
Hari ini, Satria dengan setelan jas berwarna hitam datang ke kantor cabang perusahaan Damrah Groub, di antar oleh Pak Hamdan. Ia tak masuk sekolah hari ini, ia hanya akan melakukan pembelajaran secara privat karena ada agenda penting.
Jam 9 pagi, ia telah mengadakan rapat yang berakhir sampai jam 11 pagi. Wajah pemuda itu mulai dari masuk sampai keluar tetap masam, di dalam ruangan itu benar-benar menegangkan. Sekretaris Dewa pun tak berkutik.
Tadi saat baru datang ke kantor kurang lebih jam 8 pagi. Sekretaris Dewa sudah di sambut amukan dan makian. “Aku benci kau!” teriak Satria, ia melempari Dewa dengan apapun yang ada di hadapannya.
Untungnya, yang ada di hadapan pemuda itu hanya kertas dan pena, jadi gumpalan kertas itu tak terlalu menyakiti tubuh Dewa. Pena juga tak mengenai wajahnya, hanya mengenai tubuhnya yang terbalut jas.
“Aku benci kau!”
“Maaf Tuan Muda, bisakah saya tau, kenapa Anda tiba-tiba membenci saya?” tanya Sekretaris Dewa.
“Kau bodoh atau pura-pura bodoh?!”
“Saya benar-benar bodoh dan tidak mengerti, Tuan Muda.” jawab Sekretaris Dewa mengalah. Kenyataan, ia memang tak tahu, apa penyebab pemuda itu murka sejak pagi hari.
“Dasar gak punya perasaan!” Masih memaki.
Hening beberapa saat.
“Kau tau kemarin hari apa?” Matanya menatap tajam ke arah Sekretaris Dewa yang masih setia berdiri di sana.
“Kemarin hari minggu, Tuan Muda.” sahut Dewa.
Prang! Ia melempar pas bunga ke lantai.
“Bodoh!” Kemudian ia memukul meja dengan tangannya, kuat.
Sekretaris Dewa memutar otaknya, memastikan bahwa kemarin, memang benar hari minggu.
“Kau sial*n Dewa! Aku menunggumu kemarin! Kau penipu!”
'Menunggu? Menipu? Kemarin?' Dewa memutar semua memori ingatannya. Kapan dia berjanji?
“Maaf, Tuan Muda. Saya benar-benar tidak ingat, kapan saya berjanji, bisakah Tuan Muda memberitahukannya pada saya.” sahutnya hati-hati.
“Kemarin kau menipuku, kau tidak datang di acara ulangtahunku.”
“Aku tidak berjanji untuk datang Tuan Muda, bukankah acara itu di adakan seperti syukuran di rumah saja.” Dewa berkata dengan yakin.
“Kau memang tak punya perasaan! Dasar pendusta, aku benci kau, pergi kau dari sini, aku tak ingin melihatmu lagi!” usirnya, namun Dewa masih bergeming. Mematung mendengarkan makian demi makian.
“Kau tuli, pergi dari sini. Aku benci kau!” serunya.
Hening kembali beberapa saat.
“Dasar pendusta, katanya aku ini adik yang ia sayang, apapun akan dilakukan untukku, supaya aku bahagia dia berjanji akan selalu bersamaku. Penipu, ulangtahunku saja tidak datang.” bergumam marah-marah.
__ADS_1
Eh?
Sekretaris Dewa terkejut mendengar gumaman itu, walaupun pelan, ia mendengarnya jelas, pemuda sombong dan dingin itu, jelas-jelas sangat menyayanginya, menganggapnya salah satu orang penting.
Jujur, kemarin ia merasa sedikit kecewa karena tak dapat undangan, pemuda itu hanya mengatakan akan merayakan dirumahnya bersama para pelayan dan dua temannya, jadi Sekretaris Dewa tak datang, merasa ia tak diharapkan.
“Maaf, maafkan saya, Tuan Muda.”
“Pergi kau!” usirnya lagi. Sekretaris Dewa pun pergi.
Sekretaris itu meninggalkan pesan pada bawahannya, agar siap siaga saat Satria memanggil. Ia akan bergegas pulang mengambil sesuatu, karena masih tersisa waktu 45 menit lagi untuk rapat.
“Sial*n kau Dewa!!”
“Dia benar-benar pergi, dasar laki-laki tak punya perasaan.” teriaknya.
Saat rapat akan di mulai, Satria sudah bersiap dengan seorang wanita di sampingnya, Ia bertambah marah saat mengetahui Dewa pergi tanpa minta izin padanya, padahal sekarang akan ada rapat penting.
Rapat berlangsung 10 menit, barulah Sekretaris Dewa datang terburu-buru. Mata tajam Satria menatapnya dengan aura membunuh. Bapak-bapak serta Ibu-ibu yang sebaya dengan Paman dan Neneknya juga merasa terintimidasi dengan tatapan pemuda SMA itu.
Namun, setidaknya mereka merasa lega dan tersenyum setelah melihat Sekretaris Dewa datang. Mereka merasa tertolong, tetapi senyuman mereka menjadi sirna melihat Satria bertambah menjadi-jadi, bahkan langsung menyambut Dewa yang terlambat dengan lemparan pena.
“Kau telat, kemana saja kau?” Pena pun melayang tepat di jidatnya.
“Maaf,” kata itu pelan keluar dari mulut Dewa.
Setelah rapat selesai, semua orang keluar dari ruangan itu, kecuali Satria dan Dewa. Pemuda itu sangat marah.
“Maafkan saya, Tuan Muda. Sebenarnya saya telah menyiapkan ini jauh-jauh hari. Saya kira, saya tidak di harapkan di acara ulangtahun privasi, Tuan. Tadi saya terlambat karena menjemput hadiah ini.” Ia menyodorkannya di atas meja, di depan Satria.
“Banyak alasan!”
“Kau kira aku bisa tertipu, huh!” Namun ia jelas-jelas mengambil hadiah itu, memeluknya.
“Aku masih benci kau, aku belum memaafkan kau, aku mengambil hadiah ini karena melihat kau telah berusaha saja.” ucapnya, langsung berdiri dan membawa hadiah itu.
“Tuan Muda, selamat ulangtahun, semoga apa yang Tuan harapkan terwujud.” ucap Dewa saat Ia berjalan hendak keluar.
Satria tersenyum kecil, menyembunyikan senyuman itu dengan pura-pura tak mendengar, terus berjalan keluar. Sekretaris Dewa pun mengekori pemuda itu dari belakang.
“Aku lapar, bawa aku ke Hilton Resto.” perintahnya.
“Baik, Tuan Muda.” Muncul senyuman di bibir Dewa, Ia yakin atasan kecilnya itu sudah memaafkannya.
Atasan kecilnya itu sebenarnya sangat jinak bersamanya, kalau pandai mengambil hatinya, namun sangat tak berperasaan kalau marah.
Mereka sampai di Hilton Resto.
__ADS_1
Pramusaji mendatangi meja mereka. “Bawakan aku yang paling terspesial, gak pakai lama!” pintanya.
Benar saja, makanan itu tak lama sudah datang memenuhi meja makan mereka. “Ayo makan, semua makanan ini ada di acara ulangtahun ku kemarin.” jelasnya.
Artinya, 'Kau juga harus mencicipi makanan ini, walaupun tak datang, aku ingin merayakannya sekarang berdua denganmu.'
“Iya, Tuan Muda. Terimakasih.” sahut Dewa tersenyum hangat, walaupun sekarang keningnya yang di lempar Satria dengan pena tadi, terasa berdenyut.
Mereka makan dengan lahap. Setelah makan, Satria mengeluarkan kado yang di bawanya sejak tadi, kado siapa lagi kalau bukan kado Sekretaris Dewa. Ia membuka kado itu. Lalu tersenyum.
“Pilihanmu jelek dan norak!” ejeknya, namun kenyataannya ia mencobanya langsung. Memakai dasi itu.
'Bibir dan hatimu jelas-jelas saling menipu, Tuan Muda.' Sekretaris Dewa menyunggingkan senyuman.
“Bagaimana memakainya ini? Lihat, karena dasi pemberianmu jelek!” Terus saja mengejek.
Sekretaris Dewa mendekat, memasangkan dasi itu. Ia mengerti arti dari ucapan atasan kecilnya itu. Artinya, 'Aku ingin memakai dasi pemberianmu ini, tolong pasangkan!'
’Dasar!' Sekretaris Dewa menggelengkan kepalanya.
“Kenapa kau menggelengkan kepala?” Satria bertanya penuh selidik.
“Mata saya kelilipan Tuan, Anda sangat tampan sekali.” sahut Sekretaris Dewa.
“Jangan lebay begitu! Aku memang sangat tampan dari dulu. Jangan menangis di depanku, aku tidak akan memaafkanmu!”
Dewa yang awalnya tak ingin menangis, sekarang malah menangis haru. Ia langsung memeluk atasan kecilnya itu.
“Sial*n, aku bukan gay, lepaskan.”
“Kau adikku yang paling imut, Tuan Muda.”
“Aku bukan anak kecil lagi, jangan memelukku seperti ini!” sungutnya, bibirnya monyong-monyong lucu ke depan. Dewa semakin tersenyum dan memeluk atasan kecilnya itu erat.
“Makasih, Tuan Muda telah menyukai dan memaafkanku.”
“Huh, aku belum memaafkan mu, kau harus membantuku mencari cara menaklukan hati Kak Aya.”
'Haaaaaah! Mulai lagi, Nurbaya, Nurbaya dan Nurbaya lagi.'
***
Masih mau up?
Jangan lupa tinggalkan like, komentar, favorit,🌹
Makasih🙏🌹
__ADS_1