
Melani membuka matanya, yang pertama kali ia lihat adalah impus yang di pasang di tangan kirinya, lalu ia kembali membuka matanya dengan sempurna, terlihat wajah ibunya yang tertidur tersandar di kursi.
“Bu,” panggilnya pelan dengan suara parau.
Ibunya pun terkesiap, ia terbangun dari tidurnya yang tipis. “Sayang, kamu sudah sadar?” tanyanya lembut, Ia mengusap pucuk kepala Melani.
“Melina, mana, Bu?” tanya Melani.
“Dia ada di luar. Kamu tenang saja, Ibu akan memanggil dokter dulu, untuk memeriksamu kembali.”
Setelah di periksa, Dokter menyatakan Melani sudah bisa pulang nanti sore, Ibunya tampak lega. Tak lama, Melina masuk ke dalam kamar inap, langsung memeluk Melani dengan menangis sesungukan.
“Kenapa kita bisa sampai di sini?” tanya Melani setelah Ibunya pergi.
“Lelaki yang melarang kita saat itu bertemu dengan Pak Ahmad, Ia menyuruh Pak Ahmad menyusul kita ke dalam, lalu ia meminta bantuan yang lain. Pas Kakak pingsan, mereka datang menyelamatkan kita. Aku khawatir sekali, untung saja kamu gak kenapa-kenapa, Kak.” Melina memeluknya erat.
Kepala Melani berdenyut, peristiwa menjijikan itu berlalu lalang dalam pikirannya, sungguh kejam mereka.
Sorenya Melani di bawa pulang, semua keluarga besarnya berkumpul di rumah dengan tatapan yang sulit di artikan, tak lama Melani masuk ke dalam kamar bersama Melina, keributan mulai terdengar di ruang keluarga, bahkan suara pecahan dan teriakan.
Mereka di sana tak habis pikir bagaimana bisa Melina seperti itu, video itu di sebarluaskan oleh pemuda yang mengancamnya itu saat ia hendak di ciduk polisi. Ya, lelaki yang menegur Melani saat itu juga menghubungi polisi karena merasa sangat gusar dengan sikap kelompok yang keji itu.
Semua keluarganya menyalahkan Ibu Melani, terlalu memanjakan anak, tidak bisa mendidik anak, dan kata terakhir yang menyakiti hati.
“Pantas saja anakmu seperti itu Nik, dia saja tidak perawan lagi bukan, saat kau nikahi?” sarkas saudara dari Ayah Melani.
“Itu tak ada hubungannya dengan masa laluku, bukankah kita sudah membahasnya berdua, kenapa kau membuka aibku kepada saudaramu?”
Plak! Satu tamparan keras mendarat di pipi Ibu Melani.
__ADS_1
“Aku menyesal menikah denganmu!”
Melani dan Melina yang mendengarkan, hatinya bak di tusuk sembilu, perih. Sang Ibu pernah jatuh hati pada kekasihnya dulu, hingga mereka melakukan hubungan terlarang, lalu putus. Ayah Melani kecewa karena tak mendapati malam pertama impiannya.
Hari-hari berlalu dengan pertengkaran, sindiran, ejekan, mereka di kucilkan, Ayahnya jarang pulang dan entah kenapa semua keluarganya seperti ulat yang menggerogoti daging, makan, minum dan tinggal di keluarga ini hanya gratis, namun masih dengan angkuhnya menghina.
Suatu pagi, Melani histeris di kamarnya, Ia melihat Melina gantung diri dan meninggalkan sepucuk surat.
'Kakak, aku tau, kau percaya kepadaku. Semua yang ku ceritakan padamu adalah kenyataan yang benar. Semua orang tak percaya padaku, kecuali kamu dan Ibu. Aku tak mau menjadi beban kalian lagi, tolong jaga dirimu, Kak. Aku sangat menyayangimu, jangan sampai tertipu sepertiku.'
Malam itu, Melina menceritakan kejadian yang sebenarnya. Waktu itu ia diminta Robbi untuk mengantarkan buku pelajarannya di depan Centralpark Ocarin, mereka bertemu di sana, Robbi mengajaknya masuk. Jujur, awalnya ia sangat ketakutan melihat begitu banyak pemuda di sana, tak ada satu pun laki-laki. Namun, ia tatap Robbi, lelaki itu tersenyum hangat dan menggenggam tangannya, meyakinkan semuanya baik-baik saja.
Robbi yang ia kenal selama ini adalah pria baik, sopan, ramah, lembut padanya, sehingga ia merasa aman dan nyaman.
Di dalam Melani di suguhkan minuman, lalu mereka main putar botol. Dare True, itulah sebutan nama permainan itu. Tiba-tiba, kepalanya terasa pusing dan badannya panas, tubuhnya kemudian dikuasai oleh Robbi. Hingga ia tersadar, sesuatu memilukan telah terjadi. Minuman itu telah dicampur dengan sesuatu.
Wajah memelas dan bersalah di tunjukan Robbi di hadapannya, ia masih percaya bahwa itu adalah suatu kesalahan yang tanpa sengaja. Namun, beberapa hari kemudian, teman Robbi mengancamnya akan menyebarkan video dirinya bersama Robbi. Supaya tak di sebarkan, ia meminta Melina juga menemaninya, namun gadis itu menolak.
Hari berkelanjutan, demi tak tersebarnya video itu, Melina harus kembali menemui mereka, di siksa dan dilecehkan.
Melani menjerit, padahal semua pria itu telah di tahan di kantor polisi, namun ayah dan keluarganya masih tak percaya dan masih menyalahkan Ibu dan Adiknya, sehingga membuat adiknya bunuh diri.
Pertengkaran pun terjadi. Setelah Melina di kuburkan Melani dan Ibunya pergi dari rumah. Malang sekejap mata tak bisa di elakkan, baru 2 bulan mereka tinggal di kontrakan sederhana.
Ibunya di perkosa preman jalanan saat pulang kerja di tengah malam, saat itu ia datang menjemput Ibunya, Ia menjerit dan meminta tolong sembari menelfon bantuan. Ibunya di tusuk oleh preman itu dengan pisau karena melindungi Melani. Ia tak ingin putrinya juga dilecehkan oleh mereka.
“Lari Melani, ayo ke sana!” Seorang ibu akan selalu kuat bagaimanapun keadaannya demi melindungi anaknya. Begitulah dengan Ibu Melani, Ia masih berlari dengan darah yang mengalir.
Mereka pun di tolong, namun Ibu Melani meninggal dunia saat di perjalanan rumah sakit.
__ADS_1
Melani kembali ke rumah setelah Ibunya dimakamkan. “Kau kembali juga akhirnya?” sinis yang lain.
Ayah Melani telah memiliki wanita lain, belum 2 minggu ibu Melani meninggal, ayahnya telah menikah kembali dengan wanita muda. Wanita itu juga membawa adik laki-lakinya ke rumah ini. Rumah yang terlihat seperti penampungan manusia pengangguran.
Hanya Ayah Melani yang bekerja, semuanya hanya merengek, mengeluh dan mengemis meminta uang padanya.
Melani masih diam, ia hanya meminta uang sama seperti yang lain, walaupun perkataan kasar sering terlontar dari mulut ibu tiri mudanya itu dan sesekali dari ayahnya. Ia tak bisa melawan, ia butuh uang, ia ingin tetap sekolah, sedangkan ia belum bisa apa-apa.
Hingga kejadian naas menimpanya, adik laki-laki ibu tirinya memperkosanya. Ia langsung mengadukan pada Ayahnya, namun siapa sangka, ayah dan semua orang tak percaya padanya. Mereka mengatakan Melani sama seperti Melina, buruk.
Di sini, mulai detik itu juga, Melani begitu jijik dan membenci laki-laki, benci dengan hubungan laki-laki dan perempuan. Ia pun memutuskan memoroti ayahnya, menumpuk uangnya sebanyak-banyaknya bahkan mencuri perhiasan dan barang-barang mewah ibu tirinya.
Melani menyeka air matanya yang mengalir, kembali meletakkan foto berbingkai hati yang ia peluk. Lalu mengambil foto Satria dan Nurbaya yang tampak seperti paksaan menurut Melani.
Satria tampak menarik tangan Melani dengan paksa kesuatu tempat.
'Apa benar dia pacarmu, Aya?'
'Kau digosipkan berpacaran dengannya, aku masih tak percaya, dia jelas-jelas anak kecil yang waktu itu, dia adalah anak majikan Ibumu, apa kau di paksa olehnya? Ataukah hanya terpaksa berpacaran dengannya agar Erian tak menghinamu?'
“Tunggu saja, aku akan datang menemuimu, kita akan bermain, Satria Develv Damrah.” ucap Melani dengan senyuman misterius menusuk foto wajah Satria.
Sedangkan orang yang di dalam foto di pegang Melani saat ini sedang bersama di hotel sekarang, mereka telah menikah, bukan lagi pacaran seperti gosip yang di dengar oleh Melani itu.
***
Wah, ada yang kesal gak nih?
'Aku maunya Babang Satria, bukan Melina, Melani!'
__ADS_1
Sabar, sabar, nanti Babang Satria muncul Kok. Orang sabar rezkinya leeeeebaaarr😉