
Di kamar kost, Melani menatap beberapa foto yang baru-baru ini ia tempel di dinding kamarnya. Foto dirinya dan Nurbaya, foto mereka bertiga dengan Erian, serta foto Nurbaya bersama Satria.
Beberapa kali ia membuntuti Nurbaya selama ini, mulai dari Nurbaya bekerja sementara di toko perhiasan di dalam Mall milik Aira, sampai ia melihat Satria membawanya ke suatu tempat. Tetapi ia tak bisa masuk ke tempat itu karena di jaga ketat dan tak boleh ada orang yang sembarang masuk jika belum membuat janji.
Setahu Melani, di tempat itu hanya ada orang-orang yang menjual perhiasan dan pakaian mahal. Jadi, ia memutuskan untuk pergi dan tak mengikuti lagi hari itu.
Setelah hari itu, Ia kehilangan jejak Nurbaya bahkan juga Satria. Ia pernah ingin mendekati Satria, namun pemuda remaja itu sangat sulit untuk di dekati, tak semudah ia mendekati Erian.
Dua hari yang lalu, Ia melihat beberapa mobil datang ke rumah keluarga Damrah Groub, Ia ingin sekali masuk ke sana, tapi ia tak punya alasan, apalagi hubungannya dengan Nurbaya kini buruk. Gadis itu menukar nomor handphonenya sebelum Melani menjelaskan semuanya.
Dulu, ia pernah bertemu bertatap muka satu kali dengan Satria, saat Satria di taman bermain, pemuda itu menunjukkan ketidaksukaan padanya. Pernah beberapa kali bertemu di kampus. Hanya sebentar, saat Satria menjemput Nurbaya, itupun pemuda itu tak turun dari mobilnya. Dia hanya bisa melihat wajah pemuda itu saja.
Walaupun semua data Satria di tutupi oleh Arnel, namun Melani tahu tentang Satria. Nurbaya pernah menceritakan kalau Satria adalah cucu majikan ibunya, Arnel Harviz Damrah pemilik perusahaan Damrah Groub.
“Siap-siaplah, aku akan mencobanya denganmu.” Melani menatap foto Satria yang ia foto diam-diam saat itu.
Ia menghela nafas kasar. Lalu melempar foto Satria kesembarangan arah, mengambil satu foto yang berbingkai hati, foto dirinya dan seorang wanita sewaktu kecil sedang berpegangan tangan.
Melani sebenarnya anak orang kaya. Ia mengetahui beberapa tempat mahal dan berkelas. Keluarganya berantakan semenjak adik perempuannya meninggal. Saling menyalahkan satu sama lain. Ayah dan ibunya bercerai.
Ia memutuskan keluar dari rumah besar keluarganya, Ia benci dengan semua orang munafik yang hidup di rumah itu. Ia memilih pergi bersama Ibunya. Namun malang melintang, 2 bulan ia pindah ke kontrakan bersama ibunya. Ia harus menerima kenyataan pahit.
Di depan mata kepalanya sendiri, kejadian yang sama terjadi pada ibunya. Namun, kali ini ibunya langsung di tusuk hingga meninggal dunia.
Setelah ibunya meninggal, ia lontang-lantung dan memilih kembali ke rumah. Ayahnya telah menikah lagi, tak menghiraukan Ibunya yang baru saja meninggal. Katanya cinta, tapi belum kering tanah pemakaman Ibunya, ayahnya telah menikah lagi.
Bukankah apa yang mereka pertengkarkan kala itu adalah benar? Bukankah semua yang dikatakan Ibunya saat itu kenyataan? Langkah yang tepat ibunya mengajaknya pergi dan meninggalkan keluarga terkutuk ini.
“Adikku, aku sangat menyayangimu.” Di usapnya foto itu, di peluknya.
Ia bersandar, pikirannya menerawang.
__ADS_1
“Melina, kau kenapa? Kenapa kau berantakan seperti ini?” tanya Melani saat melihat kembarannya yang berbaju biru dongker terlihat kusut dan ada tanda memar di wajah dan tangannya.
“Kau kenapa?” tanyanya lagi saat melihat kembarannya hanya diam saja.
“Aku tak apa-apa, Kak. Tadi aku hanya terjatuh.” Ia menghindari tatapan Melani.
“Hei, aku kembaranmu. Selama kau hidup, selama itu juga aku hidup, apa yang kau rasa, aku juga merasakan hal yang sama. Kau sedang menahan sakit, siapa yang melakukan ini padamu?” Ia mencengkram bahu Melina.
“Apa ini?” Matanya terbelalak melihat tubuh saudaranya yang di penuhi dengan tanda merah.
“Ini tanda cupangan! Kau melakukan tindakan yang tak terpuji?”
Melina diam saja, ia memilih merunduk.
“Lina! Kau gila? Ayah dan Ibu akan membunuhmu jika mereka tau!” seru Melani. Kembarannya Melina memilih untuk menangis.
“Apa kau melakukannya dengan pacarmu?”
Melina masih saja diam.
Melina masih saja diam.
“Aku akan meminta dia bertanggungjawab.”
“Kakak, jangan. Biarkan saja, aku dan dia melakukan atas mau sama mau.” sahut Melina dengan tersedu.
“Astagaaaaa! Kenapa aku harus memiliki kembaran yang bodoh dan lembek sepertimu? Padahal kita berada dalam satu kromosom dan rahim yang sama, bahkan kita lahir hanya selang waktu 5 menit saja.” Melani menghela nafas kasar.
“Kau tau, perawan adalah mahkota wanita. Secantik apapun dirimu, jika tak perawan lagi, mahkotamu telah hilang. Betapa bodohnya dirimu memberikan itu secara gratis pada Robbi. Bagaimana jika kau tak berjodoh dengan Robbi? Kasihan sekali nanti suamimu, jika dia hanya dapat bekas.” sarkas Melani.
“Maafkan aku, Melani.” lirihnya.
__ADS_1
“Buat apa kau minta maaf padaku, seharusnya kau minta maaf pada Ayah dan Ibu yang telah kau kecewakan. Pacaran saja di larang sama mereka, tetapi kau bukan hanya pacaran, tapi juga bercinta dengannya. Sekarang, rapikan pakaianmu, Pak Ahmad sejak tadi menunggu di parkiran. Ayo!”
Selang beberapa hari, Melina terlambat lagi pulang, Melani mencarinya, menemukannya berjalan gontai dan berpenampilan kusut.
“Kau!” Mata Melani mendelik. “Kau bercinta lagi dengannya?” Menatap Melina dengan tajam sembari menyedekapkan tangannya di dada.
“Apa kau tak merasa sakit? Aku dan kamu bisa saling rasa, aku merasa seluruh tubuhku remuk. Kenapa kau masih melakukan itu, huh?”
“Aku akan menceritakan kelakuan mu ini pada Ayah dan Ibu. Kau berhenti saja sekolah, menikah saja dengan Robbi.”
“Kak, jangan!” Ia menggenggam tangan Melani. “Aku mohon jangan katakan pada Ayah dan Ibu. Aku pasti akan menghindari kejadian ini lagi.”
“Kau tau Melina, jika kau bukan saudariku, aku sudah muntah dan jijik melihatmu. Sebegitu mudahnya kau melakukan itu, walaupun Robbi pacarmu!”
“Maaf.” lirihnya.
“Kau selalu mengatakan itu, tapi tak merubahnya.”
Beberapa minggu berlalu, Melina meriang, muntah-muntah. Melani memeriksa kening saudari kembarnya, gadis itu tak panas.
“Bulan ini kau sudah datang bulan?” tanyanya, Melina menggeleng. “Kau sudah tes?” Melina menggeleng kembali. “Baiklah, aku akan minta izin pada wali kelasmu, kalau kau sakit. Aku akan membeli alat tespek saat pulang sekolah nanti. Istirahatlah.”
Melani membawa tespek itu saat ia pulang sekolah, ia membelinya 3 buah. Ia langsung menyuruh adiknya tes urine dengan tespek itu. Hasil pertama garis dua, ia mengulang kembali masih garis dua, mengulang untuk ketiga kalinya tetap garis dua.
“Melani, bagaimana ini, aku hamil.” Melina menangis.
Melani menghembuskan nafas kasar. Mereka sekarang baru saja kelas 3 SMP, masih panjang masa depan mereka. “Aku akan menemui Robbi.”
“Jangan, Kak!”
“Kenapa? Dia harus bertanggungjawab.”
__ADS_1
Melani langsung keluar dari kamar, Melina pun menyusul. “Kak, jangan. Biarkan saja!”
“Tidak bisa, aku harus menemuinya!”