap hingga pusat dengan dengkuran halus yang teratur.


'Rupanya benar kata Pak Hamdan, kau benaran ngantuk dan kelelahan, ya? Baiklah, kita akan melakukannya nanti pagi.' pikirnya, lalu mengecup pipi Nurbaya.


“Istriku tersayang, kau selalu saja menggoda imanku, tidur saja begitu menggoda seperti ini. Aku sudah tidak sabar.” Satria mengelus pinggang dan perut yang tersingkap itu.


“Kau, tidur nyenyak sekali, ya? Lihatlah, betapa imutnya kau saat tidur seperti ini, begitu tenang tanpa memberontak.” Mengelus wajah Nurbaya, menatapnya lembut penuh kasih sayang.


“Baiklah, waktunya aku tidur.” ucapnya. Ia merapikan tidur Nurbaya yang berantakan, menyelimutinya dan masuk ke dalam selimut itu, memeluk erat tubuh Istrinya.


“Dasar, kebo. Kalau sudah tidur begini, di apa-apa-in gak bangun-bangun. Cup!” Ia mengecup bibir Nurbaya.


“Semangat menyambut esok pagi, mari kita nanti pagi yang indah.” Tersenyum penuh semangat.


“Nanti pagi, kau harus melayaniku, Sayang. Sekarang ku izinkan kau tidur nyenyak.” Mengecup pipi Nurbaya, lalu menutup matanya.


Cip! Cip! Cip! Bunyi burung berkicauan, panas matahari sudah terasa menyengat, Satria mengernyit, menggerakkan tangannya meraba kasur di sampingnya, yang terasa hanya guling yang terselimuti dengan bantal.


Ia lihat jam di nakas, ia terkesiap, “Sial! Ah, aku telat bangun!”


Ia bangun, lalu berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi. “Aku akan menangkapmu di sini,” Membuka pintu kamar mandi. “Sayangku, kau di da....” Satria tak menyelesaikan ucapannya.


“Kemana Istri durhaka itu?” Ia mengelus pelipisnya, kepalanya terasa berdenyut.


Ia berjalan ke arah luar, membuka pintu sedikit. Ia mengintip, menyembulkan kepalanya di sebalik pintu, mengedarkan pandangannya. “Kemana mereka?” Ia tak melihat dua pengawal pribadinya.


Dua orang dari sudut yang agak jauh sedang memakan cemilan, bergegas berdiri dan menyusul Satria yang terlihat mengintip.

__ADS_1


“Selamat pagi menjelang siang, Tuan Muda.” ucap seorang pria berbadan tegap yang sudah sampai di hadapannya.


“Ya, pagi. Siapa?”


“Aku pengawal pengganti, Tuan Muda. Baron dan Jaka sedang keluar.” jelasnya.


“Oh,” Mengangguk. “Ya sudah.” Ia mengibaskan tangannya, lalu masuk kembali ke dalam kamar.


Ia mengambil handphone di nakas, menelfon Baron. “Kalian ada di mana?”


“Ka... kami, ka...” ucapnya terbata-bata dan langsung di potong Satria.


“Kalian di mana?” tanyanya kembali dengan suara tinggi.


“Maaf, Tuan Muda. Tadi, Nona meminta kami mengawalnya belanja, ia mengatakan Tuan Muda ingin makan sesuatu, teta...”


“Dasar bodoh! Cari dia sampai ketemu!” hardik Satria memotong penjelasan kedua pengawalnya itu.


Pengawal itu terpana menatap layar handphone nya, bagaimana bisa Satria mengetahui kalau mereka kehilangan Nurbaya, padahal mereka belum menyelesaikan penjelasannya. Baron menghela nafas.


“Bagaimana, Bang?” tanya Jaka.


“Dasar pengawal tak berguna, menjaga satu wanita saja tak becus! Aaaaaaah!!! Asmara pagiku jadi gagal!!” teriak Satria.


“Dasar istri durhaka, aku menginginkannya, malah dia kabur! Awas saja kau Nurbaya, nanti malam kau tidak akan aku ampuni, akan aku beri kau hukuman.”


Satria pun bergegas mandi dan bersiap.


“Bagaimana ini Bang? Apa Tuan Muda sangat marah?” Jaka menggigit kukunya, karena masih belum menemukan Nurbaya.


“Bodoh! Tentu saja, ayo kita mencari Nona Muda sampai ketemu, jangan membuat Tuan Muda semakin marah.”


“Bang.” panggil Jaka.


“Hm?” Baron menoleh tanpa menghentikan langkahnya.


“Semalam... Bukankah Abang bilang kalau mereka melakukan malam yang nikmat? Apakah Tuan Muda kita kurang jantan sehingga Nona Muda kabur pagi-pagi begini?” tanya Jaka dengan polosnya.


“Sssstt!” Ia menempelkan telunjuk di bibirnya. “Apa yang kau katakan? Kenapa kau kurang ajar begitu? Apa kau tak ingin hidup lagi? Jangan sampai ada telinga yang mendengar, bisa-bisa kita tinggal nama jika berkata tak sopan begitu tentang keluarga Damrah.”

__ADS_1


“Maaf, maaf Bang. Aku tak akan berani berkata seperti itu lagi.”


“Ya sudah, ayo kita cari Nona sampai bertemu!” ajak Baron.


Baron dan Jaka telah berputar-putar beberapa kali menempuh jalan yang sama, masuk ke beberapa toko, sedangkan Nurbaya sedang terkekeh melihat mereka di atas dari kejauhan.


“Hehehehe, kasihan sekali kalian.” ucapnya, Ia dengan santai menikmati ice cream coklat dan vanilla seorang diri.


“Iya, kasihan sekali mereka, ya.” Seseorang menyahut.


“Iya.” jawab Nurbaya mengangguk masih menikmati es krim tanpa menoleh pada sumber suara.


“Enak?” tanyanya.


“Tentu.” sahut Nurbaya lagi.


Jempol dan telunjuk Satria langsung mengangkat dagu Nurbaya. “Benarkah, aku akan mencicipinya.” Satria langsung melahap bibir Nurbaya di depan keramaian itu.


Mata Nurbaya membulat sempurna, bagaimana bisa Satria menemukannya dan berdiri di sampingnya. Sekarang apa yang di lakukan pemuda nakal ini?


“Gak ada tempat lain apa?”


“Gak sopan banget jadi orang.”


“Kekamar aja sana, kalau dah sang*”


Beberapa mulut tajam menyemprot mereka yang berciuman. Satria tak peduli, ia kini sedang dirasuki rasa kesal pada istri durhakanya ini.


Nurbaya mendorong tubuh Satria kuat, namun tak bisa, ia memukul-mukulnya, Satria malah menangkap tangan itu dan masih melanjutkan menciumi bibir Nurbaya.


“Rasanya manis, aku masih menginginkannya. Ayo kita pergi dari sini.”


“Aku tidak mau, aku masih mau belanja.”


Satria tersenyum, “Baiklah, jika kau tak mau pergi, aku akan melakukannya di sini.” Ia mendekatkan wajahnya lagi dengan wajah Nurbaya.


“Baiklah, baiklah, ayo kita pergi.” sahut Nurbaya, tangannya mengepal tinju karena kesal.


Satria menarik tangan Nurbaya, membawanya ke parkiran. Di sana sudah ada Pak Hamdan. Ia mengibaskan tangannya. Pria paruh baya itu langsung pergi menjauh, sedangkan pengawal lain memantau dari kejauhan.

__ADS_1


Satria membuka pintu mobil. “Masuk!” perintahnya dingin dengan sorot mata tajam.


__ADS_2