
Adegan hebat yang Nurbaya lakukan di ELV SCHOOL kemarin, membuat heboh sekolah. Bahkan ada yang merekamnya, mengirim ke Groub Sekolah, sehingga menjadi perbincangan hangat.
Kelakuan itu di anggap sifat yang tidak terpuji, murid yang melakukan itu harus di beri sanksi agar murid yang lain tidak mencontohnya.
Masalah itu di sampaikan kepada Arnel, selaku pemilik utama sekolah. Berhubung beberapa hari lagi akan ada ujian kenaikan kelas, kehadiran Arnel sangat di harapkan. Sekalian untuk membahas langkah-langkah menghadapi ujian.
Untuk pertama kalinya bagi Arnel datang ke sekolah Elv School atas kasus cucu nya, biasanya dia datang karena prestasi yang Satria ukir.
Arnel datang ke sekolah yang di dampingi oleh Sekretaris di sampingnya. Kakek itu masih saja terlihat gagah dengan aura kepemimpinannya. Ia berjalan perlahan, bayangan dirinya bersama Aira istrinya sedang slow motion di pelupuk mata. Ia tersenyum.
Gadis berambut panjang dan selalu memakai kacamata, gadis yang tidak pernah peka pada perasaanya, yang kini telah menjadi istrinya.
Sekretaris mengetuk pintu ruangan, pintu ruangan itu di buka dan mereka di persilahkan masuk.
Mereka berjabat tangan.
“Silahkan duduk, Pak.” sambut Pak Kepala Sekolah.
Arnel dan Sekretaris duduk di sofa yang telah di sediakan. “Terimakasih, Bapak telah memberikan waktu untuk datang ke sekolah hari ini.” Berbasa-basi.
Kepala Sekolah menjelaskan kronologi sesuai kejadian di CCTV dan saksi murid yang ada di sana. Menyerahkan rekaman CCTV yang diambil oleh Sekretarisnya. Sebenarnya yang membuat masalah itu tersebar bukan karena CCTV, tapi rekaman dari teman sekolah yang diunggah.
Arnel sedang menonton rekaman CCTV yang di perlihatkan oleh Sekretarisnya, duduk dengan pose gagahnya. Setelah menontonnya, kakek itu hanya diam saja dengan expresi wajah yang tak bisa di tebak.
__ADS_1
“Perbuatan ini dilakukan bukan di jam pelajaran wajib, jadi cukup memberikan teguran dan hukuman sebagai keadilan untuk murid lainnya.” ucapnya kemudian.
“Silahkan memberikan hukuman pada Satria. Salah tetap salah, walaupun dia cucu saya.” jelasnya lagi.
“Mengenai semua yang ada di CCTV ini, aku tak ingin tersebar luas, jadi urus semuanya,” katanya dengan suara berat, mengetuk meja. Lalu berdiri.
“Saya kira semua sudah cukup jelas. Saya akan pergi dulu.”
“Iya, Pak.” Kepala sekolah langsung menjulurkan tangannya dan diterima oleh Arnel, mereka pun berjabat tangan. Lalu mereka kembali ke kantor.
Bekerja di perusahaan Damrah Groub sampai sore.
**
“Cepetan, ngebut bisa gak sih?” hardiknya pada Dewa.
“Iya, Tuan Muda.”
Sesampainya di rumah, ia langsung berlari mencari Pak Hamdan. Ia meminta kunci mobil, mengambil kotak yang telah di pindahkan di bangku depan oleh Pak Hamdan.
Memeriksa kotak itu. “Aaaaahhh, syukurlah!” Ia cepat mengambil benda itu, lalu menyimpannya.
Aira telah duduk di sofa, menunggu Satria.
__ADS_1
“Malam Nek,” sapa Satria sekenanya.
“Setelah mandi, turunlah, Nenek dan Kakek ingin berbicara nanti.” ucap Aira.
Satria mematung beberapa menit. “Baiklah, aku akan menemui Kakek nanti di ruang kerja.” jawab Satria. Aira pun menganggukkan kepalanya paham.
Satria berlari ke kamar, mengambil benda yang ia sembunyikan tadi, menyimpannya dengan aman.
“Beres, saatnya mandi.” ucap Satria.
Ia pun mandi, setelah mandi ia bersiul-siul, memakai bajunya dengan santai. Namun, sesaat ia telat menyadari ada seseorang yang berdiri di samping lemarinya.
Ia pun menoleh, “Kakak?!”
“Eh,” Nurbaya tersenyum canggung.
Niat hati cuma mau ngerjain Satria, karena hampir ketahuan, dia pun bersembunyi dan melihat pemandangan yang tak seharusnya ia lihat.
“Kakak ngapain di sini? Ngintipin aku ya?”
“Eh, siapa yang mau ngintip Anak Kecil, tadinya aku berniat mau ngagetin kamu, malah udah ketahuan duluan. Ya udah, aku keluar saja deh.” Nurbaya keluar.
Sedangkan Satria baru mengalami reaksi.
__ADS_1