Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Bayi Laki-laki (Tamat)


__ADS_3

“Selamat Sayang, akhirnya yang ditunggu-tunggu selama ini terwujud juga.” seru Bi Mona bahagia.


“Tenapa Nyenyek cenang caat Mama cakit? (Kenapa Nenek senang saat Mama sakit?)” Ethan dan Valdo bertanya polos.


“Karena Mama hamil.” sahut Ken.


“Mil ntu apa, Bang? (Hamil itu apa Bang?)”


“Hamil itu ada adik bayi dalam perut Mama.” jelas Ken.


“Wah, ada dedek bayi!” Mereka berdua langsung memeluk Nurbaya, meraba-raba perut datar Nurbaya.


“Adiknya di dayam peyut Mama gak ada cuala, gak geyak, Ma? (Adiknya tidak bergerak dan bersuara dalam perut Mama)”


“Hm, kalau gerak, tunggu besar dulu, sekarang masih sangat kecil, jadi belum bisa gerak dan bersuara.” jelas Nurbaya. Kedua bocah laki-laki itu mengangguk.


“Sekarang Mama mau tidur dulu, kalian berdua main sama Abang Ken dulu, ya.”


**


Morning sickness adalah kegiatan baru Nurbaya di pagi hari. Penciumannya sensitif luar biasa, bahkan dengan jarak yang sangat jauh, ia bisa mencium aroma makanan yang ia suka dan tidak disukainya.


“Ma, Ken mau roti selai coklat bukan kacang.” rengek Ken.


“Dedek duda mau ceyai colat (Adek juga mau selai colat)” pinta Valdo.


“Dedek ceyai cobeyi, Ma. (Dedek selai strawberry Ma)” pinta Ethan.


Nurbaya mengoles roti dengan selai pilihan tiga bocah laki-laki itu. Satria juga tidak mau kalah, Ia meminta roti bakar dan susu vanilla hangat.


“Makasih, Sayangku.” Mengecup pipi Nurbaya.


Entah kenapa sejak hamil, Nurbaya malas dicium, enggan rasanya, bahkan Satria sering berpuasa gak dapat jatah karena mood Nurbaya buruk.


“Aku harus membeli lipshanitizer di apotik jika keluar dengan Ibu.” gumam Nurbaya sendiri.


“Lipshanitizer? Apa itu? Untuk apa?”


“Untuk dioleskan di bibir Papa, agar tak menganggu Mama lagi.” sahut Ken, nongol dicelah tubuh mereka berdua.


Hah?! Satria melongo. Benar-benar susah dengan Ibu hamil, gak bisa di goda, susah dibujuk, banyak maunya, pemarah dan lainnya.


Uwek! uwek! Lagi dan lagi, Nurbaya muntah. Satria memijat punggungnya. Ken langsung mengambil air putih dan memberikannya kepada Nurbaya. Setelah muntah, Nurbaya duduk.


Satria memijat-mijat bahu dan tengkuk Nurbaya, Ken memijat tangan Nurbaya.


“Dedek cayang Mama,” Valdo dan Ethan langsung membantu memijat juga.


Suasana keluarga kecil yang bahagia.


**


Malam hari, Satria telah membujuk Nurbaya, ia sudah cukup lama berpuasa. Ia ciumi wajah istrinya itu, ia raba dan belai penuh kasih. Perlahan ia lepas semua pakaian Nurbaya sembari menciuminya.


Ia ciumi pinggul, pinggang dan paha, Cup! Cup! Cup! Ia puaskan menciumi istrinya yang labil perasaan itu. Mumpung ada kesempatan, pikir Satria.


Prut! Prut! Pruuuuuuuuutttt!!! Nurbaya terkentut saat Satria menciumi panggul yang dekat dengan pantatnya.


Satria langsung menggembungkan kedua pipinya. Mau marah, tapi gak mungkin. Kesal? Banget!

__ADS_1


Nurbaya tersenyum kecil, lalu menggoda Satria, memulai menciuminya. Kesempatan emas itu tak ditolak ataupun diundur Satria, mumpung ibu hamil itu lagi bagus perasaannya, ia merilekskan tubuhnya mencapai surga cinta, bermandikan peluh manja.


**


Semakin hari, Nurbaya semakin lemah, ia tak bisa makan apapun, selalu memuntahkannya, gak siang, gak malam. Asal sesuatu itu tak ia sukai, ia akan muntah, bahkan ia meludah tiap saat.


Ken yang biasanya mandi dan merengek ini itu tak lagi begitu, Ia sudah mulai menerima jika Bi Mona bisa membantu urusannya. Berharap sang Mama segera sembuh kembali.


“Ma, dedek bayinya gak bisa keluarin sekarang?” Untuk pertama kalinya Ken bertanya polos dan tak pintar.


Bukan hanya Nurbaya yang melongo, Satria juga. “Kenapa Sayang?” tanya Nurbaya.


“Soalnya Mama sakit terus, kita gak bisa main.” Sisi egois Ken akhirnya muncul juga. Nurbaya tersenyum mendengarnya.


“Kalau adiknya keluar sekarang lebih sakit lagi,” Pura-pura sedih.


“Apakah nanti kalau adiknya keluar sakit, Ma?” Ken membelai wajah Nurbaya. Satria mendekat, mengambil tangan yang menempel di pipi itu.


Ken menatap tajam perbuatan Satria. Nurbaya malah geleng-geleng. Ken dan Satria sering berebut perhatian dan manja-manja dengannya.


“Kekanak-kanakan,” Terkekeh kecil.


***


Beberapa bulan kemudian.


Perut Nurbaya sudah membesar, Ia sudah mulai kesusahan bergerak, bahkan kakinya sudah mulai membengkak.


“Ken bantu ya, Ma.” Ken memapah Nurbaya yang sedang berjalan hendak mengambil minuman.


“Ambilkan Mama minum, ya.” Mengelus lembut kepala Ken.


“Ma, atit nget ya? (Ma, sakit banget, ya?)” tanya Valdo melirik perut besar Nurbaya.


Waaaahh! Valdo terlonjak.


“Abang, Ntan! Nca geyak, ndup. (Abang, Ethan, perut Mama bisa bergerak)” ucapnya berteriak dengan nafas terputus-putus karena senang.


Ethan yang sedang berpelukan dengan Bi Mona, langsung meloncat turun, mendekat ke arah Nurbaya, kemudian Ken juga dengan membawa segelas airnya.


Nurbaya meminum air yang di bawa Ken. Lalu, meletakkan tangan Ken dan Ethan juga. Mata dua anak laki-laki itu membulat sempurna, wajah kaget dan bahagianya terlihat jelas.


“Adik cantik,” Ken terus meraba perut Nurbaya, kemudian menciumnya. “Kalau sudah keluar, adik cantik main sama Abang ya, akan Abang gendong kemanapun.” Ken berbicara pada perut besar Nurbaya dengan tersenyum.


Ethan dan Valdo menatap Ken, kemudian melakukan hal yang sama, meraba, bergumam dan mencium perut besar Nurbaya.


Tiba-tiba perut Nurbaya sakit, ia coba tahan walau peluhnya mulai bercucuran. Ken yang menyadari raut wajah Nurbaya terlihat aneh, langsung meraba kening Nurbaya.


Sakit, sakit yang tak tertahan. Perutnya sangat mules, Nurbaya memegang perutnya. Tiga bocah itu ribut, memanggil siapa saja. Satria dan Bi Mona yang sibuk di dapur langsung pontang lanting berlari ke arah mereka.


“Ada apa Sa....” Satria langsung menggendong Nurbaya ke dalam mobil yang diikuti oleh Ruth pengawal pribadinya yang baru, pemberian Yuhen.


“Nek, Mama gak kenapa-kenapa, 'kan? Ken sama adik-adik hanya mencium perut Mama tadi.” Ken sedih, menangis kemudian Valdo dan Ethan juga menangis mengikuti Ken.


“Sudah, sudah, jangan menangis. Kita berdo'a saja, ya. Semoga Mama melahirkan adiknya dengan selamat.”


“Adik mau keluar, Nek?” Seketika tangisnya mereda, matanya nyalang sempurna, berbinar.


“Hu'um.” Bi Mona tersenyum mengelus tiga putra kecil itu.

__ADS_1


**


“Nek, kenapa Mama dan Papa belum pulang? Kapan mereka pulang, kami rindu Mama.”


“Nanti setelah adiknya lahir. Mama juga pasti rinduin kalian. Abang dan Dedek gak boleh rewel, apalagi gangguin Mam, tunggu dirumah aja, kalau gak nanti Mama sedih.” bujuk Bi Mona. Tiga bocah laki-laki itu mengangguk patuh.


____


Tiga hari kemudian, Bi Mona sibuk merapikan kamar, kasur anak kecil dan lainnya.


“Ini untuk apa Nek?” tanya Ken yang dikawal dua bocah disampingnya, siapa lagi kalau bukan Ethan dan Valdo.


“Adiknya mau pulang.” sahut Bi Mona tersenyum.


“Lang? (Adik pulang)” tanya Valdo. Bi Mona mengangguk.


______


Satria dan Nurbaya sampai di rumah, tiga bocah laki-laki itu dengan antusias mendekat, hendak melihat adik mereka yang cantik.


Satria meletakkan tubuh bayi mungil di tempat tidurnya, tak lama bayi itu merengek kecil.


“Sepertinya, popoknya basah deh, sini Ibu lihat.” Bi Mona membuka badung bayi itu.


Srottttttt!!! Ethan, Valdo, Ken, Satria di semprot oleh bayi mungil itu. Sedangkan Bi Mona tak kena cipratan pipis miring itu.


“Adiknya gak cantik,” ucap Ken dingin.


Pfft!! Satria terkikik. Pertama kalinya ia melihat wajah Ken pasrah. Walaupun ia juga kena pipis, namun ia senang melihat wajah putranya itu, ‘Sepertinya mereka semua kesal akan berebut perhatian dan berbagi cinta dari sang Mama.’


“Dik ntak ntik!” Valdo dan Ethan kompak meniru Ken juga.


“....” Ken diam menatap benda kecil adiknya, dengan benda itu ia di semprot, benda yang sama dengan miliknya. Artinya dia tidak memiliki adik perempuan yang mereka inginkan, tetapi adik laki-laki, sama seperti Valdo dan Ethan.


...__TAMAT__...


Nb: Hallo Satria Lover. Alhamdulillah ceritanya telah selesai. Bagi yang kurang paham, kenapa sih endingnya begini? Ada nama Yuhen, Rido, Humaira dan lainnya? Konflik apa sih, kenapa sampai bunuh-bunuhan?


Jawaban : Kalian bisa baca cerita pertama saya. Disana, ada kisah cinta Kakek Satria, Arnel Harviz Damrah dan Aira. Penjelasan selanjutnya ada di new novel, masih perencanaan!


🌷🌷🌷 Rencana 🌷🌷🌷


Saya ingin membuat cerita baru tentang anak-anak Satria dan Nurbaya, judulnya My Brothers Overprotektif, menceritakan tentang Ken, Valdo, Ethan dan dua orang anak Satria dengan Nurbaya. Namun, saya butuh referensi serta nama-nama baru, mungkin saya akan istirahat sejenak dulu, membaca cerita yang berkaitan tentang kebucinan sang Kakak, sembari mencari ide yang tertuang di manapun, di sumber manapun.


🌹🌹🌹


Terimakasih saya ucapkan kepada Satria Lovers dimanapun kalian berada, semoga sehat selalu dan murah rezekinya, tetap semangat ya!💓


Semoga kalian suka dengan endingnya, terhibur, ambil positifnya, bintang negatifnya.💓 Jadilah pembaca yang bijak🌹


Makasih terspesial untuk Satria Lover telah mendukung karya saya, memberikan hadiah, like, vote dan komentar positifnya sehingga saya bertambah semangat.


Terimakasih tercinta untuk para penulis yang baik hati atas dukungannya💓🌹 Love u all💓


*** Promo ***


Cerita saya sambung bersambung ya, kalian bisa kepoin novel saya yang lainnya. Oh ya, saya juga rekomendasikan cerita saya sendiri yang gak ada kaitannya dengan cerita Satria....


Judulnya Suami Dadakan (Janji masa kecil)

__ADS_1


Semoga saya sehat selalu, agar kita bisa berjumpa lagi di new novel💓


Bye bye... Mohon maaf atas salah dan khilaf dalam menulis, salam saya author Uni Rozh🙏 Assalamu'alaikum


__ADS_2