Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Juara


__ADS_3

“Apa yang dikatakan Nurbaya sampai Tuan Muda berkata seperti itu?” pikir Mona dalam hati. Mona diam-diam mendengar perbincangan ringan Satria bersama kakek dan neneknya saat menghidangkan sarapan.


“Bi, panggil sekalian Nurbaya, suruh sarapan di sini.” pinta Aira.


“Tak usah Nyonya, biarkan saja anak itu di dapur, kalau dia di kasih hati tambah ngelunjak nanti.” jelas Mona.


“Tapi, kalau disuruh ngepel di dapur, nanti dia bisa telat berangkat ke sekolah. Biar sekalian saja Nurbaya berangkat ke sekolah bareng Satria.”


“Tapi, Nyonya...”


“Ikuti saja ingin Istriku Bi, suamimu jadi tak repot mengantar Nurbaya lagi. Kerena sekolah Satria juga satu arah dengan Nurbaya, Pak Hamdan tidak akan keberatan mengantarnya.


“Baiklah, Tuan, Nyonya. Terimakasih.” sahut Mona.


“Ya Allah, sungguh beruntung aku bekerja di sini, mendapatkan majikan yang baik hati.” gumam Mona dalam hati. Lalu, ia berjalan ke dapur.


Sesampainya di dapur, ia langsung menjadi geram lagi, setelah melihat wajah Nurbaya.


“Kau bilang apa saja pada Tuan Muda semalam?” tanya Mona memelotot.


“Aku tidak berkata apa-apa, Bu.” jawab Nurbaya.


“Bohong! Kau pasti sudah mencuci otak Tuan Muda dengan perkataan usil mu!” Sampai-sampai, Tuan Muda menjadi tidak seperti biasanya.” gerutu Mona.


“Aku tak berkata macam-macam kok, Bu. Sungguh! Aku cuma berkata, menjadi seorang laki-laki itu harus bisa mandiri, agar disukai banyak wanita.” jelas Nurbaya.


“Apa?!! Kau berkata seperti itu?!” teriak Mona, lalu menjewer telinga Nurbaya.


“Dasar anak bodoh! Ajaran sesat dari mana itu? Seharusnya, kau mengatakan hal yang baik-baik saja.”


“Tapi itu adalah perkataan yang baik Bu!” sahut Nurbaya.


“Ah, aku jadi lupa, ini semua gara-gara kebodohan mu!” Lain kali kau jangan berkata aneh-aneh lagi. Tuan Muda itu pintar, dia selalu menyaring dan mengingat apapun yang dikatakan padanya. Anak kecil itu paling bagus memorinya.”


“Ya sudah, cepat kau rapikan bajumu! Biar Ibu yang selesaikan ini. Nyonya memintamu sarapan di meja makan.”


Tadi pagi setelah Satria berhenti menangis, Nurbaya telah bersiap-siap mandi dan memakai baju sekolah. Begitu pula dengan Satria juga dimandikan oleh Aira. Namun, saat Mona melihat bekas gigitan di pipi gembul Satria, Ia yang diminta membuat sarapan oleh Aira langsung menghukum putrinya Nurbaya.


Ia menyuruh Nurbaya mencuci semua piring kotor dan mengepel, Ia tak peduli putrinya sudah memakai pakaian seragam sekolah. Bahkan Ia melarang pelayan lain membantu Nurbaya.


Nurbaya berjalan ke arah meja makan. Di sana sudah duduk Arnel, Aira dan Satria.


“Permisi Nyonya, Tuan. Apakah kalian memanggil saya?” ucap Nurbaya.


“Ya, duduklah di sini. Kita sarapan bersama.” sahut Aira tersenyum sembari menepuk kursi di sampingnya.


Nurbaya duduk dan makan bersama mereka, tetapi Nurbaya merasa tak bebas dan segan mengambil sarapan, sampai Satria meletakkan ayam goreng, di atas piring nasi goreng Nurbaya.


“Makanlah ayam goreng kesukaanmu Kak. Makanlah yang banyak agar cepat besar.” ucap Satria tersenyum.

__ADS_1


“Eheheh. Iya, makasih Tuan Muda.” sahut Nurbaya tersenyum kikuk.


“Dasar bocah! Kau yang harus makan banyak, biar cepat besar! Malah nyuruh aku.” Nurbaya berdongkol dalam hati.


Ya, perkataan itu sering di dengar Satria dari Nurbaya, Aira dan Mona. “Makan yang banyak ya, biar cepat besar.”


**


Setelah makan, Pak Hamdan mengantarkan Satria dan Nurbaya ke sekolah masing-masing. Sepanjang perjalan Nurbaya dan Satria berbincang ringan sebentar.


“Kakak, lihat kan tadi? Aku sudah makan sendiri.” ucap Satria pamer.


“Terus?”


“Tadi aku juga mandi sendiri, Nenek ingin memandikanku. Tapi aku ingin mandi sendiri.” Satria berkata dengan tersenyum manis.


“Lalu?” sahut Nurbaya cuek.


“Lalu, aku akan juara nanti di kelas, agar Kakak menyukaiku.” ucap Satria dengan mata berbinar.


“Baiklah. Awas saja jika kau tidak juara.” Nurbaya menekan pelan kening Satria dengan telunjuknya, lalu mencubit kedua pipi gembul Satria.


**


Waktu terus berlalu.


“Kak! Kakaaaak....!!!” teriak Satria berlari. Ia berlari-lari kecil mencari Nurbaya.


“Belum, Tuan Muda. Mungkin sebentar lagi.” jawab Mona.


Satria pun menunggu di depan pintu kamar Nurbaya.


“Tuan Muda, bagaimana kalau Nenek Tuan Muda dan Bibi yang melihat rapornya dulu, Bibi penasaran.” bujuk Mona.


“Tidak bisa Bi, aku sudah janji pada Kakak. Saat aku terima rapor, aku harus melihatkan pertamakali sama Kakak. Setelah Kakak lihat, baru Nenek, Kakek dan Bibi bisa lihat.” tegas Satria.


Aira dan Mona hanya bisa mengalah dan sama-sama menunggu Nurbaya pulang. Namun, sudah bisa di perkirakan kalau Satria juara, karena anak laki-laki itu membawa piala dan hadiah pulang, serta pengawal juga telah menceritakan pada Aira, bahwa pengawal itu yang maju sebagai wali dari Tuan Muda Satria untuk mendampingi mengambil hadiah juara.


Tak lama, Nurbaya pun pulang dan melihat Aira, Mona dan Satria di dalam kamarnya.


“Kakak.” panggil Satria, dia langsung memberikan rapor pada Nurbaya.


“Lihat Kak, aku juara satu.” ucap Satria bangga.


“Oh.” sahut Nurbaya datar, lalu meletakkan tas sekolahnya.


“Aya!!” panggil Mona dengan sorot mata tajam.


Nurbaya melihat ke arah Satria yang berwajah lesu. Gadis itu segera menghampiri Satria, mengambil piala dan melihatnya, kemudian rapor Satria.

__ADS_1


“Wah, tak di sangka kau pintar juga!” ucap Nurbaya lalu mencubit ke dua pipi Satria.


Plak!!! Mona menepuk tangan Nurbaya.


“Apa yang kau lakukan?!” Mona memelotot.


“Adikku yang tampan, cup!” Nurbaya mengecup pipi Satria lembut.


“Cup!” Nurbaya mencium pipi sebelahnya lagi. “Ini hadiah untuk Adik kecil Kakak yang pintar dan menggemaskan.” ucap Nurbaya mengedipkan mata.


Satria langsung memegang kedua pipinya, lalu tersenyum malu-malu. “Makasih Kakak.” ucapnya pelan.


“Iya, kalau begitu, kamu ganti baju dulu ya, Kakak juga mau ganti baju.” ucap Nurbaya yang di balas anggukan oleh Satria.


Aira tersenyum, lalu menggendong cucunya keluar kamar, Mona juga mengikuti dari belakang, sedangkan Nurbaya langsung merebahkan tubuhnya di kasur, ada 4 nilai yang remedi dan harus diperbaiki.


**


Hari-hari terus berlalu.


Satria selalu mendapatkan nilai bagus, ia selalu juara bahkan juara umum.


Setiap menerima rapor, orang yang pertama kali melihat rapornya adalah Nurbaya, ia haus akan pujian dari Nurbaya.


“Wah, adik kecilku pintar sekali. Cup!” Nurbaya memujinya lalu memberikan kecupan di pipinya.


Satria sangat bahagia dengan pujian dan hadiah ciuman dari Nurbaya.


Hingga Ia kelas 6 SD, dimana ia telah memasuki fase Pubertas. Setiap hari ia mengintip Nurbaya, bahkan tanpa sengaja melihat Nurbaya tiduran dengan sangat sexsy, hanya memakai pakaian dalam.


Bukan maksud nya buruk, ia hanya merindukan wajah cantik itu, karena akhir-akhir ini Nurbaya sibuk kuliah, jarang di rumah.


Hingga malam itu, ia bermimpi basah dengan wajah Nurbaya. Semakin hari, Satria semakin terobsesi oleh Nurbaya dan semakin mengagumi gadis manis itu. Ia mulai meminta pengawal mengikuti Nurbaya diam-diam dan melapor padanya.


Mengikuti kemana saja Nurbaya bermain. Sampai ia mengetahui kalau ada beberapa laki-laki mendekati Nurbaya. Ia menghalau laki-laki itu dengan memberikan rumor kalau Nurbaya sudah menikah kepada laki-laki yang berniat mendekatinya.


Ia membeli dan membaca buku bagaimana cara mendekati perempuan, kiat-kiat meraih hati perempuan dan menjalin hubungan dengan perempuan. Ia membelikan beberapa hadiah seperti boneka, bunga dan coklat untuk Nurbaya.


Nurbaya tak pernah menolak, Ia selalu menerima hadiah dari Satria. “Makasih Adikku yang tampan dan imut.” Nurbaya mencubit kedua pipi gembul Satria, lalu menepuk-nepuk manja pantat Satria.


“Kakak, jangan tepuk pantat ku lagi. Aku sudah besar.” Satria protes.


“Benarkah?” Nurbaya berdiri, lalu memegang kepala Satria dan mengukurkan ke badannya. “Lihat! Kau baru se- dada Kakak.” ucap Nurbaya mengejek.


Yang di ejek sedang menahan perasaan aneh, wajah Satria merah padam. Nurbaya menekan wajah Satria ke dadanya.


“Ya ampun, Kau tambah imut saja dengan pipi merah begini! Kau malu ya, karena masih kecil?” ucap Nurbaya terkekeh. Lalu menepuk-nepuk pantat Satria lagi.


“Oh, Adikku yang menggemaskan dan tampan.” Nurbaya memeluk dan mencium pipi gembul Satria.

__ADS_1


Deg!!! Deg!!! Deg!!! Jantung Satria menari-nari, ia merasa bahagia di peluk, ia juga merasa malu dan ada beberapa perasaan aneh yang tak bisa ia mengerti.


***


__ADS_2