Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Ethan


__ADS_3

Dua minggu telah berlalu, Satria telah menyelesaikan ujian semester nya. Hari ini mereka berkemas hendak pulang ke Indonesia. Bayi yang berumur beberapa Minggu itu tampak sangat menggemaskan, pipinya yang gembung berisi serta badannya yang padat.


Mereka pulang dengan jet pribadi milik Damrah Groub.


Perjalanan mereka memakan waktu yang cukup lama. Kurang lebih 16 jam. Kepulangan mereka disambut antusias Arnel dan Aira, mereka telah menunggu di bandara. Mereka berdua memeluk Satria dan Nurbaya bergantian. Aira dan Arnel terhenti cukup lama menatap bayi yang menggemaskan.


Aira dan Arnel mengecup pipi bayi itu, lalu menggendongnya. Tampak rona bahagia di wajah mereka. Namun, ada sedikit rasa kecewa terbesit bagi Satria dan Nurbaya. Aira kembali memberikan bayi itu pada Nurbaya, kemudian memeluk Melani.


“Mari.” ucapnya setelah melepaskan pelukannya pada Melani.


Arnel telah menghubungi keluarga Caksono, Ayah dan Ibu Erian. Namun, kedua orang itu tak bisa menyambut mereka karena harus menyelesaikan urusan mendadak. Nanti malam, mereka berjanji akan segera datang ke rumah keluarga Damrah.


Melani memilih bersandar di sandaran kursi mobil, di sampingnya ada Nurbaya dan Aira yang memainkan wajah bayi mungilnya. Ia memejamkan matanya.


Tak lama mereka pun sampai di rumah.


Kamar tamu telah di siapkan oleh pelayan untuk Melani dan bayinya. Wanita itu langsung memilih tidur. Aira menatap punggung Melani, sedikit terkejut melihat Melani yang tak mempedulikan bayinya, menyerahkan sepenuhnya pada Nurbaya sejak tadi.


**

__ADS_1


Malam hari,


Orangtua Erian datang bertamu, ia memeluk Melani, lalu memeluk cucu mereka, menciumi bayi itu dengan penuh cinta.


“Siapa namanya, Nak?” tanya Ibu Erian pada Melani.


“Aku belum memiliki nama untuknya.” sahut Melani.


Ibu Erian menatap Melani dalam, “Apa kalian tak pernah mengobrol tentang namanya saat Erian di Inggris?” tanyanya lembut.


Melani tersenyum kecil. “Pernah.”


“Panggil saja, Mama. Erian pasti senang mendengarnya.”


“Iya, Ma.” Ibu Erian memeluk Melani saat mendengar itu.


“Apa kamu mau tinggal di rumah dengan kami?” tanya Ibu Erian penuh harap. Melani menggeleng.


Ibu Erian tersenyum, walau hatinya sedikit sedih, namun ia paham akan psikis Melani sekarang.

__ADS_1


Setelah bertamu, orangtua Erian memutuskan pulang, ingin rasanya mereka membawa Melani dan anaknya ke rumah mereka, namun Melani menolak.


**


Keesokan harinya, Melani dan Nurbaya datang kerumah orangtua Erian bersama dua orang pengawal. Sedangkan Satria telah pergi ke kantor bersama Arnel, memantau beberapa anak perusahaan.


Melani dan Nurbaya yang sedang menggendong bayi, kini telah berdiri di makan Erian, Melani tak menangis, ia hanya diam saja. Tapi tidak dengan hatinya.


Cukup lama mereka di sana, kemudian kembali ke rumah.


**


Hari-hari terus berlalu, Melani lebih sering diam, tak bicara, lebih sering melamun, anaknya hanya Nurbaya dan Aira yang mengurus. Semua pelayan melayani Melani dengan baik, membuat makanan sehat agar air susunya bisa keluar.


Hari ini, ia tiba-tiba memeluk bayinya itu, lalu berkata. “Namamu Ethan Xavier. Ayahmu suka dengan nama Ethan, walaupun aku ingin memanggilmu Briyan, agar mirip dengan nama ayahmu. Namun, dia suka dengan nama Ethan. Jadi, mulai hari ini, namamu Ethan.” Lalu, ia mengecup kening putranya itu.


Ia buka kancing bajunya, Ia tempelkan mulut bayi itu di dadanya, sedikit ia pencet, bayi itu menghisap dengan agresif. Pertama kali bayi itu menghisap, Melani sempat menitikkan air mata karena perih, perlahan perih itu mulai menghilang.


Aira dan Nurbaya sampai terpana melihat pemandangan itu, masih tak percaya Melani mulai mempedulikan putranya. Aira menggenggam tangan Nurbaya, mereka saling tatap dan melemparkan senyum bahagia.

__ADS_1


***


__ADS_2