Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Pikiran Buruk


__ADS_3

Satria bangun dari tidurnya, diraba ranjang sebelahnya, kosong, tak ada lagi Nurbaya yang ia peluk tadi. Ia perlahan bangun dari tidurnya, duduk sebentar di tepi ranjang, menggerakkan tubuhnya, kemudian mandi.


Setelah mandi, ia keluar mencari Nurbaya, tak ada istrinya di sana. Ia menelfon Nurbaya, nomornya sibuk, berkali-kali ia telfon, nomor itu sibuk, lalu setelah itu nomor itu tidak aktiv lagi.


“Hm, kemana istri nakalku itu? Berani-beraninya dia meninggalkanku sendirian begini.” gumam Satria tersenyum, namun hati kecilnya gelisah.


Ia terus berjalan keluar, hingga sampai di teras. Ia lihat Baron berkacak pinggang, marah-marah tidak jelas. Pipi Jaka terlihat lebam, pelayan lain pun terlihat ciut.


Satria hendak mendekat, tetapi handphonenya berbunyi. Di sana tertulis 'Kak Dewa', Ia mengangkatnya. “Hm, ada apa? Apa kau sudah sangat merindukan aku, Kak? Apa kau pusing mengerjakan perusahaan itu sendiri.” sahut Satria cengengesan.


“Hm. Nomormu sejak tadi susah aku hubungi, lama tak kau angkat, Tuan Muda. Lalu setelahnya sibuk, baru sekarang terhubung.”


Satria terkekeh kecil, ia memang melihat panggilan dari Dewa, namun ia lebih pertama kali menghubungi Nurbaya. Ia merasa panggilan Dewa tak terlalu penting, palingan hanya menanyakan kabar, begitulah pikir Satria.


“Tadi Melani meneleponku...”


“Ah, males denger!” sergah Satria memotong ucapan Sekretaris Dewa.


“Tunggu! Dengarkan aku dulu, Tuan Muda”

__ADS_1


“Dia menemukan tas Nurbaya di jalan Zegallo Gig, apa tasnya tercecer?”


“Apa maksudmu?” Satria menaikan nada suaranya.


“Dia menelfon ku, katanya dia menemukan itu di jalan. Bip” Belum selesai Dewa berbicara, Satria telah mematikan handphone.


Ia berjalan ke arah Jaka dan Baron dengan wajah kelam, “Dimana Istriku?”


Dua pengawal itu menunduk dan diam. “Sialan! Apa yang kalian lakukan!”


Satria merampas kunci mobil, Ia melajukan mobil itu dengan cepat ke Zegallo Gig. Kedua pengawal itu juga mengikutinya dengan mobil lain, Bahkan juga ada beberapa pengawal lain yang ikut masuk ke dalam mobil itu sampai penuh.


Ia kembali menelfon Sekretaris Dewa, pemuda itu tak mengangkatnya. Ia sangat kesal sekali.


**


Di lain tempat,


Erian juga bangun dari tidurnya, langsung mencuci wajah, menuju dapur, lalu minum. “Sayang.” panggilnya. Ia berjalan ke teras, ke kamar mandi, dapur, ruang tv, tak ada Melani.

__ADS_1


Ia bergegas masuk ke dalam kamar, membuka laci melihat catatan Melani. Di sana tak ada tujuan, namun ia melihat sepucuk kertas. Ia melihat belakang handphone nya, terlihat cahaya merah kecil di sana. Ia mengotak Atuk handphonenya.


Bergegas ia memakai jacket kulit berwarna hitam, ia ambil beberapa permen yang Melani tulis di pesan handphone, wanita itu menyimpan di dalam koper, lalu sebuah senjata yang terlihat seperti sekotak rokok.


Erian menyewa taxi untuk menuju alamat yang di kirimkan Melani melalui pesan tadi. Ia kemudian menelpon polisi.


Erian sampai di tempat tujuan, begitu pula dengan Satria bersama pengawal lainnya. Mereka berdua saling bertukar pandangan tajam, saling memiliki pikiran buruk masing-masing.


Erian mengira Satria mengikat Melani lagi di sana, karena membuntuti Nurbaya, begitupula Satria mengira Erian bekerjasama dengan Melani, padahal ada sesuatu yang buruk menanti mereka di dalam sana.


“Huh! Menjijikan!” ucap Satria dingin menatap sinis Erian.


“Anak-anak, menggelikan!” sahut Erian tak kalah kesal.


Satria melotot, “Tak punya perasaan!” sambung Erian lagi, tersirat kobaran kemarahan dari matanya. Ia tak terima jika Melani di kurung di dalam sana, karena 3 hari lagi Melani harus menjalankan operasi melahirkan. Ia khawatir dengan keadaan wanita tercintanya itu.


Begitu pula Satria, lebih cemas lagi jika Melani melakukan perbuatan buruk pada Istrinya terkasih.


Hingga terdengar sebuah ledakan kuat melerai perseteruan mereka, lalu di susul dengan suara tembak menembak. Satria, Erian dan pengawal Satria masuk ke dalam, mereka pun saling tembak menembak dan pukul memukul.

__ADS_1


***


__ADS_2