
Langit biru dengan gumpalan awan putih yang bersih. Nurbaya dan Satria telah duduk di atas Jet pribadi, saling menggenggam tangan satu sama lain.
Satria dan Nurbaya saling bercanda bahkan bercumbu, membuat yang melihatnya ingin menghilang dari sana. Baron dan Jaka masih setia duduk di belakang mereka, sekali-kali pandangan mereka juga tertuju pada majikan mereka itu, walaupun mereka telah berusaha keras menatap awan dari kaca jendela Jet.
Perjalanan yang menyenangkan saat bersama pasangan yang di cintai. Wajah Satria dan Nurbaya berseri-seri saat Jet pribadi mereka mendarat di sebuah pulau, di daerah Sumatra.
Pulau yang di tumbuhi dengan pohon Pinus dan kelapa, serta beberapa pohon mangrove. Kedatangan mereka di sambut oleh pemilik penginapan di pulau itu dengan antusias.
Jauh-jauh hari, Sekretaris Dewa telah memesan penginapan dan menyewa pulau ini untuk liburan bulan madu majikan kecilnya. Tempat ini terlihat asri dan sepi, pengunjung lain tak bisa datang ke sini untuk saat ini.
Pemilik penginapan menunjukkan kamar dan ruangan lainnya pada mereka serta karyawannya membantu membawa barang-barang bawaan Satria. Di depan kamar, ada kolam renang mini nan biru jernih.
Satria mengibaskan sebelah tangannya.
“Terimakasih Nyonya, mari kita ketempat lain,” ajak Baron yang memahami pengusiran Satria.
Pemilik penginapan itu tersenyum. “Ok, mari.” jawabnya mengangguk, tersenyum ramah pada Satria dan Nurbaya, lalu meniggalkan sepasang suami istri itu di kamar.
Pemilik ruangan mengajak Baron mengelilingi semua ruangan dan tempat-tempat, sedangkan Jaka berdiri di luar kamar.
“Sayang, ayo kita mandi dulu.” Memeluk Nurbaya yang sedang merapikan dan memindahkan pakaian ke dalam lemari.
Nurbaya mengelus wajah tampan Satria. “Baiklah, tapi setelah merapikan ini, ya.” ucapnya lembut, kemudian mengecup pipi suaminya yang muda itu.
Satria membuka pakaiannya, menggantungkan semua pakaian itu di sofa, hingga hanya menyisakan celana dal*m saja. “Aku duluan Sayang.” Mengecup pipi Nurbaya yang hampir selesai merapikan bawaan mereka.
Satria langsung berenang di kolam itu, setelah beberapa kali menyelamkan tubuhnya, ia telah melihat Nurbaya dengan pakaian yang cukup sexsy berjalan perlahan ke dalam kolam. Ia tersenyum dan mendekat.
Berdiri tepat di hadapan Nurbaya, merangkul pinggangnya, menatap lekat mata istrinya itu, perlahan wajah mereka saling bergerak, saling mendekat, hingga bibir mereka beradu satu sama lain, merasakan rasa cinta yang menggebu begitu romantis.
Satria melepaskan pagutan bibir mereka, tersenyum, mengelus bibir yang telah basah di ciumnya tadi dengan ibu jarinya.
“Apa kau ingat pertama kali kita berjumpa di kolam?” tanya Satria.
__ADS_1
“Tentu, saat itu kau bertelanjang dan jamurmu masih kecil.” jawab Nurbaya terkikik.
Satria merengut. “Bukan itu.” Memanyunkan bibirnya.
“Bukankah Suamiku tercinta ini bertanya pertama kali bertemu? Saat itu, wajahmu sangat menggemaskan, imut dan cubbby.” Langsung menarik pipi Satria.
“Tangan ini mulai nakal lagi, ya.” Menciumi jemari tangan Nurbaya yang telah menarik pipinya tadi.
“Maksudku saat kita berenang pertama.” Merapikan beberapa helai rambut basah yang menempel di wajah Nurbaya.
“Saat celanamu lepas saat itu?” ucapnya sambil terkikik.
“Bukan, saat bra hijau terexpost.” jawab Satria kesal.
Hahahaha. Nurbaya tertawa, lalu menggelayutkan tangannya di leher Satria. “Apa kau suka isi di dalam yang berwarna hijau itu?” tanyanya dengan senyum menggoda.
Satria menggigit bibir bawahnya sambil tersenyum, tentu saja itu membangkitkan gairahnya. Melihat reaksi Satria, Nurbaya melepaskan tangannya dari leher, kemudian menyelam meninggalkan Satria.
Satria menyelam mendekati Nurbaya, tangan kekarnya merangkul tubuh Nurbaya, membawanya menepi ke pinggir kolam. Ia memegang dagu Nurbaya, detik itu juga, Ia membenamkan bibirnya di bibir ranum milik istrinya.
Merasakan manisnya bibir, saling bertukar saliva dengan liukan lidah yang menggelitik seluruh sendi, membuat debaran jantung berdetak cepat, mata Nurbaya yang awalnya terbuka lebar kini setengah terpejam menikmati permainan lidah Satria.
Nafasnya memburu, ia memegang erat lengan Satria, begitupula Satria mulai menjelajahi isi dalam pakaian Nurbaya, bermain di daerah kesukaannya, kemudian melepaskan peraduan bibir mereka, namun tangannya masih nakal menyentuh tubuh sensitif Nurbaya.
Hidungnya mulai menempel ke leher Nurbaya, lalu menurun ke tulang selangka, memberikan tanda kepemilikan di sana, bergeser ke tempat favorit yang sejak tadi dimainkan tangannya. Lidah nakal itu telah membuat Nurbaya sesak nafas, tanpa sengaja ia menjambak rambut Satria.
Entah berapa lama Satria bermain-main, seluruh sendi Nurbaya terasa melemah, suhu badannya terasa panas, debaran di dadanya tak karuan, nafasnya terasa susah diatur seperti selesai lomba lari.
“Sayang, aku sudah tak tahan lagi.” Ia langsung merangkul wajah Satria yang tadinya masih bermain-main di tubuhnya menghadap ke wajahnya. Tanpa ba-bi-bu, ia langsung melahap bibir suaminya dengan rakus, Satria mengelus rambut Nurbaya yang basah dan menikmati ciuman yang diberikan Nurbaya.
Satria melepaskan ciuman itu, menatap wajah Nurbaya yang memerah dan bergelora. Ia menggendong Nurbaya, melepaskan semua pakaian basah mereka, menuntaskan hasrat mereka berdua, bermandikan cinta.
**
__ADS_1
Baron dan Nyonya pemilik penginapan telah selesai berjalan-jalan melihat penginapan. Sekarang mereka bertemu dengan pemilik makanan di samping penginapan.
“Mari, Tuan Baron.” ajak Pemilik penginapan masuk.
“Selamat siang, Tuan. Senang bisa berjumpa dengan Anda. Saya pemilik kafe ini.” sapanya ramah sembari berjabat tangan.
“Silahkan berbincang dulu Tuan, saya ada sesuatu yang hendak di urus dulu, permisi.” pamit pemilik penginapan. Baron menjawab mengangguk.
Baron berbincang-bincang dengan pemilik kafe itu, memesan makanan kesukaan Tuan Muda dan Nyonyanya, agar koki di kafe ini selalu mempersiapkan menu favorit atasannya itu.
Usai menjelaskan semua makanan atasannya, ia kembali ke kamar, di sana ia menemukan Jaka yang terkantuk-kantuk duduk sendirian.
“Apa Tuan Muda sudah keluar sejak tadi, atau meminta sesuatu?” tanyanya pada Jaka.
“Tidak, sepertinya Tuan Muda tertidur.”
“Baiklah, tidurlah dulu di sana, biar aku yang berjaga.” Baron menunjuk kursi kayu panjang yang terletak dipojok sana.
Jaka berjalan patuh dan merebahkan tubuhnya di sana.
2 jam telah berlalu, tak terdengar suara apapun dari dalam kamar Satria. Baron pun mengirimkan pesan pada Satria.
Ting! Terdengar nada pesan masuk balasan dari Satria.
‘Aku akan makan dengan Nurbaya sebentar lagi, setelah itu aku akan pergi ke taman bunga Cikyam.'
Setelah membaca balasan pesan itu, Baron menepuk kaki Jaka membangunkannya. “Aku akan pergi mempersiapkan makanan untuk Tuan Muda.”
Tak berselang lama, Satria dan Nurbaya telah rapi, Jaka membawa mereka ke kafe, dimana Baron sudah berada di sana dengan hidangan yang tampak lezat menggugah selera.
Mereka makan dengan nikmat.
Setelah makan, Satria menggenggam tangan Nurbaya, lalu menciumnya. “Apa kau ingin melihat sesuatu yang aku sukai?”
__ADS_1