Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Sempurna


__ADS_3

“Wah, si Pelit sudah pulang!” Nurbaya tersenyum licik.


“Awas kau, bocah.” Ia sibuk mencari sesuatu.


Setelah Ia mendapatkan benda yang ia cari, Ia berjalan ke arah kamar Satria. Seperti biasa, Pemuda itu hanya menutup pintu saja tanpa menguncinya dari dalam.


Nurbaya membuka gagang pintu perlahan, mengedarkan pandangan.


“Aha! Hoki binggo!” ucapnya seraya menjentikkan jari.


“Bocah itu lagi mandi, ini kesempatan bagus.” ucapnya pelan sembari terkekeh.


Seperti biasa, Satria selalu meletakkan pakaian yang akan ia pakai di atas kasur. Nurbaya mendekati pakaian di ranjang itu, membubuhi baju itu dengan benda yang ia bawa.


“Ahahahaha, rasain bocah pelit!” Ketawa pelan dengan seringai jahat.


Ia merapikan baju itu lagi setelah membubuhinya, kemudian ia hendak mengambil celana Satria.


Ceklek! Bunyi pintu kamar mandi terbuka.


Nurbaya gelagapan, sampai-sampai benda untuk membubuhi pakaian itu terjatuh dan berguling di sudut bawah ranjang bagian atas, tepat dimana Satria sering duduk dan mengelap kakinya saat tidur.


“Ah, si*l, pakai jatuh segala lagi!” Nurbaya menggerutu. Ia segera bersembunyi di samping lemari.


Drap! Drap! Suara langkah kaki Satria semakin mendekat.


Pas dan sempurna, Nurbaya bersembunyi, Satria sampai di dekat pakaiannya. Pemuda itu menggosok rambutnya, lalu melepaskan handuk di rambut dan di pinggangnya.


Sempurna! Tubuhnya yang elok di pandang, benar-benar indah, seperti model profesional.


Nurbaya menutup wajahnya malu, namun masih merenggangkan jari tangan di bagian matanya. Kaget sih, tapi penasaran. Area terlarang pun terlihat.


Satria yang tak tahu apa-apa, dengan santai makai pakaiannya. Namun, sesaat saat ia selesai memakai celan* dal*m dan celana boxernya, Ia melihat bayangan Nurbaya dari cermin.


'Kakak? Ngapain dia di situ? Dia...' Wajah Satria merah padam. Malu.


Ia mencoba menahan perasaan malunya sekarang, masih berpura-pura tidak tau kalau Nurbaya ada di kamarnya.


'Sebenarnya kenapa Kakak bersembunyi begitu? Apa dia mau mengintip ku? Bukankah selama ini dia itu terang-terangan? Ini bukan gayanya,' kata Satria dalam hati.


'Bagaimana kalau aku sedikit menggodanya dulu.' Satria menyunggingkan senyuman usil.


Lalu Ia berpose semakin dibuat-buat sexsy.


'Cih, ngapain bocah itu, lama sekali pakai baju, apa dia memang senarsis ini biasanya?'


Satria memakai kaus oblongnya itu dengan perlahan, sembari memainkan perutnya, mengelus.


Bukannya terlihat sexsy, malah Nurbaya terkikik, Ia menutup mulutnya agar ketawanya tidak meledak keras.

__ADS_1


Kalau mengelus perut itu bukan pose sexsy Satria, tapi pose Ibu hamil atau pose Bapak-Bapak lagi Koruptor!


Satria menoleh akhirnya, setelah merasa yakin telah menggoda Nurbaya. “Kakak.”


“Eh.” sahut Nurbaya.


“Kakak ngapain di sini? Ngintipin aku, ya?”


“Eh, siapa yang mau ngintipin Anak kecil, tadinya aku berniat mau ngagetin kamu, malah udah ketahuan duluan. Ya udah, aku keluar saja deh.” jawab Nurbaya, lalu ia keluar kamar dengan cepat.


“Hm, aneh.” Satria menatap punggung Nurbaya yang berlalu.


Nurbaya terkekeh kecil, sembari berkata, “Yes, yes.”


Satria menyisir rambutnya, lalu berniat pergi keruangan kerja kakeknya, Arnel.


Tubuh Satria mulai bereaksi, sedikit gatal, ia masih menggaruk ringan, masih santai berjalan sampai di ruangan kerja Arnel.


“Ada apa, Kek?” tanyanya, masih dengan menggaruk-garuk punggung dan tubuhnya.


“Apa kamu ada masalah di sekolah?” tanya Arnel mulai mengintrogasi.


“Gak ada.” sahutnya datar, masih menggaruk.


“Kau yakin?” sorot mata Arnel mulai tajam.


“Sudah ya, Kek, badan ku gatal-gatal. Sepertinya aku salah sabun deh, tadi aku coba sabun baru.” Satria keluar meninggalkan Arnel dengan mulut ternganga.


Kakek itu baru saja ingin berdiskusi, namun cucunya itu cuek sekali. Aira berdiri dari duduknya, mengelus pundak Arnel.


“Lihat cucumu itu, apa menurutmu tindakan seperti itu menyebalkan? Dulu, kamu juga seperti itu, bahkan lebih.” ejek Aira pada suaminya.


Arnel menghembuskan nafasnya kasar. Lalu memilih duduk di samping istrinya yang sibuk melihat desain perhiasan.


“Sayang, sepertinya Satria jatuh cinta pada Nurbaya.” ucap Arnel.


“Tau darimana? Palingan juga cinta monyet, selama ini Satria kan dekat sama Nurbaya, palingan rasa cinta seorang adik pada Kakaknya.” jawab Aira.


“Begitulah perempuan.”


Aira menutup kertas yang ia lihat. “Maksudnya bagaimana? Begitulah perempuan, apa itu?” tanya Aira dengan tatapan tajam.


“Ya, tidak peka. Sama sepertimu dulu.”


“Loh, kok bawa-bawa aku? Siapa juga yang akan percaya sama orang yang selalu jahil dan jahat sama diriku, menyatakan cinta.” tandas Aira.


“Itulah yang aku lihat di mata Satria.”


Aira menatap Arnel, menajamkan pendengarannya.

__ADS_1


“Satria tidak pernah ingin dekat dengan siapapun, bersifat dingin dan cuek, tapi kalau bersama Nurbaya, dia selalu senang sejak dulu. Tadi, aku melihat rekaman, mereka berciuman di sekolah.”


“Hah?!” Aira tercengang. “Kenapa bisa?”


“Di rekaman itu, tampak Nurbaya berlari ke tengah lapangan basket, langsung memeluk dan mencium Satria. Di sana jelas, Satria tidak menolak sedikit pun, ia membalasnya.” jelas Arnel.


Arnel dan Aira saling tatap, lalu saling tersenyum kecil.


**


Satria masuk kembali ke dalam kamarnya. “Pasti sabunnya tidak cocok denganku!” Pemuda itu baru saja membeli sabun baru, rekomendasi dari temannya agar tubuh lebih wangi dan menggoda.


Satria duduk di tepi ranjang, mengambil handphone nya di atas meja. Hendak menghubungi temannya itu.


Tukh! Ia terpijak sesuatu.


Ia merunduk dan mengambil benda itu, Ia lihat dengan seksama. “Bedak?”


“Jangan-jangan....” Satria bergegas membuka bajunya. Memeriksa baju itu dan menggeletikkannya.


Benar saja, ada debu bedak yang bertebaran dari dalam baju itu. “Kau bermain-main denganku, Kak!”


Satria memencet tombol di kamarnya.


Tak lama, Bi Mona datang. “Ada yang bisa Bibi bantu, Tuan Muda.”


“Apakah Bibi tau kegunaan bedak ini?” tanya Satria dengan wajah sedih.


Bi Mona mengambil dan menelitinya, “Ada apa, Tuan Muda?”


“Kakak memberikan obat ini, katanya bagus untuk mengobati gatal di punggungku. Tapi sekarang punggungku bertambah gatal.” Memasang wajah paling sedih sedunia.


Bi Mona melihat punggung Satria. Punggung mulus bersih seperti pantat bayi itu, kini merah-merah bekas cakarannya sendiri yang menggaruk.


“Ya ampuunn, anak itu benar-benar kurang ajar. Tunggu sebentar ya, Bibi akan ambilkan obat dulu, sekalian mengajari Gadis nakal itu.” gerutu Bi Mona.


“Bibi jangan marahi Kakak ya, dia gak salah kok, dia gak sengaja, aku yang salah.” Masih memainkan dramanya.


Bi Mona keluar mencari Nurbaya.


Tak lama, Mona telah menarik telinga Nurbaya sampai masuk ke dalam kamar Satria. Senyuman penuh kemenangan di tunjukkan Satria padanya.


“Sekarang kau obati Tuan Muda dengan benar.” perintah Bi Mona. Lalu, mengunci pintu kamar dari luar.


“Bu, jangan di kunci!” teriak Nurbaya.


“Kalau tidak dikunci, kau akan kabur! Obati dulu Tuan Muda dengan benar.” balas Mona dengan teriakan juga.


Satria berdiri dan mendekat, “Sekarang tinggal kita berdua di sini, apa Kakak ingin melakukan sesuatu?” tanya Satria dengan gelagat aneh.

__ADS_1


__ADS_2