
Dor! Satu suara tembakan.
Dor! Dor! Dor! Suara tembakan beruntun dan suara api membakar bangunan terdengar riyuh.
Melani dengan sigap menarik Satria. Pemuda itu bukanlah petarung yang tangguh, tak pernah terlatih dalam hal seperti ini. Baron dan Jaka telah mendekat, melindungi Melani dan Satria.
Entah darimana orang-orang yang bersenjata itu, mereka membantai habis semua bawahan Satria. Baron bahkan tertembak di tangan dan Kakinya karena melindungi Melani dan Satria.
“Cepat, Tuan Muda.” Jaka menarik Satria, Ia langsung mengemudi. Sedangkan Baron masih berdiri di badan mobil, menembaki semua arah manusia yang bersenjata hendak menembak mereka.
Melani yang telah masuk ke dalam mobil juga mengambil senjata yang di sembunyikan Jaka dan Baron dalam mobil mereka. Jaka mengemudikan mobil dengan lincah. Baron masih berlari kecil dengan luka tembakan di kakinya, lalu melompat ke mobil yang mulai berjalan pelan.
Setelah Baron masuk, Ia mengikat tangan dan kakinya yang mengeluarkan banyak darah. Sedangkan Melani asik membalas tembakan orang-orang yang mengejar dan menembaki mereka.
Ini bukan pertama kalinya Satria melihat adegan ini. Waktu dia berumur 5 tahun, ini juga terjadi padanya. Ia hanya diam. Biasanya ia hanya melihat sebatas pukul memukul, tidak lebih saat ia bersama Baron dan Jaka.
“Apakah ini berhubungan dengan masalah kemarin?” tanya Satria, ia terlihat tegang, khawatir, “Bagaimana dengan Kakek, Nenek dan Istriku?” tanyanya khawatir.
“Tenang saja Tuan Muda, semuanya baik-baik saja. Tuan Besar sangat tangguh. Mereka pasti baik-baik saja.” sahut Jaka masih fokus mengemudi.
Tiba-tiba, Jaka mengerem mendadak.
Di depan mereka ada yang mengahalangi jalan dengan senjata, di belakang juga ada, belum lagi amunisi tinggal sedikit.
“Ah, sial!” Jaka memukul stir. Ia langsung membelokkan ke arah kiri, menembus semak, hutan, entah jalan atau rawa-rawa. Ia terus menyetir sekencangnya.
Tembakan demi tembakan terus terjadi, hingga keputusasaan datang menyambut mereka. Mobil mereka tak lagi bisa hidup, mungkin kehabisan minyak, pistol juga telah kehabisan amunisi. Mereka di kepung manusia-manusia bersenjata.
__ADS_1
Satria menatap wajah-wajah yang bertutup kain itu, seperti *******.
“Tuan Muda, tenang. Jangan keluar dari mobil.” ucap Jaka.
“Jaga Tuan Muda. Aku akan keluar.” ucap Jaka.
“Biar aku saja.” Baron membuka pintu dan keluar.
“Kalian siapa? Kenapa kalian menyerang kami?” tanya Baron.
“Banyak bacot!” Mereka menembaki Baron beruntun dengan sadis. Tubuh Satria menegang melihat kejadian itu. Bagaimana bisa mereka sekejam itu?
Jaka mengambil 2 jacket, memberikan pada Melani dan Satria. “Pakailah, ini anti peluru. Semoga mereka tidak menembak di bagian kepala dan ********. Jika mereka menembak, pura-pura lah mati. Mengerti? Aku sudah menekan tombol minta tolong di mobil ini. Mereka akan melacak kita. Jangan cemas, Tuan Muda.” Jaka berkata tegar, siap dengan apapun yang terjadi.
Melani dan Jaka memakai jacket itu. “Lalu bagaimana denganmu? Kau hanya memakai jas? Apakah jas itu anti peluru juga?”
Jaka memberikan isyarat mata agar Melani tak berkata jujur.
“Kau harus selamat, ada Nurbaya dan anakku yang butuh kamu. Pegang ini untuk jaga-jaga.” Melani mengambil pisau memberikannya pada Satria.
“Aku akan keluar.” lanjut Jaka.
“Tidak, kita duduk tenang di dalam. Mobil ini canggih, anti peluru. Biarkan mereka menghabiskan setengah peluru untuk menembaki mobil ini, sebelum anti pelurunya hancur, pasti amunisi mereka berkurang.” sanggah Melani pada Jaka.
Benar saja, Mereka menembaki mobil itu dengan ganas. Tak lama, sampai seseorang maju ke depan, mengetuk-ngetuk kaca mobil.
Sepertinya mereka mengetahui, mereka mencoba merusak yang lain, membuka paksa mesin mobil, mencabut kabel-kabel mobil, sampai percikan api keluar. Seseorang itu tertawa. Wajah Melani tampak suram.
__ADS_1
“Sial*n! Cepat keluar!” Perintah Melani. Mereka keluar dengan cepat. Melani langsung melompat menusuk leher seseorang yang dekat dengannya merebut senjata, begitupula dengan Jaka merebut senjata. Mereka menembaki semuanya sampai senjata itu habis. Sedangkan Satria diam, seolah nyawanya sedang terbang menyaksikan kegiatan ekstrim ini.
Melani dan Jaka terpojok, apalagi jumlah mereka bukannya berkurang, tetapi bertambah dengan kedatangan manusia baru lainnya. Mereka hanya bisa mendesah, melihat ke arah Satria. Jaka dan Melani melindungi tubuh Satria dengan tubuh mereka.
“Siapa kalian? Kenapa kalian ingin membunuh kami?”
Dor! Dor!
Suara tembakan, menembaki mereka. Wajah Jaka tampak penuh harap saat melihat bala bantuan.
Dor! Dor! Mereka tak membalas tembakan yang menyerang mereka, namun menembaki Melani, Jaka dan Satria.
Satria berdiri tegang dengan darah disekujur tubuhnya. Bukan darahnya, melainkan darah Melani dan Jaka. Dua insan itu melindunginya, menjadikan tubuh mereka sebagai perisai.
Semua manusia tersungkur, hanya Satria yang berdiri membatu. Ruth bersama anak buahnya serta pengawal Arnel lainnya mendatangi Satria.
Kaki Satria terkulai lemah, ia terduduk menatap dua tubuh yang terjatuh dengan darah yang mengalir.
“Tuan Muda, sepertinya hari ini adalah hari terakhir aku dan Bang Baron bertugas.” Ia menatap tubuh Baron yang jauh lebih dulu terbujur.
“Aku sepertinya juga terakhir kali menikmati menembak manusia.” Melani menjawab dengan tersenyum.
“Aku lelah, aku harus tidur duluan.”
Satria membeku, dari kejauhan Ruth dan pengawalnya mulai mendekati Satria.
Brugh! Satria jatuh, pingsan.
__ADS_1
***