Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Dia dan Anakmu Selamat


__ADS_3

Nurbaya tercengang, darahnya lari ke atas kepala saking syoknya, melihat reaksi Melani yang menyikut dan menyandung pemuda di depannya, lalu pelatuk pistol yang berada di depan kepala Nurbaya berbunyi sangat keras, memekakkan telinga.


Pistol itu bukan lah di kening sampingnya, namun di tuju ke arah Melani.


Wanita itu mengelak, namun tetap mengenai tulang selangkanya, Ia lemah, terduduk, perutnya sangat sakit, ia tak bisa lagi bergerak. Saat ia hendak menembak kembali, Erian sudah datang menghadang semua tembakan itu. Entah berapa kali Erian terkena tembakan.


Polisi dan bawahan Ruth juga sudah bereaksi, mereka menembak semua orang itu, melumpuhkan mereka, menangkap yang masih hidup dan membawanya.


Nurbaya berdiri mematung seperti batu, seolah rohnya keluar saking takutnya. Di depan matanya, Melani tertembak demi melindunginya, Erian tertembak beberapa kali demi melindungi Melani. Paha Melani yang mengalir banyak darah, tulang selangkanya bekas tembakan, dada Erian juga mengeluarkan banyak darah. Sesuatu yang sangat menyeramkan, tak pernah ia lihat sebelumnya.


Ia merinding ketakutan, lalu jatuh pingsan.


**


Saat Nurbaya telah membuka matanya, Ia melihat Satria tertidur di samping ranjangnya. Ia menyentuh rambut Satria. Pemuda itu terbangun.


“Sat.” ucapnya pelan, airmatanya menggenang. “Apakah ini semua nyata atau hanya mimpi burukku?” tanyanya lirih.


“Jangan banyak berpikir, Sayang.” Satria memeluk Nurbaya. Mengelus punggung wanita itu, mencoba menenangkan.


“Bagaimana keadaan Erian dan Melani?” tanya Nurbaya.


Satria lama terdiam, Nurbaya semakin cemas. “Melani sedang dioperasi. Berdoalah, supaya dia dan anaknya selamat.” ucap Satria lembut, lalu mengecup kening Nurbaya penuh kasih.


“Apa kamu lapar? Aku akan meminta Jaka atau Baron membelikan makanan.” tanya Satria, Nurbaya menggeleng.

__ADS_1


“Kau harus makan, aku akan meminta mereka membelikan makanan.” Satria menelepon Jaka, meminta makanan.


Tak lama, makanan pun datang. Ia memaksa Nurbaya dengan menyuapi wanita itu makan. Setelah makan, Satria memijat tangan dan kaki Nurbaya. Wajahnya masih saja terlihat pucat dan tegang.


Satria naik ke atas ranjang rumah sakit itu, berbaring di samping Nurbaya, memeluknya. Cukup lama, suasana terdengar hening, hanya terdengar helaan nafas yang teratur dan bunyi tetesan air impus. Nurbaya telah tertidur.


Satria mengirim pesan, meminta Baron dan Jaka menunggu di dalam ruangan Nurbaya di rawat. Sedangkan diluar ada beberapa anak buah Ruth.


Satria perlahan berjalan menuju ruangan operasi, lampu operasi masih menyala, lalu ia menuju ke ruangan jenazah. Erian dengan wajah pucat menyambutnya.


“Semoga dia dan anakmu selamat.” Ia menutup kembali penutup wajah Erian.


**


Ayah dan Ibu Erian tersenyum saat melihat nomor Erian memanggil, suara mereka pun terdengar bahagia. Namun, tak lama terdengar suara itu tercekat.


Kemarin anaknya masih tertawa, rencana demi rencana telah mereka susun, pesta pernikahan yang megah nantinya, kelahiran cucu yang mereka nantikan. Semuanya hancur.


Setelah panggilan itu selesai, mereka segera berangkat ke Inggris.


Begitupula Arnel dan Aira menunggu kabar dari Satria dengan cemas. Mereka lega Satria dan Nurbaya selamat, namun juga bersedih saat mendengar Erian telah tiada dan Melani terluka dalam keadaan hamil besar.


**


Setelah dari ruang jenazah, Satria kembali keruang operasi, lampu tanda di depan pintu itu sudah padam, artinya operasi telah selesai. Ia berdiri menunggu di depan, dengan dadanya yang berdebar, berharap dokter mengatakan hasil yang baik.

__ADS_1


Tak lama, dokter dengan wajah lelah keluar dari ruangan operasi.


Perlahan, mereka berdua berjalan ke ruangan dokter. Setelah sampai, Dokter dan Satria duduk. Dokter mengatakan padanya, anak Melani berjenis kelamin laki-laki, keadaanya baik, fisiknya sehat tanpa kekurangan apapun. Namun, tidak untuk ibunya, ia masih koma, memerlukan banyak darah dan motivasi untuk hidup. Denyut jantungnya lemah.


Lutut Satria terasa lunglai, melemah.


Setelah keluar dari ruangan dokter, ia berjalan dengan langkah gontai ke ruangan bayi, di sana ia melihat bayi Melani, di sebalik kaca. Airmatanya menetes.


Ia kembali ke ruang jenazah, membuka penutup wajah Erian.


“Dia dan anakmu selamat.” Memaksa tersenyum.


“Anakmu sangat sehat, dia gagah dan kuat sepertimu.” ucap Satria dengan tercekat, dadanya sesak.


“Kau harus bangga.” Bibir Satria bergetar mengatakan itu, berbicara pada jenazah Erian. Ia menahan air matanya agar tak jatuh, namun air mata itu mengalir di pipinya, ia segera menghapus air mata itu.


“Sekarang kau bisa tenang, aku berjanji akan menjaga dia dan anakmu. Aku juga akan menceritakan pada dia dan anakmu, betapa besar dan dalamnya cintamu pada mereka.” Satria menutup kembali jenazah Erian.


Ia bergegas keluar dan berlari ke toilet. Di sana ia menangis sejadi-jadinya. Ia teringat bagaimana kedua orangtuanya terbujur kaku saat ia berumur 5 tahun.


Penembakan yang ia lihat tadi, sama persis saat ayah dan ibunya tertembak demi melindunginya. Ayahnya masih saja kuat, walau dalam keadaan terluka tembak, masih menyetir, namun tetap saja kejadian naas terjadi.


Ia tak bisa membayangkan betapa kesepiannya anak Erian kelak. Ia saat berumur 5 tahun sangat merasa kesepian, walaupun ada Nenek dan Kakek yang memanjakannya.


Makanya, baginya saat itu, Nurbaya adalah sosok bidadari yang menyenangkan. Menghibur kesepiannya, lalu ia benar-benar jatuh cinta pada sosok bidadari itu.

__ADS_1


***


__ADS_2