Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Menikahlah Denganku


__ADS_3

Melani mulai menyusui bayinya, sedikit perhatian, namun lebih sering membiarkan Aira dan Nurbaya merawat bayinya. Ia masih saja lebih sering termenung.


Ia tatap cincin yang masih melingkar di jari manisnya. ‘Aku ingin menua bersamamu, hanya maut yang memisahkan kita. Apapun akan aku lakukan untukmu.’ Pandangannya menerawang jauh.


‘Kau tau, Sayang? Di dunia ini, yang bisa membuatku menjadi bodoh dan lemah? Hanya kamu!’ Erian menatapnya dalam.


‘Jadi, menikahlah denganku.’


‘Percayalah kali ini, aku lelaki yang pantas, aku tak akan pernah bermain dengan hati dan perasaanmu. Jika kau belum mencintaiku, tak apa, aku bisa menunggu, kapanpun kau jatuh cinta padaku. Yang jelas, aku mencintaimu sepenuh hatiku.’ Meletakkan tangan Melani di dadanya.


Melani tersenyum kecil, airmatanya mengalir, mengingat semua kenangan dan perkataan Erian. Saat mereka tinggal bersama di Inggris, memasak bersama, belanja bersama, juga dulu saat mereka berpacaran.


“Aku tak bisa berbohong lagi, Aku benar-benar jatuh hati, sangat dalam.”


“Aku juga mencintaimu, Erian. Aku juga tak sanggup hidup tanpamu. Kau lelaki terbaik yang pernah aku temui seumur hidupku. Hanya kamu, pria yang ku percaya.” Ia mengelus cincin di jari manisnya. Lalu mengecup cincin itu penuh sayang. Cincin pemberian Erian saat melamarnya waktu itu.


**


Malam hari,


“Sayang,”


“Iya, ada apa?” Nurbaya menatap Satria lekat.


“Bolehkan aku menikah lagi?”


Nurbaya diam sesaat, ia teguk salivanya. Barulah ia menjawab pertanyaan Satria, “Apa kau ingin menikahi, Melani?” Ia balik bertanya.


Satria diam tak menjawab, ia hanya menatap Nurbaya.


“Aku percaya padamu, Sat. Aku yakin kamu mempunyai alasan untuk menikah dengannya. Nikahilah dia, bagaimanapun Erian meninggal karena melindungiku juga, seharusnya mereka telah menikah jika tak berada di sana.” ucap Nurbaya sendu.

__ADS_1


Satria menghembus nafas kasar. “Apa kau tak punya rasa cemburu? Sakit hati?”


“Kenapa aku harus sakit hati?” tanya Nurbaya menatap Satria.


“Seharusnya kau marah, mengamuk, atau memakiku.”


“Aku tak bisa marah, aku juga tak ingin egois dan kejam, setiap wanita selalu cemburu jika berbagi kasih dan cinta, apalagi berbagi suami.”


“Tetapi, aku tak bisa mengamuk, apalagi memakimu, Sayang. Aku percaya padamu. Jika di sini ada cinta,” Menunjuk dada Satria. “Jika ada cinta, pasti hati ini tak akan mendua, apalagi berusaha melukai hatiku.”


Satria bersandar, diam, mencerna ucapan Nurbaya.


“Erian memintaku menjaga dia dan anaknya seperti aku menjagamu saat itu.” Satria tertunduk lemah.


Nurbaya memeluk Satria, “Tak apa, nikahilah dia. Aku mengizinkanmu.” Nurbaya menangkap wajah Satria.


Hatinya remuk saat mengatakan izin itu, namun ia tak ingin menjadi wanita egois. Ia hanya mencoba belajar ikhlas, mungkin ini adalah jalan takdir yang paling terbaik.


Satria memandang wajah itu, ia tak bisa tidur, walau sudah berbaring, matanya tak bisa terpejam. Menikah lagi? Dengan wanita yang tak pernah ia cintai?


Sebenarnya Nurbaya juga tak tidur, ia sedang menahan sebak di dadanya. Pikirannya menerawang jauh. Bagaimana rasanya hidup bermadu dengan sahabat sendiri. Sahabat yang pasti bisa memberikan keturunan, sedangkan dia belum pernah bisa hamil. Hatinya mulai takut.


**


Esok hari.


Setelah sarapan, Arnel dan Aira sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Nurbaya memilih sengaja pergi ke teras sambil menggendong Ethan.


“Aku ingin bicara denganmu.” ucap Satria kaku.


“Ya.” Melani diam dan duduk, hendak mendengar Satria berbicara.

__ADS_1


Satria gugup, tak tau bagaimana cara memulainya. Dadanya berdebar-debar, cemas, khawatir, takut melukai hati Nurbaya, namun janji adalah janji bukan?


Cara menjaga Melani dan anaknya adalah dengan menikahinya, begitulah kata Arnel dan Aira padanya. Walau hatinya sangat meragu, tatapan Nurbaya seolah mengandung luka. Bibir boleh berkata setuju, namun hatinya luka. Begitulah yang ditangkap oleh pandangan mata Satria semalam.


“Kau ingin mengatakan apa?” Melani mulai ketus karena menunggu lama, sedangkan Satria masih saja diam.


“Aah...! Me... Menikahlah denganku.” ucap Satria terbata.


Melani menatapnya lekat. “Maksudmu, apa? Menikah?” ulang Melani lagi.


“Iya, menikahlah denganku.” Bibir Satria terasa kaku saat mengucapkan itu, dadanya berdebar, cemas, ragu.


Melani tersenyum, “Kau yakin ingin menikah denganku?” tanyanya, Ia mendekatkan tubuhnya pada Satria.


Dada Satria berdebar-debar, ingin rasanya mendorong wanita itu, namun janjinya pada Erian bagaimana? Ia harus belajar menerima Melani bukan?


“Iya. Menikahlah denganku.”


Melani semakin mendekat dan menggeser tubuhnya, jari telunjuknya mulai bermain di dada Satria, menusuk dada Satria pelan.


“Kenapa ingin menikahiku?” tanyanya menatap Satria dalam, sembari mengumbar senyum.


Satria menelan salivanya, gugup menyerangnya, keringat dingin mulai mengalir dikeningnya. Ini lebih sulit dari apapun, mengajak seorang wanita yang tak disukai untuk menikah.


“Aku ingin menjaga dan melindungi dirimu dan anakmu.”


“Oh... Begitu?!” Melani tersenyum, Mengelus wajah Satria yang tegang.


“Baiklah... Aku akan menjawabnya...” Melani membuka sedikit mulutnya, memainkan jari jemarinya sendiri di bibirnya, mencubit pelan bibir nawahnya dengan bola mata yang tak lepas memandang Satria.


“Kau yakin?” tanyanya tersenyum. Pandangannya kali ini terlihat aneh dan penuh arti.

__ADS_1


__ADS_2